Proyek Bendung Sadawarna, PT Dahana Sudah Dibayar Tapi Tanah Masyarakat Belum

YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES MENINJAU: Camat Cibogo Sri Novia dengan pembangun PT WIKA berada di Pembangunan Bendungan Sadawarna di lahan milik PT Dahana yang sudah dibebaskan dan dibayar.

SUBANG-Pembangunan bendungan Sadawarna yang merupakan proyek nasional sangat dinanti para petani di Kabupaten Subang. Pasalnya, sumber airnya untuk mengairi sawah bisa disiapkan di bendungan tersebut. Selain untuk para petani, pasokan air bersih tersebut juga bisa dialirkan ke Pelabuhan Patimban.

Camat Cibogo Sri Novia mengatakan, pembangunan Bendungan Sadawarna  sudah dimulai dan diawali dengan pembangunan bendungan di areal seluas 72 hektare di lahan milik PT Dahana, yang sudah dibebaskan dan dibayar. Pembangunan yang dilakukan PT WIKA, saat ini masih berproses. “Itu kan pembangunan di areal lahan milik PT Dahana yang sudah dibebaskan dan dibayar. Kalau lahan milik masyarakat belum,” ujarnya.

Dijelaskan Sri, pembangunan bendungan tersebut, tidak berdampak terhadap masyarakat di sekitar. Meski demikian, jika ada masyarakat yang terdampak dari pembangunan yang berada di lahan seluas 72 hektare, bisa melaporkannya kepadanya. “Sampai saat, ini tidak ada dampak ke masyarakat dari pembangunan tersebut. Malah PT WIKA membangun mesjid untuk masyarakat sekitar,” ujarnya.

Warga yang berada di Desa Sadawarna dan CIbalandong Jaya belum mendapat ganti rugi. “Desa Sadawarna dengan luas 248.16 hektare dan 561 bidang tanah. Desa Cibalandong Jaya luas 244.230 hektare dan 916 bidang masih beum mendapatkan ganti rugi,” paparnya.

Lahan di Desa Sadawarna, kata Camat Sri, sudah dilakukan pengukuran dan juga penghitungan appraisal. 90 persen warga Desa Sadawarna sudah setuju dengan pembebasan lahan tersebut. Masyarakat hanya tinggal menunggu pembangunannya saja. Sedangkan untuk Desa Cibalandong Jaya, pihak tim Aprraisal saat ini sedang melakukan pengukuran lahan.

Jadi Daya Tarik Pedagang dan Tempat Swafoto

Pembangunan Bendungan Sadawarna di lahan PT Dahana yang sudah dibebaskan, akan menjadi daya tarik pedagang kecil dan lokal. Pastinya, banyak masyarakat yang ingin berswafoto di sana.

Camat Cibogo Sri Novia, mencoba melakukan koordinasi dengan berbagai pihak bagaimana cara untuk meningkatkan perekonomian, dengan memanfaatkan pembangunan Bendungan Sadawarna untuk masyarakat sekitar. “Rencana tersebut ada. Ini juga buat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar,” katanya.

Pembangunan Bendungan Sadawarna, nantinya bisa menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), jika desa bisa menarik perhatian pengunjung dan wisatawan yang ingin melihat bendungan tersebut. “Bisa juga PAD, tapi itu rencana ke depannya,” ungkapnya.

Warga Kaya Mendadak di Tengah Pandemi

Warga Sadawarna Karim, T (42) mengatakan, besaran luasan lahan dan rumah dirinya bisa diganti, karena dampak Bendungan Sadawarna lumayan menghasilkan jika dibayar. Apalagi, di tengah pandemi seperti ini, tentunya bisa menjadi kaya mendadak. “Kalau sekaarang ga punya duit, eh tiba-tiba dibayar lahan sama rumah saya di tengah pandemi, itu kan sama saja kaya mendandak,” katanya.

Warga lainnya, Enung Rohman (34) mengatakan, dirinya mau saja dibebaskan lahan dan rumahnya, asal pergantiannya menjadi ganti untung bukan ganti rugi. Enung juga ingin diizinkan untuk berdagang di sekitar bendungan tersebut jika sudah selesai. “Asalkan saya bisa berdagang saja,” katanya.

Realisasi pengadaan tanah dalam proyek bendungan tersebut di Desa Sadawarna ada tanah masyarakat 605 bidang, luas 1.471.052m2 atau 147,1052 hektare. Yang sudah bersertifikat hak milik 241 bidang dengan luas 717.116m2 dan lahan garapan masyarakat di atas tanah negara ada 362 bidang dengan luas 753.936m2, tanah non masyarakat 9 4 bidang luas 1.360.483m2 atau 136,0483 hektare. Lahan di PT Dahana lahan tiga bidang dengan luasan 723.763m3. PT Bakti SNP lahan 1 bidang dengan luasan 637.720m2, sehingga jumlah luas keseluruhan di Desa Sadawarna yang terealiasi untuk pengadaan tanahnya ada 2.832.535m2 atau 283,535 hektare.(ygo/vry)