Remaja ‘Pede’ Geluti Profesi Berbasis Tradisi, Masa Depan Dunia Ada di Tangan Anak Muda

Ketua KNPI Kabupaten Purwakarta, Asep Supriatna

PURWAKARTA-Tak hanya Hari Ibu pada 22 Desember atau Hari Anak Nasional pada 23 Juli, remaja pun memiliki hari peringatan, yakni Hari Remaja Internasional yang diperingati pada 12 Agustus setiap tahunnya.

Hari Remaja Internasional pertama kali ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1998. Peringatan perdananya baru terselenggara pada 12 Agustus 2000.

“Hari Remaja Internasional tahun ini mengusung tema Keterlibatan Remaja untuk Aksi Global. Seperti yang kita ketahui saat ini pandemi Covid-19 sedang melanda dunia. Pandemi ini juga menyadarkan kita semua, bahwa kita harus kreatif dan kerja keras,” ujar Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Purwakarta, Asep Supriatna di Purwakarta, Rabu (12/8).

Baca Juga: Forum Remaja Palang Merah Indonesia Bantu Yatim Piatu Pengidap HIV/AIDS

Menurutnya, citra anak muda yang well-educated, well-informed, berpikir masa depan dan berpikir positif memberikan optimisme bahwa masa depan dunia ada di tangan anak muda.

“Kembali ke akar tradisi kita. Remaja jangan malu menggeluti profesi yang basisnya tradisi. Seperti menjadi petani atau nelayan misalnya, atau kembali berkebun,” ucap Asep.

Dengan profesi-profesi itu, sambungnya, bangsa ini kuat dan terhindar dari resesi yang parah sebagai dampak pandemi global Covid-19.

“Dengan kata lain, remaja kita alam pikirnya boleh melangit, tapi pijakannya harus tetap di bumi,” ucapnya.

Tak hanya itu, lanjut Asep, bahwa Hari Remaja Internasional ini menjadi penting karena peran remaja semakin hari semakin diperlukan. Sebab, peradaban modern ditentukan pengetahuan dan informasi.

“Pengetahuan dan informasi merupakan bidang yang identik dengan dunia anak muda. Pengetahuan yang menerabas batas sumber pengetahuan hanya mungkin dilakukan dengan cara mengintegrasikannya dengan teknologi informasi,” ujarnya.

Integrasi pengetahuan dan informasi telah menghasilkan revolusi teknologi informasi, dan sejarah membuktikan bahwa anak-anak muda di usia belia berada di balik revolusi itu.

“Kemajuan teknologi mempersatukan individu di seluruh belahan dunia, menjadi modal penting membangun perdamaian dunia,” ucapnya.(add/ysp)