Dinamika Selat Malaka dan Potensi Bagi Indonesia

Selat Malaka

Oleh: Ryzkyanda Putri dan Muhammad Natsir

(Mahasiswa Geografi Semester 3 Universitas Muhammadiyah Surakarta) 

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi sumber daya yang sangat besar baik di daratan maupun lautan, dengan letak geografis yang berada diantara dua benua yakni australia dan asia, dan diantara dua Samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Indonesia memiliki posisi strategis dalam geopolitik dan geoekonomi global, salah satu aset yang dimiliki Indonesia ialah Selat Malaka yang juga bagian dari jalur sutera yang telah digunakan bahkan sejak jaman sebelum masehi, jalur sutera sebagai jalur perdagangan internasional yang menghubungkan antara China dengan dengan eropa timur melalui India dan Mesir memiliki frekuensi perlintasan yang cukup padat.

Kekuasaan atas Selat Malaka silih berganti antar Kerajaan dan penguasa kolonial tergantung dinamika politik pada saat itu.salah satu sejarah terkait penguasa Selat Malaka ialah pada zaman kerjaan Sriwijaya, sebagai penguasa Selat Malaka, Kerajaan Sriwijaya merasa berhak menarik pajak dari pedagang-pedagang yang melintasi Selat Malaka terutama pedagang yang berasal dari Tamil yang jumlahnya sangat besar, merasa pajak yang ditarik terlalu tinggi, para pedagang Tamil melaporakannya pada Kerajaan Cola sebagai pelindung mereka, akhirnya Kerajaan Cola menyerang  Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1025 dan 1068/1069 menyebabkan kerjaan Sriwijaya kehilangan kekuasaannya atas Selat Malaka, kemudian tak lama setelah itu, Kerajaan Sriwijaya runtuh dan aktivitas perdagangan di Selat Malaka semakin ramai.

Sebagai jalur penghubung dengan rute tersingkat antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, Selat Malaka memilki peranan penting dalam kegiatan transportasi perdagangan dunia, Selat Malaka sebagai salah satu selat tersibuk di dunia, memiliki frekuensi lalu lintas kapal kurang lebih 200 kapal perharinya, atau dapat mencapai 70.000 sampai 80.000 kapal per tahunnya, berbagai negara menggantungkan kegiatan ekspor dan impornya melalui Selat Malaka, tak heran, potensi yang terdapat di Selat Malaka sangat besar dari segi geopolitik dan geoekonomi dunia. dalam segi geopolitik Indonesia dapat mengambil peranan keamanan dan keselamatan dalam keberlangsungan lalu lintas kapal di wilayah Selat Malaka. berdasarkan catatan yang ada, angka kecelakaan kapal pada tahun 2010-2015 sejumlah 331 kejadian yang terjadi di Selat Malaka,dengan kata lain terdapat dua kecelakaan tiap pekan,  kondisi demikian tentu berdampak sangat besar terutama kerugian materi hingga miliaran USD, selain itu terdapat kekayaan lingkungan yang memiliki nilainya tak terbatas.

Secara keseluruhan Indonesia dapat mengambil keuntungan dari keberadaan Selat Malaka di wilayah Indonesia, dalam upaya meningkatkan keamanan dan kesalamatan, Indonesia perlu mengambil peran dalam kebutuhan tersebut, hal ini sejalan dengan keputusan menteri perhubungan Nomor BX.28/PP 304 tentang Pemberian Izin kepada PT Pelindo I melaksanakan Pelayanan Jasa Pemanduan dan Penundaan Kapal pada Perairan Pandu Luar Biasa di Selat Malaka dan Selat Singapura., melalui PT Pelindo I pemerintah menyelenggarakan pemanduan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka, di mulai pada tanggal 10 April 2017.

Jika merujuk pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, perairan Indonesia terbagi menjadi dua kategori pemanduan, yakni perairan wajib pandu yang mengharuskan kapal berukuran 500 gross tonnase wajib dilakukan pemanduan karena kondisinya, kemudian perairan pandu luar biasa yang merupakan wilayah perairan yang tidak wajib dilakukan pemanduan, akan tetapi apabila nahkoda membutuhkan pemanduan, maka dapat mengajukan permintaan jasa pemanduan, perairan Selat Malaka sendiri termasuk pada periaran pandu luar biasa, sehingga kapal yang melewati tidak diharuskan dilakukuan pemanduan.

Dengan potensi yang cukup besar dan letak strategisnya, Selat Malaka perlu di manfaatkan secara maksimal oleh pemerintah Indonesia, terutama potensi ekonomi yang berorientasi kepada ekonomi rakyat di sekitar Selat Malaka, pengadaan pemanduan oleh PT Pelindo I di Selat Malaka dirasa kurang dalam mengoptimalkan potensi yang ada, pembangunan pelabuhan dan peningkatan produksi barang di daerah sekitar Selat Malaka bisa menjadi motor penggerak ekonomi karena akses yang mudah dalam pendistribusian barang melalui Selat Malaka.