Budayakan Membaca, karena Membaca itu Ibadah

oleh
1.Dwi Angga Oktavianto, S.Pd., M.Pd.( Guru di SMKN 1 Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin,Provinsi Kalimantan Selatan)
2.Drs.Priyono,MSi(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Koordinator Asosiasi Pengawas Seluruh Indonesia (APSI) Kalimantan Selatan, Abdul Sani pada suatu ketika melemparkan pernyataan “Setiap pengawas melihat daftar hadir perpustakaan di tiap-tiap sekolah, ditemukan fakta bahwa jarang ada nama guru di daftar tersbut.” Pernyataan tersebut berarti guru di Kalimantan Selatan memang sebagian besar minat bacanya rendah. Ini juga menjadi masalah yang sama di berbagai provinsi lain di Indonesia. Inilah masalah yang sangat krusial yang sedang kita hadapi.

Gurunya saja sangat jarang membaca, apalagi siswanya. Kita tidak perlu memperdebatkan pernyataan tersebut, karena berbagai laporan baik hasil penelitian dari dalam maupun luar negeri memang menyatakan minat membaca siswa di Indonesia rendah. Guru menjadi panutan bagi siswanya maka dalam bahasa Jawa sampai muncul pepatah: “Guru kuwi digugu lan ditiru”.

Rendahnya minat membaca ternyata berbanding terbalik dengan “gampangnya” berita bohong (hoax) tersebar. Setiap kali ada hoax, pasti ribuan orang akan menyukai dengan memberi tanda jempol pada konten berita tersebut. Ribuan orang menyebarkannya, baik lewat Facebook, WhtasApp ataupun aplikasi sosial media lainnya, dan akhirnya jadi viral. Apa yang dapat disimpulkan?
Masyarakat Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan ternyata gemar membaca yaitu membaca konten berita yang tersebar pada internet. Hal ini berlaku pula kepada siswa, karena sesekali saya pernah mengecek kelas yang saya ajar, bahwa siswa mengetahui berita-berita yang sedang viral, entah itu berita bohong maupun berita yang benar.

Hal ini merupakan peluang untuk kita untuk “memviralkan budaya membaca” yang saat ini jamak disebut sebagai literasi.
Saya sangat yakin bahwa membaca adalah salah satu bentuk budaya.

BACA JUGA:  Memahat Karakter Peduli Lingkungan Sejak Dini

Sehingga minat membaca dapat kita sebarluaskan. Ada beberapa hal yang dapat mendukung pernyataan tersebut.
Pertama, kita adalah bangsa yang menghasilkan berbagai hasil tulisan yang menjadi maha karya di zamannya. Masyarakat Kalimantan Selatan pasti pernah dengar Kitab Sabilal Muhtadien yang ditulis oleh Datu Kalampayan? Kitab Barencong yang disebar luaskan Datu Nuraya, Datu Suban dan Datu Sanggul? Kita memiliki DNA untuk dapat menghasilkan tulisan yang sangat bagus. Bukankah budaya menulis merupakan kelanjutan dari budaya membaca? Sebarluaskan kepada siswa kita bahwa dengan membaca kita akan mampu menulis, dengan menulis kita dapat memberi kontribusi terhadap kemajuan bangsa. Jangan lupa, ingatkan bahwa siswa kita mempunyai DNA penulis-penulis hebat yang gemar membaca.

Kedua, internet merupakan hal yang sudah menjadi kebutuhan primer siswa. Siswa akan sangat tersiksa ketika gawai kita tertinggal di rumah, karena tidak bisa memperbaharui status di sosial media mereka. Ketergantungan yang besar terhadap internet dapat kita arahkan untuk mengahasilkan sebuah tulisan, sebagai seorang guru kita dapat menulis materi pelajaran di blog pribadi yang kita miliki, kalupun tidak punya blog kita dapat menuliskannya di status media sosial.

Andaikata sebagai guru kita belum percaya diri menulis materi, kita dapat menyebar luaskan tulisan orang lain yang berisi materi pelajaran yang kita ampu. Hal ini jika didukung kampanye masif pengunaan internet secara positif budaya membaca akan menyebar luas di masyarakat utamanya siswa.

Ketiga, beritahu siswa bahwa dengan membaca kita memperoleh informasi penting yang dapat dimanfaatkan. Setiap hal yang kita baca akan memberikan pengetahuan kepada kita. Pengetahuan terebut mungkin belum bermanfaat saat ini, namun suatu saat pasti akan bermanfaat. Yakinkan siswa bahwa dengan membaca, perjalanan hidup mereka akan tertolong. Berilah contoh bahwa hal itu pernah anda alami.

BACA JUGA:  Sel Mewah Lapas Sukamiskin Belum Banyak Perubahan

Keempat, dengan membaca kita akan lebih mulia. Salah satu kalimat yang pernah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara ialah “lawan sastra ngesti mulia”. Kalimat tersebut dalam Bahasa Indonesia berarti, dengan ilmu hidup kita pasti mulia. Mulia disini dapat diartikan kita akan memperoelh berbagai keuntungan, antara lain karena gemar membaca kita dapat mengerjakan soal-soal ujian, tes dalam melamar pekerjaan, diterima di perguruan tinggi yang dicita-citakan, atau bahkan memperoleh penghasilan dari menulis.Bukankah menulis dapat dilakukan setelah kita gemar membaca?

Kelima, sampaikan kepada siswa bahwa membaca merupakan ibadah. Khusus bagai siswa yang beragama Islam, bahwa perintah pertama yang disampaikan dalam Islam adalah membaca “Iqro”. Bukankah setiap perintah dari Allah SWT kewajiban dan dihadiahi pahala? Komunitas menulis sulit terwujud bila tidak didasari komunitas membaca dan mendengar.

Dengan budaya membaca dan mendengar kita simpan dalam storage otak sehingga jadi memori dan bisa kita buka saat kita membutuhkan. Ketika membaca dan menulis sudah jadi tradisi maka banyak orang yang bisa mendapatkan ilmu tanpa harus bertemu misal lewat buku, lewat artikel dan disitulah pahal akan mengalir terus meskipun orang yang menuls sudah meninggal. Inilah konsep islam yang sangat mengagumkan.

Ayo kita viralkan budaya membaca! (*)