Harga Gabah Anjlok, PDIP Meradang, Satgas Pangan Diminta Basmi Spekulan

PANEN: Areal sawah milik petani yang sudah memasuki musim panen. Disisi lain, situasi pandemic Covid-19 dijadikan alasan para spekulan/tengkulak untuk menjatuhkan harga. YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Ditengah pandemi covid-19, petani di Subang bersyukur masih bisa melaksanakan panen. Namun terdapat kondisi yang miris, saat konidisi panen seperti ini harga gabah justru anjlok dan fluktuatif.

Menurut Ketua Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Subang H. Aming Kasmin, hal itu disebabkan oleh adanya oknum yang bermain memonopoli harga. Sehingga harga jual padi ketika panen sangat rendah, apalagi panen raya sekarang ditambah saat berada dalam situasi pandemic Covid-19 dijadikan alasan para spekulan/tengkulak untuk menjatuhkan harga. “Hal ini berbanding terbalik dengan biaya produksi yang semakin hari semakin naik. Namun saat panen harganya jatuh,” kata H. Aming.

Seperti halnya harga pupuk, H. Aming menyebut setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Bahkan, bukan hanya naik, terkadang langka karena kuotanya terbatas. Biaya sewa traktor serta upah buruh tandur juga semakin naik. “Semoga fenomena tersebut bisa dijadikan catatan baik pemerintah daerah, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut untuk kesejahteraan petani dan kelestarian lahan pertanian yang semakin tergerus oleh kemajuan zaman,” imbuhnya.

Sementara itu, Petani Asal Kebondanas Alex Susandra mengatakan, penjualan gabah hasil petani saat ini tidak bisa langsung ke pihak penggilingan yang memproduksi beras. Ia melihat ada upaya penghambatan oleh calo-calo sebagai mediator dan itu mengganjal harga gabah. “Otomatis mengurangi harga gabah dipetani dan kami sebagai petani. Tolong kepada pemerintah satgas pangan untuk basmi calo-calo gabah yang sangat merugikan para petani,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Subang Narca Sukanda ketika dimintai komentarnya juga mendukung agar calo-calo itu dibasmi. Sebab, karena system calo ini, berdampak pada harga beras yang mahal namun harga gabah dari petani dibeli dengan murah. “Kata presiden kenapa harga gabah turun dipetani tetapi harga beras malah naik dipasaran itu semua ulah oknum mafia yang dilakukan oleh calo-calo, maka kami minta satgas pangan bergerak basmi para calo pangan,” ucapnya.

Sementara itu, PPL Pamanukan M. Aditya Nugraha mengatakan saat ini, harga gabah kering panen (GKP) untuk vareitas Ciherang berada diangka Rp 5000-5200, varietas ketan Rp 4400 serta untuk Vareitas 42 Rp 4800/kilogram. “Bahkan kemarin itu ketan sampai Rp 3500 GKP nya, kalau Ciherang cenderung stabil,” kata Adit.

Padi dengan komoditas bisnis seperti 42, Ketan atau Tarabas (teiken) memang cenderung fluktuatif dan sempat anjlok. Sebab, biasanya untuk padi komoditas bisnis tersebut bisa mencapai Rp 6000/kilogram nya. “Seperti padi var tarabas (teiken) sekarang Rp 6400 perkilogramnya, padi ini yang biasa masuk ke restoran-restoran jepang” imbuhnya.

Adit menyebut, memang ada dilematis yang dihadapi petani. Untuk padi Ciherang bisa masuk ke Bulog dengan HPP yang sudah ditentukan yakni Rp 4150. Namun dengan kondisi yang lebih stabil harga Ciherang bisa melampui HPP bulog. “Harga calo lebih mahal dari pada hpp dari pemerintah. Jadi HPP Bulog Rp4.150 sebenernya untuk melindungi petani kalo seandainya harga lagi jatuh. Tapi untuk padi komoditi bisnis HPP nya berbeda dan tidak ada intervensi pemerintah,” tutupnya.(ygi/sep)