Rajungan Langka, Ratusan Buruh Kupas Dirumahkan

Pasokan rajungan setiap hari semakin sulit. Kondisi tersebut membuat ratusan buruh kupas rajungan terpaksa dirumahkan. Dari produksi normal tiga kuintal, kini satu home industry hanya mampu memproduksi 70 kilogram. ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Sejumlah pengusaha rajungan kupas dari Desa Waruduwur mengeluhkan minimnya pasokan rajungan selama empat bulan terakhir. Kondisi tersebut, selain mempengaruhi produktivitas para pengusaha, otomatis membuat para pengusaha terpaksa melakukan pengurangan karyawan.

Selain kehilangan pasokan dari nelayan lokal, para pengusaha rajungan kupas juga tidak bisa mengandalkan pasokan rajungan dari luar kota. Pasalnya, para pengusaha harus berebut dengan pengusaha lainnya yang juga memproduksi rajungan kupas.

Salah satu pengusaha rajungan kupas asal Desa Wauruduwur, Dudi Suhaedi kepada Radar menuturkan, sebelum masuk musim paceklik rajungan, di tempat usahanya saja paling tidak bisa mempekerjakan sedikitnya 50 sampai 60 karyawan kupas yang dibayar upah harian namun saat ini. Dia terpaksa merumahkan sebagian besar karyawannya karena ketiadaan bahan baku rajungan.

“Home industry seperti saya ini punya karyawan borongan. Paling tidak 50 sampai 60 orang. Sekarang paling yang masih aktif tinggal 20 orang, yang lain dirumahkan karena tidak ada barang. Rajungannya sedang sulit,” ujarnya.

Menurutnya, jika saat normal paling tidak ia bisa memproduksi sampai tiga kuintal rajungan kupas. Namun saat ini paling maksimal ia hanya mampu melakukan produksi sebanyak 70 kilogram saja perharinya.

“Itupun sudah bagus. Sudah bisa produksi 70 kilogram perhari. Kalau pesanan sih berapa saja siap nampung. Tapi kendalanya barangnya kosong. Kalau saya yang paling sedih ya karena terpaksa banyak warga yang nganggur. Ekonominya pasti terganggu, jika usaha kecil seperti saya saja yang dirumahkan lebih dari 40 orang, maka kalau dijumlahkan, mungkin jumlahnya ratusan yang diliburkan. Apalagi kalau se-Cirebon, jumlahnya pasti tambah banyak,” imbuhnya.

Namun demikian, Dudi sendiri tidak mengetahui penyebab pasti kelangkaan rajungan tersebut. Pasalnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Cirebon, namun terjadi juga di perairan lain seperti Kalimantan dan Sumatera.

“Kan banyak juga nelayan sini yang sampai ke sana nyari rajungannya. Di sana juga sama tidak ada. Kalaupun ada ya, jumlahnya tidak banyak. Sekarang mayoritas nelayan sini nyari rajungannya ke Jakarta. Di sini sudah tidak bisa diandalkan,” jelasnya.

Sementara itu, Idris nelayan Desa Mundu Pesisir yang ditemui Radar Cirebon mengatakan, tangkapan rajungan setiap harinya selalu menurun. Makanya, saat ini nelayan setempat mengakali dengan menanam kerang hijau untuk menambah penghasilan.

“Kalau hanya mengandalkan dari rajungan, kita tidak bisa makan. Sebagian besar kita sudah jadi petani kerang hijau. Untuk sekarang kalau tetap di rajungan berat. Kalau nanti sudah ramai lagi, kita ke rajungan lagi,” ungkapnya. (dri)