Guru Biasa versus Guru Luar Biasa

OLEH: Ramdan Hamdani
Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial

Kegelisahan yang sangat luar biasa saat ini dirasakan oleh para guru honorer yang tengah mengabdi di berbagai jenjang pendidikan.

Betapa tidak, di tengah semakin meningkatnya kebutuhan hidup, mereka justru terancam kehilangan pekerjaan yang selama ini digelutinya.

Bersiap untuk mencari pekerjaan lain atau melakukan demo besar – besaran pun nampaknya menjadi pilihan yang akan diambil oleh para para pahlawan tanpa tanda jasa itu.

Adapun rencana penghapusan tenaga honorer di berbagai instansi (termasuk sekolah) oleh pemerintah menjadi penyebab gaduhnya dunia pendidikan saat ini.

Alih – alih memberikan dukungan (SDM dan materi) kepada sekolah – sekolah yang kekurangan, pemerintah justru akan menambah beban sekolah dengan kebijakan yang dipandang tidak masuk akal tersebut.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan memberikan sanksi tegas kepada sekolah maupun pemerintah daerah yang melakukan rekrutmen tenaga honorer.

Pemerintah berdalih, tenaga honorer yang saat ini mengabdi di berbagai instansi sangat membebani keuangan negara sehingga dipandang perlu dilakukan “penataan”.

Ada dua hal yang menjadi catatan penulis menyikapi rencana pemerintah tersebut.

Pertama, memandang keberadaan guru honorer sebagai beban bagi negara merupakan paradigma keliru yang perlu diluruskan.

Kenyataan menunjukkan, cukup banyak sekolah yang mengandalkan tenaga honorer agar tetap dapat memberikan layanan pendidikan dengan baik kepada masyarakat.

Artinya, guru honorer sebenarnya lebih layak dipandang sebagai pilar pendidikan sekaligus aset bangsa. Adapun besarnya anggaran yang diperlukan untuk menggaji mereka hendaknya dilihat sebagai investasi yang akan mendatangkan profit di kemudian hari, bukan dilihat sebagai beban yang merugikan negara. Dust, perbedaan paradigma inilah yang membedakan negara maju dan negara berkembang.

Kedua, jika selama ini masyarakat mengenal ada dua jenis guru, yaitu guru honorer dan guru PNS, penulis justru berpandangan bahwa hanya ada guru biasa dan guru luar biasa. Adapun yang membedakan kedua guru tersebut bukanlah status yang melekat padanya, melainkan karakteristik yang dimilikinya.

Baca Juga : Menyoal Konsistensi Sistem Zonasi

Guru biasa adalah guru yang mengajar hanya sebatas apa yang tercantum dalam kurikulum, selebihnya siswalah yang harus mencari sendiri.

Baginya, kewajiban dianggap sudah terpenuhi manakala seluruh siswa telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Adapun tercapainya Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dalam setiap evaluasi yang dilakukan dijadikan satu-satunya parameter untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran. Guru semacam ini biasa disebut juga guru “saongkoseun”.

Ciri lain yang dimiliki oleh guru biasa adalah (terlalu) menggantungkan hidupnya dari tempat dimana mereka bekerja.

Guru jangan pasrah pada keadaan

Dunia seakan runtuh apabila mereka tidak lagi bekerja di tempat tersebut. Padahal, di luar sana cukup banyak peluang dan kesempatan yang bisa diraih untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Adapun rendahnya motivasi untuk senantiasa meningkatkan kompetensinya dari waktu ke waktu juga menjadi pembeda guru biasa dengan guru luar biasa di samping kinerjanya yang belum sesuai harapan.

Demikian pula dalam menyikapi keterbatasan (sarana) yang dimiliki oleh lembaga, guru biasa hanya bisa pasrah pada keadaan dan tidak berusaha membuat perubahan.

Mereka cederung memilih untuk menunggu datangnya perubahan atau perbaikan seiring pergantian pucuk pimpinan di lembaga tempat mereka bekerja. Mereka enggan mencari solusi lain untuk mengatasi permasalahan yang ada.

Berbeda dengan guru biasa, guru luar biasa adalah mereka yang menjadikan pekerjaannya sebagai panggilan jiwa. Mampu mempersembahkan performa terbaiknya di dalam dan di luar kelas menjadi tujuan utamanya.

Harus terus berinovasi

Guru luar biasa juga dapat dilihat dari kreativitasnya dalam menciptakan berbagai karya inovasi pembelajaran serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kecilnya pendapatan bukanlah halangan baginya untuk terus berinovasi.

Selain itu, guru luar biasa juga sangat jeli melihat berbagai peluang sehingga mampu meningkatkan “nilai jual” mereka di hadapan pengelola lembaga maupun di luar lembaga.

Keterbatasan atau kekurangan yang ada pada lembaga mereka jadikan tantangan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik tanpa harus menunggu lebih lama.

Selalu berpikir solutif mereka tunjukkan setiap kali menghadapi permasalahan.

Dalam konteks keterbatasan sarana dan media pembelajaran, guru luar biasa akan berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan berbagai benda yang ada di sekitar lingkungan sekolah.

Mereka menyadari bahwa setiap sekolah memiliki persoalan yang berbeda – beda sehingga tidak akan membanding – bandingkan lembaga tempat mereka bekerja dengan lembaga lainnya.

Menjadi pembelajar sepanjang hayat merupakan ciri lain yang dimiliki oleh guru luar biasa. Berbagai kegiatan seminar ataupun pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga benar – benar dijadikan kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya.

Guru luar biasa sadar betul bahwa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan karakteristik peserta didik dari waktu ke waktu merupakan tantangan yang harus dijawab dengan cara terus meningkatkan kemampuannya.

Jadikan buku sebagai teman setia

Tak hanya itu, menjadikan buku sebagai teman setia pun dilakukannya dalam rangka menambah wawasan yang berkaitan dengan keilmuannya.

Berdasarkan penjelasan di atas, rencana penghapusan tenaga honorer sebagaimana ramai diberitakan hendaknya dijadikan tantangan oleh para guru honorer bahwa keberadaan mereka benar – benar layak dipertahankan.

Senantiasa menunjukkan performa terbaiknya mutlak dilakukan oleh para guru honorer guna meyakinkan pemerintah (pusat dan daerah) serta masyarakat bahwa kehadiran mereka sangatlah dibutuhkan.

Mempersembahkan pembelajaran yang berkualitas serta senantiasa meningkatkan kompetensinya dari waktu ke waktu merupakan cara satu – satunya bagi guru honorer untuk mempertahankan eksistensinya di masa yang akan datang.

Karena pada hakikatnya, ikhtiar dan do’a tak akan pernah menghianati hasil. (*)