Sekolah Ikut Menjadi ‘Korban’ Kasus Pembunuhan ibu dan anak di Subang

Kasus Pembunuhan ibu dan anak di Subang
INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES SEPI: Bangunaan SMK Nasional yang dinaungi Yayasan Bina Prestasi Nasional.

Almarhumah AMR Kunci Sukses Yayasan

SUBANG-Keberadaan Yayasan Bina Prestasi Nasional menjadi perhatian masyarakat baru-baru ini. Nama yayasan itu, muncul ke permukaan publik setelah terjadi kasus pembunuhan yang menewaskan ibu dan anak di Subang.

Yayasan tersebut adalah yayasan milik Yosef, Almarhumah Amalia dan Ibunya Tuti juga turut serta ikut mengurusi yayasan tersebut selaku sekretaris dan bendahara. Yayasan ini berada di Desa Cijengkol, berada di sebelah kanan jalan (dari arah Jalancagak, red) tidak jauh dengan kantor Desa Cijengkol.

Bangunannya tidak terlalu besar apalagi megah, justru sebaliknya, kecil dan nampak kumuh. Dari pantauan Pasundan Ekspres di lokasi, yayasan yang menaungi Sekolah Menengah Kejuruan dan Sekolah Menengah Pertama itu hanya terdapat 10 ruang kelas, lima kelas di lantai dasar, sisanya di atas.

“Sudah lama sejak ada kejadian itu sudah tidak ada aktivitas,” sebut Imas, warga sekitar, yang rumahnya tidak jauh dari bangunan yayasan tersebut.

Masih kata Imas, sebelumnya aktivitas di sekolah yang dinaungi Yayasan Bina Prestasi Nasional berjalan seperti biasa, dengan murid yang didominasi dari Purwakarta, Karawang, dan Bekasi.

“Muridnya banyak, biasa kaya sekolah umumnya, cuma memang kebanyakan orang luar,” tambahnya.

Ketua yayasan, Yoris, menyebut jika ibunya Tuti Suhartini dan adiknya Amalia Mustika Ratu menjadi kunci kesuksesan yayayan yang menaungi SMK swasta tersebut.

Dia mengatakan, keuangan Yayasan Bina Prestasi Nasional berkembang pesat semenjak dipegang oleh ibu serta adiknya. “Keuangan yayasan dapat stabil saat mamah sama Amalia yang pegang, sebelumnya gaji guru 4 bulan sekali sementara pas waktu diatur sama mamah bisa satu bulan sekali,” kata Yoris.

Prestasi Amalia di yayasan serta di luar yayasan membuat Yoris menawarkan kepada Amalia untuk melanjutkan sekolah atau membeli mobil. Yoris juga menyebut jika polisi mengorek keterangan Yayasan milik Yosef dari sejumlah pihak terkait kasus penemuan jasad ibu dan anak di Kabupaten Subang, termasuk pada dirinya.

BACA JUGA:  Pengabdian untuk Masyarakat

“Kepala sekolahnya juga kan sempat jadi saksi, jadi untuk sementara ditutup dulu saja,” katanya.

Menurut Yoris, dirinya juga belum ada rencana untuk kembali membuka aktivitas dari yayasan itu. Pasalnya, dirinya sampai dengan saat ini masih fokus kepada proses penyelidikan kasus matinya kedua orang tersayang itu.

“Saya masih fokus ya nanti lah kalo sudah selesai semua dari kasus ini, siswa-siswinya juga masih belajar di rumah,” ucap Yoris.

SMP dan SMK Nasional terkena dampak kasus pembunuhan yang terjadi pada pengurus yayasan yang menaungi dua sekolah itu. Selain mengurus yayasan, Alamarhumah Amalia juga merupakan bendahara sekolah dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah.

Berdasarkan data Kemendikbud, SMP dan SMK Nasional saat ini memiliki siswa sekitar 300 orang. SMK Nasional pada tahun ajaran 2021/2022 memiliki siswa sebanyak 151 orang. Jumlah guru sebanyak 4 orang.

Sementara SMK Nasional memiliki siswa 154 orang pada tahun ajaran 2021/2022. Jumlah guru tercatat 6 orang.