Pekerja Migran Indonesia Meninggal Terserang Jantung

JENAZAH TKI: Keluarga TKI asal Subang, saat menjemput jenazah TKI yang meninggal akibat serangan jantung. YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPRES

PAMANUKAN– Kasus kematian Pekerja Migran Indonesia (PMI) diluar negeri kembali datang ke Subang. Baru genap dua hari sejak kedatangan jenazah PMI dari Taiwan, Minggu pagi (23/9), Subang kembali kedatangan jenazah PMI dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Herman alias Darman (51), seorang PMI yang berasal dari Dusun Jejerukan, Desa Rancahilir meninggal akibat Myocardial Infarction Due to Coronary Artery Thrombosis atau serangan penyakit jantung coroner pada Jum`at (21/9), berdasarkan Surat dari Dewan Bandaraya Kuala Lumpur Jabatan Kesehatan dan Alam Sekitar.

Kasi Binapenta Disnakertran Kabupaten Subang H.Indra Suparman, merasa miris dan sangat prihatin, atas kedatangan jenazah ke 22 tahun 2018. Ia mengungkapkan dalam setahun terakhir ada sekitar 34 jenazah.

“Tentu saya prihatin ya, baru saja Jumat kemarin jemput jenazah TKI, hari ini kembali lagi kedatangan jenazah TKI illegal,” ucap Indra pasca menghadiri pemakaman, kemarin (23/9).

Ia menambahkan, banyak faktor yang melatar belakangi maraknya PMI illegal atau non prosedural, di Kabupaten Subang yang diantaranya diakibatkan ketidaktahuan masyarakat, faktor SDM serta himpitan ekonomi. “Jadi banyak sekali warga subang yang berangkat keluar neger yang illegal,” ucapnya.

Setelah melihat berkas dokumen, ia mengatakan keberangkatan almarhum ke Malaysia sendiri diduga illegal. Sebab setelah melihat paspor, ada perbedaan dari nama asli yang sebetulnya adalah Darman, namun didalam paspor tertulis Herman. Selain itu, ada perbedaan dalam tahun lahir yang ditemukan. “Ini ada tanda juga, tahun lahir sebenarnya 1967, tapi disini tertulis 1977,” ucapnya.

Indra juga mengatakan, paspor almarhum sendiri setelah dicek dikeluarkan di Medan yang seharusnya dikeluarkan di Kabupaten Subang. Sebab, Herman alias Darman sendiri merupakan warga Subang. “ini permasalahannya dalam pencarian data, untuk asuransi sulit didapat, jadi kasihan ke keluarga korban juga kalau seperti ini,” ucapnya.

Sementara itu, anak almarhum Mulani mengatakan, ia tidak mengetahui secara pasti, sponsor ataupun PT serta dimana tempat ayahnya bekerja. “Informasi sementara ini disana cleaning service,” kata Mulani.

Mulani menambahkan, terakhir kali ia berbincang bersama almarhum terjadi sebulan yang lalu. Setelah itu, almarhum sulit dihubungi. Ia juga mengatakan, saat dalam obrolan almarhum sendiri tidak banyak bercerita padanya. “ngobrol sebulan yang lalu, tidak ada mengeluh apa-apa, hanya pernah bilang merasakan sakit dan dalam keadaan gawat,” ucap Mulani.

Sementara itu, keluarga korban lain Zuhro berharap kejadian seperti ini tidak kembali lagi terjadi. Sebab, akibat ketidaktahuan informasi yang dialami masyarakat, ia berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait bisa lebih memperketat dan melakukan tindakan agar hal serupa tidak kembali lagi terjadi.

“Kita ini kan orang tidak tahu, harapannya semoga tidak terjadi lagi kasus seperti ini,” ucapnya.

Maraknya kasus PMI Ilegal atau non prosedural di Kabupaten Subang harus segera menjadi perhatian Pemerintah Daerah Subang, serta instansi lain yang terkait. Sebab, dalam setahun terakhir sudah 34 orang pulang tanpa dokumen resmi. Selain itu, masyarakat juga yang ingin bekerja ke luar negeri diharapkan menempuh terlebih dahulu prosedur-prosedur yang ada demi keselamatannya bekerja nanti. (ygi/dan)