3 Idiots

Belajar Filsafat

Pojokan 68

 

Film India berjudul “3 Idiots”, seolah menjadi sindiran manis namun telak terhadap praktek pendidikan kita. Film yang dibintangi oleh Amir Khan (memerankan Raccho alias Rachhodas Shyamaldas Chanchad), R. Madhavan (sebagai Farhan Qureshi), Sharman Joshi (sebagai Raju Rastogi), dan Kareena Kapoor (memerankan Pia, putri Direktur Imperial College of Engineering/ICE) ini, menceritakan tiga mahasiswa dari latar belakang yang berbeda. Mereka kuliah di ICE, perguruan tinggi (PT) terkenal di Delhi-India. ICE selalu melahirkan insinyur-insinyur, yang diahir tahun kuliahnya mendapat tawaran kerja diberbagai perusahaan.

Soal lulusan ICE ini, beda banget dengan realitas di Indonesia. Selesai kuliah, ribuan lulusan PT berebut “mengorek-ngorek” peluang kerja. Bahkan data Badan Pusat Statistik/BPS, Februari 2021, menyebutkan sebanyak 205,36 juta usia kerja orang Indonesia merebutkan 2,3 juta lapangan kerja baru di tahun 2021. Ini artinya peluang satu lowongan kerja diperebutkan oleh 89,2 orang. Itupun dengan syarat pertumbuhan ekonomi mencapai 4,5 persen. Tak percaya? Sila tanya Direktur Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian PPN/Bapenas, Mahatmi Parwita Saronto.

Balik lagi ke film “3 Idiots”. Film yang disutradai oleh Vidhu Vinod Chopra ini diangkat dari novel Five Point Someone karangan Chetan Bhagat, menceritakan tentang bagaimana kehidupan dan kebiasaan belajar mahasiswa di ICE. Film drama komedi yang dirilis 25 Desember 2009 ini, menceritakan model pembelajaran di ICE yang mengutamakan prestasi akademik, dan hafalan. Sang Direktur ICE, Dr. Viru Sahastrabudhhi diperankan oleh Boman Irani, menggenjot para mahasiswanya untuk bisa berprestasi dengan baik. Sang direktur berprinsip, prestasi akademik akan menghasilkan kesuksesan dengan indikator diterima di perusahaan besar.

Hal menarik lainnya dari film ini adalah Amir Khan yang cerdas dan berbakat. Amir Khan sendiri dalam film tersebut memiliki nama Phunskh Wangdu. Ayah Phunskh Wangdu bekerja sebagai pembantu pada keluarga ayah Rachhodas Shyamaldas Chanchad. Karena kecerdasannya tersebut, Phunskh Wangdu menjadi “joki” Rachhodas Shyamaldas Chanchad, anak dari majikan ayahnya, yang malas untuk kuliah di ICE. Dan ternyata praktek sebagai “joki” tersebut sudah dilakukan Phunskh Wangdu sejak mereka bersekolah di sekolah dasar hingga masuk ICE. Jadi ingat, dulu di negeri kita ada “joki” Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Tapi untungnya tak sampai “joki” kuliah. Yang ada joki makalah atau tesis atau buku. Alias ghost writer.

Berlanjut di halaman berikutnya…

BACA JUGA:  Sadari Peran Kita