Tak Ada Kerjaan, Karyawan Pabrik di Subang Dirumahkan

Produksi Perusahaan Garmen Terhambat

SUBANG-Pengusaha maupun pekerja sama-sama cemas dalam situasi wabah Covid-19. Pengusaha cemas karena usahanya terganggu. Pun pekerja cemas dirumahkan karena tidak ada aktivitas produksi di pabrik.

Plt Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Subang, Asep Rocman Dimyati mengatakan, produksi di pabrik terhambat akibat adanya wabah Covid-19 ini. Bahan baku untuk produksi di pabrik yang didatangkan dari luar negeri tertahan karena covid-19.
“Ketika bahan baku tertahan tidak masuk ke Indonesia, maka ya perusahaan tidak bisa produksi,” ungkapnya kepada Pasundan Ekspres, usai menghadiri rapat di Disnakertrans Subang, Kamis (2/4).

Dia mengatakan, bukan hanya pabrik garmen saja yang terhambat produksinya. Pabrik yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri terkena dampak Covid-19 ini. “Seluruh perusahaan yang bahan bakunya dari luar negeri jelas terhambat produksinya,” ujarnya.

ARD mengaku telah memantau kegiatan produksi di pabrik saat situasi merebaknya covid-19. Berdasarkan hasil pantauannya, ada 3 – 4 perusahaan yang dibatalkan proses transaksinya oleh pembeli. Pembatalan transaksi tersebut hingga mencapai 60 persen. “Jadi sekarang ini hanya melanjutkan sisa-sisa kontrak order itu,” katanya.

Dia mengatakan, hasil produksi yang dikirim ke luar negeri juga ikut terganggu. Ketika ekspor barang itu juga terhambat, otomatis berpengaruh terhadap operasional karena tidak adanya pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usaha. “Operasional seperti gaji karyawan dan lain-lain maka akan macet itu semua,” ujarnya.

ARD menyampaikan, kondisi seperti ini hingga sampai berlarut-larut jelas mengkhawatirkan. “Ya kita jujur saja, perusahaan khususnya garmen yang saya pantau akan mengalami kebangkrutan luar biasa,” ujarnya.

Ketika perusahaan tidak lagi produksi, pekerja terkena dampaknya. Mereka berpotensi dirumahkan. Sementara jumlah pekerja di perusahaan garmen, kata ARD, hingga mencapai 60 ribu pekerja. Jumlah sebanyak itu bekerja di 27 perusahaan garmen.

“Artinya di sini akan terjadi gejolak sosial yang besar-besaran, pengangguran yang besar-besaran. Nah inilah yang harus diantisipasi oleh pemerintah. Bukan hanya solusi pencegahan (penyebaran covid-19), ketika ini terjadi pemerintah harus ada solusi,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Subang DR, H. Kusman Yuhana M.Si mengatakan, ada surat edaran mengenai para pekerja pabrik diliburkan.

Menurutnya, hal tesebut baru berupa konsep saja dan mau dikoordinasikan dengan Bupati Subang, namun ada oknum yang menyebarkan surat edaran tesebut, sehingga membuat gempar pengusaha pabrik di Kabupaeten Subang. Padahal dalam surat konsep edaran tersebut belum final, karena masih ada rapat-rapat yang harus ditempuh.

“Dalam rapat LKS tripartit, tidak ada surat edaran yang menyatakan libur selama 12 hari.

Itu baru konsep, tapi sudah ada yang menyebarkan melalui whatsApp. Saya akan mencari tau siapa yang menyebarkan, jika perlu saya laporkan ke polisi ini merugikan dan membuat panik,” ujarnya.

Beberapa pabrik, Kusman mejelaskan, berdampak terhadap adanya Covid-19. Antara lain, pabrik yang bergerak di bidang makloon, yang mengerjakan dari perusahaan ke perusahaan lain.

Ada beberapa pabrik yang terdampak, karena tidak ada pekerjaan untuk dikerjakan, sehingga banyak pekerja yang dirumahkan. “Dampak Covid-19 ini meluas. Bahkan, pabrik-pabrik yang bergerak makloon terpaksa harus merumahkan pekerjanya, karena tidak ada barang yang akan dikerjakan,” katanya.

Kepala Bidang Perlin Disnakertrans Kabupaten Subang Drs. H. Muksin mengatakan, pabrik di Kabupaten Subang melapor ke Dinaskertrans Subang untuk merumahkan pekerjanya.

Antara lain, PT Taekwang Industrial, PT Buma Apparel, PT Pungkok, PT Sungwon. Pabrik tersebut terkena dampak, karena bahan baku yang tidak ada untuk dikerjakan, sampai buyer yang tidak bisa membeli produksi hasil dari pabrik di Subang.

“Intinya, pabrik-pabrik tersebut tidak ada bahan baku untuk dikerjakan. Buyer yang enggan membeli produksi,” ungkapnya.

Dari hasil laporan, Muksin memaparkan, PT Taekwang Industrial merumahkan sebanyak 1.435 pekerja training yang dalam masa kerja 3 bulan, PT Buma Apparel sebanyak 722 pekerjanya, PT Pungkok masih melakukan perundingan terhadap pekerja, dan juga PT Sungwon.

“Pekerja yang dirumahkan jangan khawatir, karena kesepakatannya pihak pabrik akan memanggil kembali pekerja yang dirumahkannya, ketika bahan baku dan buyer sudah normal kembali,” katanya.

Pabrik di Kabupaten Subang, kata dia, ada 131 dengan skala kecil, menegah dan sedang. Bisa jadi jika wabah Covid-19 berlanjut, maka pabriik lainnya akan goyah dan terancam gulung tikar, karena tidak ada yang dikerjakan. “Jika kondisi seperti ini terus menerus terjadi, pastinya berdampak terhadap puluhan pabrik lainnya,” tandasnya.(ysp/ygo)