Karakteristik Pelaku Mobilitas Ulang Alik dan Sirkulasi

Yang Menggunakan Jasa Transportasi Kereta Pramex Solo Yogya

Oleh: Drs.Priyono,MSi
Dosen dan WD I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Penelitian mobilitas penduduk khususnya penduduk Jawa sebelum tahun 1970 lebih difocuskan pada mobilitas yang sifatnya permanen seperti migrasi dan transmigrasi, sesuai dengan kebutuhan saat itu untuk redistribusi penduduk sehingga banyak kita dapatkan penduduk Jawa tersebar di luar Jawa untuk menggarap lahan pertanian/perkebunan dan untuk tujuan redistribusi penduduk. . Baru mulai tahun 1970 banyak studi mobilitas yang tidak menetap seperti mobilitas ulang alik atau commuter, mobilitas menginap atau sirkulasi.

Dalam kajian teoritis mobilitas penduduk, dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan interaksi dua daerah dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan penduduk. Dalam aspek yang lain, mobilitas penduduk diharapkan mempercepat modernisasai. Solo dan Yogya adalah dua kota di Jawa yang memiliki interaksi yang sangat kuat karena jaraknya yang relative dekat, sekitar 60 km, aksesibilitas yang tinggi dengan jalan yang mulus serta relative datar. Disamping itu kedua kota tersebut merupakan kota budaya dan pendidikan sehingga punya daya tarik yang memikat. Dalam sebuah penelitian Kasto dikatakan bahwa daya tarik kota Yogyakarta sebagai kota budaya/wisata dan pendidikan lebih kuat dibanding sebagai kota perdagangan atau bisnis.

Dua kota tersebut memiliki mode transportasi yang bervariasi dan relative murah mulai dari kendaraan umum sampai kereta api Prambanan Ekpres yang bebas hambatan dan hanya memerlukan waktu yang relative singkat, cukup 60 menit. Jadi penyediaan jasa transportasi yang bagus sangat menunjang terjadinya mobililitas ulang alik karena pelaku mobilitas bisa pulang pada hari yang sama bertemu keluarga, merasakan kenyamanan, keamanan, kecepatan, ketepatan dan kemurahan, itulah keunggulan Prambanan Ekpres ( Pramek ).

BACA JUGA:  Antroposen : Jajak Baru Peradaban Manusia?

Pramek memiliki keunggulan yang bervariasi maka banyak penglaju atau pelaku mobilitas ulang alik dari Solo ke Yogya atau sebaliknya dengan memanfaatkan jasa transportasi yang satu ini. Pramek sebagai salah satu mode tranportasi yang favorit untuk perjalanan dari Solo-Yogyakarta dan ke kota lain. Dengan menggunakan pramek, penglaju bisa mencapai kota besar lainnya sesuai kebutuhan yang diperlukan. Oleh karenanya jumlah penumpang pramek meningkat significant dari tahun 204-2016.

Dari tahun 2014 ke 2015 jumlah penumpang meningkat 18,5 persen sedangkan tahun berikutnya meningkat sangat significant sebesar 60 persen. Rata rata penumpang per hari yang menggunakan jasa pramex mencapai 4.566 pada tahun 2014 menjadi 7.535 pada tahun 2016. Kata Mantra(1975), bila suatu kota ingin tidak terjadi migrasi yang berlebihan maka bangunlah sarpras atau infrastruktur yang memadai sehingga penduduk bisa mengakses dengan cepat dan murah dan akan berdampak terhadap turunnya migrasi dan mengurangi degradasi dan masalah lingkungan lainnya.

Penelitian pelaku mobilitas ulang alik dengan menggunakan Pramex antara Solo-Yogya menggunakan tehnik non probability sampling karena keterbatasan informasi jumlah penumpang tiap hari dan memilih 50 orang responden laki laki serta 50 orang responden perempuan dengan cara purposive proportional quota sampling. Data dikumpulkan melalui pengguna jasa dengan memilih waktu waktu padat penumpang. Penumpang diwawancarai di saat pagi buta, pagi, sore hingga malam. Peneliti mewawancarai pada jam 05.15 kemudian 07.20, sedanga sore atau saat mereka pulang, diwawancarai pk 17.02 dan 20.02. Diharapkan dengan memilih waktu yang saat penumpang padat, diharapkan bisa mengungkap pola dan profil pelaku mobilitas ulang alik.

Penumpang kereta Pramex ternyata meliputi segala umur baik yang berumur belum produktif atau kurang dari 15 tahun, umur produktif atau 15-64 tahun dan yang sudah lagi produktif atau umur 65 tahun ke atas, tapi lebih dominan pada umur produktif. Ini berarti jasa transportasi kereta menjadi pilihan bagi mereka yang berumur muda maupun tua artinya dari segi kenyamanan, dapat diandalkan. Temuan lain yang menarik bahwa penglaju dengan kereta pramek ternyata 90 persen memiliki jenjang pendidikan sarjana . Jenis pekerjaan mereka didominasi sebagai pekerja, sekitar 82 persen, baik pekerja di rumah sakit, bank dan sales promotion di mall. Yang bekerja di instansi pemerintah seperti pemda Sleman, RS Sarjito dan beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Ada 2 dokter wanita yang bekerja di RS Sarjito memilih jasa transportasi ini. Pemilihan mode transportasi juga terkait dengan unsur murah tapi juga ketepatan waktu.

BACA JUGA:  Refleksi Akhir Tahun 2019: Berhenti Berharap Pada Rezim Ingkar Janji

Pendapatan mereka selama satu bulan, delapan puluh dua persen berkisar RP 3,1-6 juta dan pendapatan laki laki lebih besar dibanding perempuan. Pendapatan terendah yang diperoleh sekitar kurang dari Rp 1 juta, sedangkan pendapatan paling tinggi mencapai lebih besar Rp 9 juta. Record pendapatan ini dimiliki oleh mereka yang bekerja sebagai pengusaha dan dokter di RS.

Tanggungan keluarga mereka kebanyakan sedikit atau tidak memiliki tanggungan keluarga yang banyak. Kebanyakan hanya memiliki dua tanggungan keluarga dan hanya dua responden yang memiliki tanggungan keluarga lebih dari 4 orang(isteri,anak,keluarga lain). Tanggungan keluarga ini memiliki pengaruh terhadap motivasi mereka untuk melakukan mobilitas termasuk jarak, perilaku mobilitas dan jenis pekerjaan. Teori migrasi Ravenstein mengatakan bahwa para migran akan memilih jarak yang relative dekat dengan pertimbangan mereka masih bisa bertemu dengan keluarga mereka, akan merasakan lebih nyaman. Pada umumnya migran memilih daerah yang memiliki utility yang lebih baik dari daerah asal.

Pola mobilitas pengguna jasa pramek hampi 80 persen merupakan penglaju atau mobilitas ulang alik, ini sesuai hukum migrasi dari Ravenstain bahwa mereka lebih secure dan nyaman bisa bertemu dengan keluarga dan dari segi interaksi antar daerah akan lebih menguntungkan, termasuk bisa mengurangi beban lingkungan, permukiman,transportasi di tempat destinasi. Problem migrasi ke kota besar akan berdampak terhadap akumulasi masalah tersebut, yang selama ini menjadi ciri khasnya. Mode tranportasi yang digunakan ke stasiun maupun dari staasiun ke tempat bekerja, sebagian besar menggunakan sepeda motor dan yang lain memanfaatkan ojek online serta alat transport yang lain sesuai kemampuan keuangan dan kenyamanan.

Nampaknya pemilihan mode transportasi sangat terkait dengan ketepatan waktu tempuh dari daerah asal ke daerah tujuan, factor kenyamanan, keamanan, kemurahan dan kemudahan datang maupun pergi ke tempat kerja. Jika Pemerintah dapat menyediakan layanan tranportasi yang memiliki karakteristik tersebut maka ghiroh pelaku mobilitas sirkuler akan meningkat dan kata Lewis(1956) akan meningkatkan kesejahteraan mereka. Pelaku mobilitas sirkuler jadi pemberi kontribusi terhadap menurunnya masalah lingkungan di kota besar karena mereka tidak menetap di daerah tujuan. Memang agak beda dengan teorinya Mitchel(1957), mobilitas menuju kota harus selektif, jika tidak maka akan menyebabkan reduksi tenaga kerja pertanian di daerah pedesaan yang berimplikasi terhadap menurunnya produktivitas pertanian dan sekaligus mereduksi industry perkotaan yang berbasis pertanian. (*)