Dinsos Siapkan Terobosan Minimalisir Kampung Cinta

Kepala Dinas Sosial Subang Drs. H. Deden Hendriana M.Pd.

SUBANG-Dinas Sosial Kabupaten Subang, akan berkordinasi dengan perusahaan untuk memberikan pekerjaan kepada pekerja seks komersial (PSK). Keberadaan ‘Kampung Cinta’ yang merupakan lokalisasi tersembunyi, disinyalir sudah ada sejak belasan tahun dan belum bisa dihilangkan.

Kepala Dinas Sosial Subang Drs. H. Deden Hendriana M.Pd mengaku berdasarkan informasi yang diterimanya, kehadiran ‘Kampung Cinta’, sudah ada sejak belasan bahkan mungkin puluhan tahun lamanya. “Sudah ada sejak lama itu. Disebut tidak ada, namun faktanya ada. Dari informasi, Kampung Cinta berada di berbagai daerah, seperti di salah satu daerah di Kecamatan Pagaden, Cipunagara,” katanya.

Guna meminimalasir Kampung Cinta, Deden akan mencoba berkordinasi dengan perusahaan yang berdekatan dengan daerah tersebut. Agar nantinya, para wanita-wanita tersebut diberikan pekerjaan, ataupun pelatihan keterampilan. Deden berharap, wanita tersebut bisa berangsur meninggalkan pekerjaannya sebagai PSK di sana. “Dalam waktu dekat kita akan buat terobosan. Kita akan berkoordinasi dengan perusahaan untuk perusahaan tersebut mau merekrut dan juga memberikan pelatihan kertampilannya, baik itu dari CSR atau lainnya,” tuturnya.

Dijelaskan Deden, informasi mengenai Kampung Cinta, yang lebih terkenal di Kecamatan Pagaden. Ada suatu kampung di sana yang melakukan aktivitasnya seperti tersembunyi dari hiruk pikuk banyak orang. Deden akan menyiapkan tim untuk melakukan investigasi ke Kampung Cinta, mulai dari apa keinginan para pekerja di Kampung Cinta di sana, kendala belum bisa meninggalkan dan lainnya. “Pokoknya di tahun 2020 ini, kita siap untuk meminimalsiir prostitusi, khususnya kampung cinta yang menjadi sorotan kami,” tegasnya.

Warga Pendeuy Desa Padamulya Kecamatan Cipunagara Asep (40) mengatakan, kehadiran kampung cinta sudah sejak lama. Banyak yang mengunjungi salah satu daerah di sana, berasal dari luar dan dalam kota Subang, karena terlihat dari nopol kendaraan yang dipakai. “Kebanyakan dari Jakarta, tapi ada juga yang dari Subang,” ungkapnya.
Menurutnya, kampung cinta seperti yang sudah biasa di daerah tersebut. “Warga sekitarnya seperti yang sudah biasa melihat pemandangan tamu yang datang ke rumah wanita tersebut,” katanya.

Salah satu PSK, sebut saja Mawar mengaku sudah melakukan kegiatannya sejak 3 tahun ke belakang. Awalnya, Mawar terjun gagalnya pernikahan dengan suaminya dan bercerai di usia muda. Mawar harus menghidupi diri sendiri, yang akhirnya melakukan kegiatannya di kampung cinta. “Awalnya gagal dalam membina pernikahan, karena butuh biaya aja,” ujarnya.

Perharinya, Mawar bisa mendapatkan 2 konsumen, di samping dirinya juga menjadi simpanan dari pria luar kota. Mawar bisa dibilang menikmati kehidupannya, dikarenakan hanya menemani konsumen yang datang, hingga jika meminta untuk menemani ke tempat tidur dengan bayaran yang sudah ditentukan. “Mulai dari menemani nyanyi sampe urusan ke kasur,” katanya.

Kampung cinta identik dengan musik yang diputar dari kaset , dengan lampu-lampu kecil warna-warni dengan hanya ruangan kecil. Jika tamu ingin minum alkohol, maka membeli dulu di luar. Kebanyakan wanita-wanita berusia muda dan bersatatus janda. “Disebutnya nyanyi di rumah. Kalau pengen ngamar, tamu langsung diajak di kamar di rumah,” katanya.

Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Sosial dan Napza Dinas Sosial, Dedi Ruhaedi mengatakan, mengenai kampung cinta sudah ada sejak dari dulu kala. Kendalanya, para wanita yang ada di kampung cinta enggan untuk meninggalkan kegiatannya, dikarenakan penghasilan yang menggiurkan dan kerja tidak terlalu berat. “Kebanyakan mereka enggan meninggalkan kegiatannya, karena dapat uang mudah dan kerja tidak terlalu berat,” katanya.

Dedi mengaku, pihaknya sudah berulang-ulang kali meminta kepada para PSK yang berada di lokalisasi Cimacan, Royek, Cikijing, Pantura, Sasakjon dan juga kampung cinta, agar meninggalkan pekerjaannya. Namun kebanyakan enggan. “Mereka berpikir jika bekerja di pabrik, atau di tempat lainnya menguras waktu. Kerja berat dengan penghasilan yang biasa, dibandikan dengan per jam atau 2 jam mendapatkan uang yang lumayan besar,” terangnya.

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Subang dr Maxi mengatakan, mengenai prostitusi erat kaitannya dengan panyakit menular seperti HIV/Aids. Masyarakat juga harus waspada dengan penularan penyakit tersebut, yang salah satunya bisa ditularkan dengan hubungan seks. “Sangat rentan tertular penyakit HIV/Aids, jika melakukan hubungan seks yang tidak sehat,” jelasnya.

Dr Maxi mengaku pernah melakukan observasi ke kampung cinta. Namun untuk meminimalisir kampung cinta, harus ada peran aktif dari semua lintas sektor yang ada. Pasalnya, keberadaaan kampung cinta sudah ada sejak lama. “Harus ada kebersamaan dan juga kerjasama dengan lintas sektor,” ujarnya.(ygo/vry)