Indonesia Berkah dengan Syariah Kaffah

Oleh: Herawati Hartiyanti Lestari

Praktisi Pendidikan di Subang Pantura

Awal tahun 2020 adalah awal yang tepat untuk bermuhasabah. Meninjau ulang minimal setahun ke belakang, apakah kondisi kita sudah lebih baik dari sebelumnya atau justru lebih buruk.

Pasalnya, kita bisa merasakan bahwa Indonesia ini tengah mengalami krisis multidimensi. Pengangguran dimana-mana, utang Indonesia yang mencapai 7000 triliun, BPJS defisit menyebabkan kerugian RS, listrik dan BBM mahal dan masih banyak lagi.

Itulah yang dipaparkan Ustadzah Mumun dalam sebuah pertemuan para Mubaligoh se-Kapursuci beberapa waktu lalu. Menurut beliau krisis multidimensi ini terjadi karena pemerintah hari ini mengurusi masyarakat tidak sesuai dengan aturan Allah, dan tidak sesuai dengan yang dicontohkn Rasulullah serta Khulafaurrasyidin.

Dengan aturan yang tidak sesuai ini, akhirnya menyebabkan kedzoliman dimana-mana yang berakhir pada kesengsaraan rakyat yang tak berujung. Seperti misalnya: Pembuatan jalan tol dengan tarif yang mahal menyebankan tidak bisa dinikmati rakyat biasa, bandara dibuat untuk mempermudah kepentingan para pengusaha, impor terus menerus menyebabkan barang lokal terjepit turun drastis, lumbung padi berubah menjadi kawasan industri yang menyebabkan para petani kehilangan mata pencahariannya, lapangan pekerjaan yang sulit menyebabkan ekonomi sulit berujung kerusakan rumah tangga, dan masih banyak lagi.

“Begitulah kini yang terjadi, semuanya bagaikan rantai setan yang saling berkaitan. Semua itu dikarenakan kesalahan yang sistematis”, Usatdzah Mumun menambahkan.

Beliau mengungkapkan bahwa islam hanya akan berkah dengan syari’ah kaffah. Tidak seperti hari ini, dimana orang-orang hanya menggunakan islam sebagai ibadah ritual saja. “islam hanya dipakai untuk shalat, tetapi tidak dipakai untuk mengurusi ekonomi dan politik”, pungkasnya.

Faktanya hari ini islam kaffah yang bersumber dari Qur’an Sunnah dan berasal dari ajaran Rasulullah malah difitnah dengan keji. Tuduhan yang tak terbukti, yang justru malah membuat penganutnya takut pada islamnya sendiri.

“Ibu-ibu pengajian bahkan PAUD pun dituduh radikal, tidak turut mengucapkan natal dianggap intoleran, ajaran islam dituduh pemecah belah bangsa, tidak melaksanakan bhineka tunggal ika, karena istilah kafir islam dianggap penuh ujaran kebencian. Semua itu tuduhan yang diarahkan pada islam, islam yang sesungguhnya ingin mencari keberkahan dengan syariah kaffah” tegasnya dalam acara yang berlangsung di Karawang itu.

Dalam pertemuan itu beliau juga memaparkan bahwa program-program ini sesungguhnya adalah agenda kafir timur dan barat. Mereka menggunakan pisau bermata dua. Disisi lain mereka ingin menghalangi kebangkitan islam yang akan menyingkirkan kapitalisme, dan disisi lain mereka ingin menutupi boroknya sistem kapitalisme saat ini. Sehingga mereka merasa eksistensi nya tengah terancam jika islam berjaya.

Di akhir kesempatannya beliau memberikan semangat kepada hadirin untuk tetap mempelajari islam, mengamalkan dan mendakwahkannya tanpa pernah takut dengan istilah radikal. Kritik terhadap pengelolaan sistem pemerintahan yang salah harus tetap berjalan, karena itulah justru yang menjadi biang kerok segala permasalahan di negeri kita hari ini. Islam yang didalamnya mengatur masalah ekonomi, politik, pendidikan, sanksi hukum, politik luar negeri, dan yang lainnya akan mampu menjadi solusi atas permasalahan di negeri kita selama ini. (*)