Dinkes Temukan 123 Kasus Baru HIV/AIDS

dr Maxi, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Subang

Lakukan Penyuluhan untuk Pencegahan

SUBANG– Dinas Kesehatan Kabupaten Subang menemukan 123 kasus baru HIV/AIDS sepanjang tahun 2018. Pihaknya terus melakukan penyuluhun sebagai langkah pencegahan.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Subang dr Maxi mengatakan sepanjang bulan Januari hingga Juni 2018 ada 123 kasus baru HIV/AIDS.” Kita terus gencar melakukan penyuluhan untuk pencegahan . kita imbau kepada masyarakat agar melakukan seks dengan aman dan juga selalu memakai pengaman,” ucapnya kepada Pasundan ekspres.

Diungkapkan Maxi, dari tahun 1999 hingga tahun 2018 ada 1766 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Subang dimana sebanyak 564 diantaranya meninggal dunia. Jika dilihat dari kelompokan dalam resiko penularannya 77 persen dari hubungan hetroseksual (laki-laki dan perempuan) dan 23 persen dari hubungan homoseksual (laki-laki dan laki laki).

“Selain peran pemerintah dn tokoh agama, peran keluarga sangat penting untuk meminimalisir penularan HIV/AIDS,” ungkapnya.

Dijelaskan Maxi, untuk sebaran HIV/AIDS dari tahun 1999 hingga tahun 2018 dari kalangan Wanita Pekerja Sexual (WPS) sebanyak 545 orang, Ibu Rumah Tangga 347 orang, Wiraswasta 229 orang, Narapidana 68 orang dan PNS ada 14 orang.

“Penyebaran melalui hubungan seks yang tidak aman dan jarum suntik. Untuk itu masyarakat diimbau agar waspada,” katanya.

Adapaun untuk gejala penderita HIV/AIDS, dijelaskan Maxi tidak bisa kasat mata dibedakan dengan orang normal namun jika sudah memasuki stadium AIDS berat badan langsung turun dan ketahanan tubuh menjadi menurun. Gejala fisik lainya berupa batuk yang tidak kunjung sembuh, sariawan yang tidak kunjung sembuh, diare selama 3 bulan dan panas hilang timbul.

“Tidak bisa diketahui secara kasat mata ketika penderita masih tahap HIV namun jika stadium aids maka bisa terlihat gejalanya,” ujarnya.

Menurut Maxi, penderita HIV/AIDS secara terori jika tidak diobati dengan obat Anti Retro Viral (ARV) maka penderita hanya bisa bertahan selama 2 tahun saja jika sudah masuk kategori AIDS.”Jika terus memakai obat maka memang bisa bertahun secara terus menerus,” katanya.

Sementara itu, Kasi Rehabilitasi Sosial dan Napza Dedi Ruhaendi mengatakan keberadaan lokalisiasi di Kabupaten Subang tidak bisa dipungkiri keberadaan Kebanyakam mereka melakukan pekerjaan itu karena faktor ekonomi.

“Seperti kampung prostitusi, mereka disana harus di berikan pemahaman agama yang kuat dan juga harus di karyakan dengan wirausaha,” tukasnya.(ygo/ded)

• Penderita HIV/AIDS dari tahun 1999 hingga tahun 2018 : 1766 kasus

Wanita PSK 545 orang, Ibu Rumah Tangga 347 orang, Buruh 249 orang, Wiraswasta 229 orang, Narapidana 68 orang, Anak- anak 58 orang, Waria 56 orang, Supir 38 orang, Petani 37 orang, TKI 21 orang, PNS 14 orang, Pelajar 10 orang.
• Januari sampai Juni 2018 : 123 kasus
• 77 persen heteroseksual dan 23 persen dari homoseks
• Meninggal dunia dari tahun 1999 hingga tahun 2018: 564 orang