BERPRESTASI DI MASA PANDEMI

Oleh: Drs.Priyono,MSi

(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Engkau datang tak menyapa
Asalmu dari Wuhan Cina
Menyeberang samudera dan lewat dirgantara
Melalui perantara manusia

Merasuk dan merusak pernafasan
Banyak korban bergelimpangan
Tak kenal suku,warna kulit dan agama
Tak kenal orang alim maupun dhalim

Begitulah Tuhan memperingatkan
Agar kau selalu dalam bingkainya
Tak pernah ada yang tahu kapan engkau masuk
Dan tak pernah ada yang mengerti kapan engkau keluar

Percayalah setiap ada musibah, bisa diambil hikmah
Sesudah kesulitan datanglah kemudahan
Cari kesempatan jangan pikirkan kesulitan
Ubah kekurangan jadi kelebihan
Isi waktu luangmu dengan pena dan prestrasi
Demikian ciri orang orang yang beriman dan berilmu

(Priyono,awal agustus 2020)

Sulit mengatakan, kapan pandemic covid-19 berakhir, seperti yang digambarkan dalam bait bait puisi di atas. Belum ada tanda tanda grafik memuncak kemudian berangsur turun, semua hanya bisa berharap tapi tidak patuh untuk mentaati protokol kesehatan dari pemerintah untuk selalu jaga jarak, jaga kebersihan,pakai masker, gunakan hand sanitizer. Lebih lebih dipacu dengan new normal yang melonggarkan aktivitas berkumpul menjadikan semua kegiatan sulit dikontrol maka beberapa daerah ada yang zone nya berubah mengkhawatirkan seperti Solo, Sukoharjo, Surabaya dll.

Jawabannya kita harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru menggunakan teknologi, dengan niyat untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat meskipun tidak bertatap muka tapi dengan cara virtual. Sepanjang niyat kita bagus dan dilaksanakan dengan proses yang benar maka hasilnyapun akan bagus pula. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan dengan produk publikasi di masa pandemic akan memberi manfaat yang lebih luas. Jika sebuah kegiatan hanya behenti setelah kegiatan itu selesai maka manfaatnya dan ghirahnya akan berbeda bila setelah kegiatan ada output dan outcome nya misalnya dalam bentuk artikel dan dipublikasikan dalam media publikasi. Kegiatan semacam ini yang dikehendaki dalam penilaian akreditasi yang baru, yang berbasis pada outcome dalam bentuk publikasi ilmiah. Kegiatan inilah yang akan memperbanyak publikasi di Indonesia.

Kegiatan tersebut bisa mengintegrasikan mata kuliah dengan publikasi, tapi bisa juga kegiatan pelatihan dengan target publikasi sesuai topik atau tekanan pelatihannya. Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyagh Surakarta selama seminggu melakukan kegiatan pelatihan berbasis teknologi drone, penginderaan jauh dan system informasi geografis dan teknis publikasi baik ilmiah maupun ilmiah popular.

Pesertanya adalah 100 guru geografi SMA seluruh Indonesia yang meliputi Aceh sampai Maluku, meskipun sebagian besar dari Jawa. Mereka para peserta adalah guru bertalenta, karena sangat sulit orang mau berwebinar secara nasional tanpa punya talenta. Pemberian kuliah dengan disertai tugas menulis di Koran dengan apresiasi nilai A ternyata membangkitkan kemampuan mereka untuk menulis dan diharapakan nanti dalam menyusun skripsi, alur pemikirannya lebih runtut, pola pikirnya lebih mantab. Dalam pandangan Bloom, model integrasi ini akan memantapkan pemahaman karena siklus kognitif sampai psikomotorik bisa diaplikasikan.

Mengajar dengan produk menulis di Koran dan prosiding telah menghasilkan beberapa prosiding dan 2 buku kumpulan artikel di Koran selama 5 bulan kuliah online, dengan judul buku 1 : Pemikiran Kritis Mahasiswa Geografi Menyikapi Fenomena Demografi dan Sosial Kemasyarakatan di Masa Pandemi Covid-19 dengan 320 halaman. Judul buku 2: Kajian Dampak Covid-19 Terhadap Kehidupan Masyarakat dengan 116 halaman.

Hasil pelatihan dengan guru geografi se Indonesia, disamping berproduk aplikasi pembelajaran untuk dipraktekkan di masing masing sekolah, juga beroutput buku publikasi yang berjudul :Kajian Geografi Di Masa Pandemi Covid-19 dengan 269 hal. Akan disusul produk buku pengayaan sebanyak 10 judul. Untuk menghasilkan 10 judul buku pengayaan akan ditambah pelatihan khusus terhadap 10 guru yang lolos seleksi dan telah mengumpulkan draftnya, untuk dilatih secara intensif lewat group khusus Mentoring buku pengayaan.

Jadi masa pandemic tidak mengurangi gairah untuk berbagi ilmu dan malah kita tigkatkan output pembelajaran menjadi sebuah publikasi dalam bentuk buku yang bisa dibaca banyak orang dan tentu akan memberi manfaat lebih luas kepada masyarakat biasa maupun akademik. Pramudya Ananta mengatakan bahwa menulis adalah keabadian, bisa dinikmati sepanjang masa meskipun penulisnya sudah tiada. Berikan ilmumu tidak hanya pada generasimu tetapi juga generasi sesudah kamu agar mereka dan kamu saling memperoleh manfaat. Demikian islam mengajarkan, sehingga munculah istilah shadaqah jariyah. Semoga Alloh swt meridhai, aamiin.