Tajug Gede Cilodong Mampu Tampung 4.000 Jemaah

TAJUG CILODONG: Dari arsitektur masjid yang disebut Tajug Gede Cilondong, menjadi salahsatu ikon Kabupaten Purwakarta. Masjid yang didirikan di Desa Cilodong itu menjadi masjid terbesar di Purwakarta. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

Jadi Masjid Terbesar

PURWAKARTA-Keberadaan Tajug Gede Cilodong semakin dikenal luas dan mulai menjadi ikon Kabupaten Purwakarta. Tajug memiliki arti atap berbentuk piramidal atau limas bujur sangkar, sesuai bentuk atap bangunannya. Sementara Gede bermakna besar. Ada pun Cilodong merujuk pada nama desa Tajug Gede ini berdiri kokoh.

Tajug Gede Cilodong ini terletak di sebuah area seluas 10 hektare, di mana satu hektare digunakan untuk masjid dan sisanya untuk fasilitas penunjang.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Tajug Gede Cilodong H Dedi Mulyadi menjelaskan, tentang filosofi di balik pembangunan masjid tersebut. Menurut dia, nama daerah dipilih menjadi nama masjid sebagai penegas unsur kultur lokal.

Dirinya ingin mengikuti kebiasaan para kiai sepuh Nahdlatul Ulama. Mereka memiliki kebiasaan menamai pesantren dengan nama daerah.

“Nama masjid ini tidak meninggalkan identitas. Karena terletak di Cilodong, ya sudah namanya Cilodong saja. Kiai memberikan nama untuk pesantrennya kan selalu menggunakan nama daerah. Ada Tebu Ireng, ada Lirboyo, kalau di Purwakarta ada Cipulus, Cikeris dan lainnya,” kata Dedi, saat ditemui di kantornya di Jalan Raya Bungursari, Cilodong, Kecamatan Bungursari, Purwakarta, Selasa (18/12).

Selain itu, bagian dalam masjid dihiasi berbagai ukiran khas Jawa Barat. Ukiran tersebut terbuat dari kayu jati pilihan dan sengaja didatangkan dari Gunung Jati Cirebon. Hal ini mengingat penyebaran Islam pertama kali terjadi di daerah timur Jawa Barat tersebut. Secara pribadi, Dedi menerima amanah sebagai Ketua DKM, sebagai pengamalan dari amanat Sunan Gunung Jati.

“Kanjeng Syaikh (Sunan Gunung Jati) di akhir hidupnya mengatakan titip tajug dan fakir miskin. Ini terus terang saja menjadi spirit saya. Karena itu, selain untuk kegiatan religi, tajug ini ke depan akan digunakan untuk pemberdayaan masyarakat miskin. Sisa lahan 9 hektare sebentar lagi dibangun area urban farming dan kawasan agrowisata. Saya kira, ini positif ya,” katanya.

BACA JUGA:  PCNU Minta Usut Pembentangan Diduga Bendera HTI

Berdasarkan pantauan dan keterangan Dedi, tajug tersebut memiliki dua lantai. Dia mengklaim tajug itu mampu menampung 4 ribu jemaah. Sehingga, dia berani mengatakan bahwa Tajug Gede Cilodong, merupakan masjid terbesar di Purwakarta.

“Lantai satu bisa menampung dua ribu jemaah. Lantai dua juga bisa masuk dua ribu jemaah. Tajug Gede ini menjadi masjid terbesar di Purwakarta,” ujarnya.

Terdapat 9 bedug yang siap menjadi penanda waktu masuk shalat di tajug tersebut. Selain itu, 9 muadzin akan mengumandangkan adzan jika waktu shalat sudah tiba.

“Kalau di Masjid Cipta Rasa Cirebon kan ada 7. Nah, di Tajug Gede ini ada 9. Angka itu kan angka tertinggi. Saya berangkat dari kosmologi Wali Sembilan atau Wali Songo. Baik, khatib, muadzin dan imam di sini menggunakan pakaian khas Sunda,” ucapnya.

Ikhtiar Dedi sebagai Ketua DKM, tidak berhenti sampai di situ. Selain mengusahakan kesehatan bathin warga masyarakat, dia juga menginginkan terciptanya kesehatan lahir. Sehingga, fasilitas olahraga akan dibangun di sekitar masjid tersebut.

“Sekaligus asramanya kita bangun juga. Anak-anak yang latihan itu, nanti setiap maghrib sampai isya mengaji di sini,” katanya.(add/dan)