Petani Kesulitan Dapat Pupuk Bersubsidi, Dampak Pengurangan Kuota

pupuk bersubsidi
TANDUR: Petani mulai melakukan tanam atau tandur menyambut musim tanam gadu. YOGI MIFTAHUL FAHMI PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Petani di Kecamatan Pusakajaya kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi urea. Bahkan, banyak petani yang sudah kesana kemari termasuk ke luar daerah untuk mencari pupuk bersubsidi, namun masih tetap alami kesulitan.

Hal ini diutarakan oleh Kepala Dusun II Desa Bojongjaya, Kasdi yang telah menerima berbagai keluhan dari petani dalam beberapa waktu terakhir. “Untuk pupuk sungguh sangat sulit pak, ini saya ngobrol dengan petaninya langsung merasa kesulitan,” ucap Kasdi kepada Pasundan Ekspres, Kamis (13/8).

Dia menyebut petani telah berkeliling ke setiap Kecamatan di Kabupaten Subang untuk mencari pupuk, namun tetap saja tidak dapat dan kesulitan. Banyak juga petani yang menyampaikan keluhan tersebut pada pemerintahan desa termasuk pada dirinya yang menjabat kepala dusun. “Mohonlah kepada pihak yang berwenang untuk segera mencari solusi terkait keluhan dari petani ini,” ungkapnya.

Baca Juga: Program Lembur Tohaga Sapapait Samamanis, Pupuk Gotong Royong Antar Warga

Sementara itu, Kepala UPTD Pertanian Pusakajaya, Surni SP menyebut terkait dengan sulitnya petani mendapatkan pupuk, dari informasi yang diketahuinya lantaran ada pengurangan dosis/quota dari pemerintah. “Karena kartu Tani mulai diberlakukan, jadi sudah mulai diberlakukan kuota untuk pupuk bersubsidi,” ucapnya.

Ia menambahkan, selama 3-4 tahun kemarin, UPTD bersama penyuluh termasuk Bank Mandiri setelah berusaha untuk menjaring data dan persyaratan bagi para petani untuk mengakses kartu Tani. “Sebab dengan penggunaan Kartu Tani ini, petani bisa mengakses pupuk bersubsidi dengan beberapa rincian,” ucapnya.

Dengan kondisi yang terjadi saat ini, lanjut dia, pupuk yang turun jumlahnya hanya 50% dari total luasan lahan di Kecamatan Pusakajaya yakni sebesar 3.907 hektare. “Karena dalam data di sistem yakni eRDKK, di Pusakajaya ini, yang unduh untuk quota pupuk yang sudah masuk dan telah mengurus persyaratan sebelum ini atau dari 3 tahun terakhir,” ucapnya.

turun ada di angka kisaran 1.500-2.000 hektare

Dengan kondisi demikian, dari 3.907 hektare luasan lahan, quota pupuk bersubsidi yang turun ada di angka kisaran 1.500-2.000 hektare. “Jadi memang tidak cukup dari quota yang turun dengan kebutuhan dilapangan, tapi kita coba terus update data dan terkakhir sudah 62%,” terangnya.

Surni juga menjelaskan, untuk satu petani dengan yang memiliki kartu tani, dengan luas lahan tercover maksimal dua hektar akan mendapatkan pupuk urea, SP, NPK dan Organik. “Per 1 hektare mendapat urea 250kg, SP 100 Kg, NPK 150kg dan Organiik 40kg. Kalau 2 hektare berarti tinggal dikali dua saja,” jelasnya.

Namun bagi petani yang tidak memiliki kartu Tani, jika membeli pupuk tersebut tak akan mendapat pupuk yang bersubsidi. “Kalau yang subsidi perkwintalnya itu untuk Urea, Rp 180.000. Kalau non subsidi Rp 850.000,” bebernya.(ygi/sep)