Islam Menjamin Kesejahteraan Rakyat

Oleh Iis Nur

Pegiat Dakwah dan Ibu Rumah Tangga

“Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

Beberapa kutipan lirik lagu yang berjudul “Kolam Susu” karya Band Koes Plus di atas menunjukkan betapa harus kita syukuri hidup di negeri Indonesia yang begitu subur dan kekayaan alamnya pun sangat berlimpah.

Sayangnya lirik tersebut tak lagi sesuai dengan kondisi sekarang. Kekayaan yang tersisa sudah banyak yang beralih fungsi dan juga beralih kepemilikan. Jika dulu, tongkat, kayu dan batu jadi tanaman, saat ini kebalikannya. Tongkat, kayu dan batu jadi gedung bertingkat. Lahan pertanian dan perkebunan disulap jadi tenpat wisata, mall, hotel, jalan tol, dll. Sehingga ketahanan pangan di negeri ini semakin terancam, generasi terdampak gizi buruk dan stunting.

Keadaan tersebut diperparah dengan adanya pandemi virus Covid-19 yang entah kapan akan berakhir. Khususnya yang terjadi di Kabupaten Bandung sehingga menjadi perhatian khusus Bupati Bandung Dadang Supriatna.

Dilansir oleh media online Bisnis.com Bandung (09/05/2021) Bupati Dadang Supriatna menyatakan akan mengevaluasi program peningkatan ketahanan pangan guna percepatan penanganan stunting di Kabupaten Bandung. Terlebih dalam situasi pandemi virus Covid-19 saat ini, ada empat aspek yang mempengaruhi prevalensi angka stunting yaitu aspek ketersediaan, distribusi, konsumsi, dan keamanan pangan.

Hal ini disebabkan para petani lokal belum memiliki sikap yang konsisten dalam produksi sehingga sistem pertanian yang terpadu tidak bisa optimal, serta mekanisme pertanian yang tidak merata. Juga masih dikuasainya distribusi oleh mafia kartel sehingga membuat harga produk di pasaran menjadi mahal yang mempengaruhi daya beli masyarakat.

Sistem ekonomi kapitalisme yang diadopsi negeri ini mengukur segala sesuatu berdasarkan keuntungan secara materi, terutama bagi penguasa dan pengusaha. Mereka akan melakukan segala cara meski harus membuat rakyat menderita, kelaparan dan meninggal dunia. Lahan garapan digusur, kran impor menganga, harga kebutuham pokok melambung, kesehatan mahal, serta biaya pendidikan tak terjangkau.

Penguasa dalam sistem kapitalisme bertindak sebagai regulator dan fasilitator bagi kaum pemodal dengan alasan meningkatkan ekonomi negara. Sementara rakyat jadi sapi perahan pengusaha menjadi kuli dan menjadi korban pemalakan penguasa melalui pajak. Jadi, mana mungkin rakyat sejahtera jika pengelolaan SDA yang tersisa dikuasai kapitalis?

Berbeda dengan Islam yang mewajibkan terealisasinya jaminan kebutuhan pokok berupa sandang, pangan dan papan. Islam sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dan melayaninya dengan maksimal. Islam mengatur dengan rinci dalam pendistribusian pangan, pengelolaan, kepemilikan,  ada dalam kontrol serta perlindungan negara yang tujuannya untuk kesejahteraan rakyat, yang berasaskan pada syariat serta maslahat.

Dalam pandangan ekonomi Islam, pemerintah mempunyai kewenangan dalam menentukan kebijakan penggunaan lahan untuk kepentingan negara dan masyarakat. Dalam distribusi peran pemerintah wajib menciptakan distribusi yang adil dan mekanisme pasar yang sehat dan efisien. Sehingga rakyat dapat dipastikan tercukupi kebutuhannya.

Pemerintah juga mempunyai kewenangan untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang akan merusak mekanisme pasar seperti penimbunan, monopoli, dan oligopoli pengusaha besar kepada komoditas tertentu, asimetris informasi, terputusnya jalur distribusi dengan menghalangi barang yang akan masuk ke pasar, maupun cara-cara lain seperti mengimpor barang. Pemerintah dapat menjaga permintaan dan penawaran tetap stabil hingga daya beli masyarakat pun tetap stabil.

Dalam kondisi sulit, negara akan membuka peluang berinfak bagi para aghniya berupa dharibah (pajak) yang berlaku sementara hingga kondisi stabil. Pemimpin dalam institusi Islam tidak akan membiarkan adanya intervensi terhadap harga yang bisa mengancam ketahanan pangan dan tumbuh kembang anak, karena sulitnya mendapatkan nutrisi. Rasulullah saw. bersabda :

“Siapa saja yang melakukan intervensi harga atas mereka, maka adalah hak bagi Allah untuk mendudukkannya di tempat duduk dari api pada hari kiamat kelak” (HR Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi)

Menurut Ibnu Taimiyah kestabilan harga di pasar harus ada peran pemerintah/negara dalam memasok barang atau mengurangi pasokan barang ke pasar. Selain itu, pemerintah/negara harus menjamin bahwa transaksi perdagangan di pasar bebas dari spekulasi dan kecurangan serta adanya praktik riba.

Dengan adanya peran pemerintah/negara dalam mengontrol kestabilan harga pasar, maka daya beli rakyat tidak labil dan dengan daya beli masyarakat  dapat terkendalikan hingga masalah stunting tidak akan terjadi.

Itulah beberapa mekanisme yang akan diterapkan pemimpin dalam sistem Islam yang tidak akan ditemukan dalam sistem manapun. Oleh karena itu permasalahan stunting akibat hilangnya ketahanan pangan hanya dapat dituntaskan dengan penerapan syariat Islam secara kaffah. Karena syariat Islam mewajibkan kepada penguasa untuk melayani umat secara maksimal sebagai bagian dari tanggung jawabnya. Ibn Umar ra berkata : saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda :

“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. ……………… Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban atas perihal rakyat yang dipimpinnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam bi ash-shawab