Pelaku Usaha Tagih Janji Pinjaman Modal 0 Persen

BERHARAP BANTUAN: Lidya (40) pelaku usaha warung nasi kesulitan mendapat dana permodalan. Berharap bantuan modal 0 persen dari pemerintah. YUGO EROSPI/PASUNDAN EKSPRES

Kesulitan Dapat Permodalan

SUBANG-Para pelaku usaha makana atau kuliner mengeluhkan tidak adanya perhatian dari Pemerintah, terkait bantuan permodalan. Pasalnya, peminjaman kredit modal ke bank dinilai sangat sulit.

Seperti yang dialamai pelaku usaha Warung Nasi, Lidya (40). Ia berharap perhatian pemerintah untuk permodalan usahanya ditengah kesulitan mendapat dana permodalan dari bank. “Meminjam dana ke bank konvensional sangat ribet, harus ada agunan. Ada bank yang cepat dan mudah, tapi bunganya sangat tinggi. Dilema juga kalo seperti ini, jadi harus ada perhatian dari pemerintah daerah,” keluh Lidya kepada Pasundan Ekspres, kemarin.

Ia pun menginginkan agar pemerintah daerah bisa memberikan akses untuk berdagang, sehingga para pelaku usaha makanan bisa merasa nyaman dan tidak mengangu ketertiban umum. Hal itu pastinya bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. “Pemerintah Subang juga seharusnya memberikan akses bagi kami para pelaku usaha makanan untuk berdagang yang aman dan nyaman,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Pedagang Nasi Cinangsi, Sopian (55). Dirinya mempertanyakan prorgam Bupati dan Wakil Bupati Subang yang mendukung keberadaan para pelaku usaha makanan di Subang. Seperti janji kampanye yang akan memberikan pinjaman bagi para pelaku usaha dengan 0 persen bunga. “Kami ingin wacana pinjam dana 0 persen bunga itu segera direalisasikan, karena waktu dulu pernah ada wacana seperti itu,” ungkapnya.

Sopia mengaku dirinya sering meminjam modal usaha ke bank keliling dengan bunga yang sangat tinggi. Untuk itu, dirinya meminta Bupati dan Wakil bupati bisa peka dan melihat kondisi para pelaku usaha makanan yang ada di Kabupaten subang.”Saya sering pinjam ke bank keliling, walaupun bunganya juga lumayan tinggi,” ujarnya.

Sementara itu kepala DKUPP Subang Drs. Rahmat Faturahman mengaku sudah menampung aspirasi para pelaku usaha makanan tersebut. Untuk mengakses para pedagang itu, harus dibentuk koperasi untuk memberikan pinjaman kredit yang mudah dan bunga rendah. “Saya sering terima keluhan seperti itu, dan seharusnya ada koperasi yang real untuk mengakomodir mereka,” singkat Rahmat. (ygo/sep)