PSK Merebak, Dinsos: Anggaran Pembinaan Minim

PEMBINAAN: Dinas Sosial Kabupaten Subang menggelar pembinaan terhadap PSK di tempat prositutusi. YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES

Terlena dengan Uang Cepat

SUBANG-Pekerja Seks Komersial (PSK) merebak di Kabupaten Subang, baik warga Subang asli dan pendatang. Minimnya anggaran pembinaan, membuat Dinas Sosial Kabupaten Subang tidak bisa menjangkau PSK secara keseluruhan. Data dari Yayasan Resik pada tahun 2015 ada sebanyak 1.500 orang PSK di Kabupaten Subang.

Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Sosial dan Napza Dinas Sosial Kabupaten Subang, Dedi Ruhaedi mengatakan, tahun 2019 pihaknya hanya menggelar kegiatan pembinaan di empat kecamatan untuk para PSK sebanyak 126 orang. Seperti di Kecamatan Pamanukan, Blanakan, Ciasem dan Pagaden. Kegiatan pembinaan, untuk menyadarkan para PSK tidak melakukan pekerjaannya lagi sebagai PSK, namun terkendala dengan anggaran yanng sangat minim. Bisa dibayangkan untuk per tahun hanya ada di 4 kecamtaan saja. Padahal PSK yang belum tersentuh sangat banyak. “Anggaran minim. Padahal banyak PSK yang belum tersentuh untuk kegiatan pelatihan dan pembinaan, agar mereka tidak menjadi PSK kembali,” katanya.

Dijelaskan Dedi, PSK terbagi dalam dua macam. Pertama, PSK langsung. PSK yang berada di tempat prostitusi dan terang-terangan. PSK tidak langsung, PSK online dan berprofesi ganda. Pihaknya mengklaim, lebih susah untuk membina PSK tidak langsung, dikarenakan tidak akan ketahuan secara kasat mata.

Contohnya, pemandu lagu (PL) di tempat karoke yang bisa diajak kencan, pemijat yang bisa diajak kencan, pelajar SMA yang bisa diajak kencan, hingga buruh pabrik yang bisa diajak kencan.
“Nah, kita susah untuk membina PSK tidak langsung tersebut karena kebanyakan mereka melaukan profesi ganda,” jelasnya.
PSK di Kabupaten Subang yang dilakukan pembinaan, 95 persen PSK tersebut merupakan janda dan juga umurnya bervariatif 25-50 tahun. Permasalahan PSK yang merebak tersebut, dikarenakan tuntutan ekonomi dan kemudahan mendapatkan uang secara instan. Para PSK yang ada susah untuk dibujuk mengikuti pelatihan di balai pelatihan PSK di Pasar Rebo – Jakarta. “Padahal jika mereka ikut ke balai pelatihan di Pasar Rebo – Jakarta, selain mendapatkan modal kerja, dapat juga pelatihan seperti salon kecantikan, membuat kue dan lainnya. Mereka tidak ikut dikarenakan mendapatkan uang dari menjalani PSK tersebut sudah sangat cukup besar,” ungkapnya.

Banyaknya PSK di Kabupaten Subang, pihaknya meminta anggaran yang layak untuk menggelar kegiataan pembinaan dan edukasi terhadap PSK. Pasalnya, PSK di Kabupaten Subang sangat banyak, disamping untuk mencegah penularan HIV/Aids. Pihaknya juga meminta kepada para PSK agar meninggalkan pekerjaannya dan beralih perkerjaan. “Kami minta agar para PSK yang ada di Kabupaten Subang, agar meninggalkan pekerjaannya dan beralih kepada pekerjaan yang lebih baik,” katanya.

PSK di Kabupaten Subang, kata dia, ada yang berumur 55 tahun dan beroperasi di Sasak Jon Purwadadi. Konsumen nya malah remaja dan pelajar sekolah. Mereka mau dibayar seadannya saja. Maka dari itu, edukasi dan pembinaan harus dilakukan secara maksimal. “Pernah ditemukan PSK yang sudah berumur dan konsumennya pelajar dan juga remaja. Ddibayar berapa saja mau. Ini kami sangat miris,” tuturnya.

Sementara itu, Pengelola Program IMS, HIV-AIDS and Harm Reduction Suwatta Dinkes Subang mengatakan, jika melihat data bulan Januari – Agustus 2019, ada sebanyak 114 kasus baru yang ditemukan untuk penularan HIV/Aids. “Kita temukan 114 kasus baru dari bulan Januari-Agustus 2019,” tandasnya.(ygo/vry)

Fakta PSK di Kabupaten Subang

– Tempat Prostitusi di Kabupaten Subang ada 23 titik
– Estimasi PSK Mencapai Ribuan
– Umur PSK Antara 25-50 tahun
– 95 Persen Janda
– Minimnya anggaran pembinaan dan pelatihan, tidak tercover seluruhnya
– PSK terlena dengan mendapatkan uang yang cepat dan tidak mau bekerja yang lain

*)Sumber Dinas Sosial Kab. Subang