Banyak Pabrik, Petani Kehilangan Pekerja

JEMUR PADI: Tumbuhnya industeri di Kabupaten Subang, membuat persoalan lain. Sejumlah pemilik sawah kehilangan pekerja tetatpnya. Mereka menggarap lahannya sendiri. INDRAWAN/PASUNDAN EKSPRES

DAUWAN–Banyak berdiri pabrik di Kabupaten Subang rupanya berpengaruh besar terhadap kehidupan para petani di Cisampih Dawuan, Kabupaten Subang.

Selain pengaruh terhadap lahan tani yang semakin terbatas, karena di bangun pabrik. Juga polusi dan limbah yang di hasilkan pabrik juga sedikit banyak mempengaruhi kualitas air yang mengaliri sawah-sawah mereka.

Tidak terkecuali persoalan ketersediaan tenaga kerja untuk menggarap sawah, hal demikian. diungkapkan H. Kusep yang ditemui oleh Pasundan Ekspres, saat sedang sibuk menjemur padi hasil panennya.

“Tenaga kerja tani sekarang sulit, makanya saya kerjakan sendiri, adapun upahnya mahal, karena istri-istrinya pada kerja di pabrik.” Jelasnya.

Industeri sekala besar seperti pabrik yang banyak di bangun di Kabupaten Subang, rupanya menyisakan kepedihan diantara para petani di Kabupaten Subang.

Ada pengeluaran tambahan yang harus mereka bayarkan, selain pupuk dan obat untuk tanaman padi mereka, yaitu upah para pekerja tani.

Sejak jalan Tol Cipali beroperasi, Subang memang kebanjiran permintaan lahan industri, roda perekonomian di Kabupaten Subang sendiri khususnya daerah yang ada di sekitar jalan tol Cipali bergerak dinamis.

Para investor mempertimbangkan mudahnya akses karena mampu mempercepat distribusi produksi-produksi di pabrik mereka, tak heran kawasan Subang bagian barat, seperti Kalijati, Purwadadi, dan sekitarnya mulai banyak berdiri pabrik-pabrik baru, dan menyerap banyak tenaga kerja.

H. Kusep juga menegaskan, lantaran kesulitan mencari pekerja tani di sawahnya, dia terpaksa mengerjakan sendiri sawahnya, padahal secara usia dia sudah tidak muda lagi.

“Ya mau bagaimana lagi, meski pekerjaan di sawah telat selesai, tapi dilakoni sedikit demi sedikit oleh sendiri. Pekerja yang biasanya nemenin saya di sawah, istrinya sudah kerja di pabrik, jadi dia tidak kerja lagi sama saya.” Tegasnya.

Meski musim sudah beralih, dari musim kemarau ke musim penghujan, H. Kusep juga mengeluhkan persoalan pembagian air di area persawahan Cisampih-Dawuan.

Pembagian air yang di atur oleh mitra cai, dinilainya buruk, tidak sama dengan yang dikerjakan saat masih oleh waker. Menurutnya sebab dari buruknya mitra cai mengatur pembagian air, adalah karena rata-rata mereka bukan dari PNS Pengairan.

“Mereka kan tenaga sukwan, ada sebagian yang kontrak, kerjanya jadi asal-asalan. Mungkin karena gajinya sedikit. Kalau sama PNS Pengairan dikerjakan serius.” Ujar Haji Kesep.

Satu sisi tumbuh dan berkembangnya di Subang kawasan industri, memang memberi dampak yang baik untuk pertumbuhan ekonomi, namun petani yang kehilangan sawah dan pekerjanya, seperti H. Kusep menjadi persoalan dan juga harus diperhatikan oleh Pemda Subang.(idr/dan)