Kaum Boro, Antara Peluang dan Tantangan

Dony Purnomo, S.Pd
Guru Geografi SMAN 1 Purwantoro

Kabupaten Wonogiri merupakan Kabupaten yang terkenal dengan istilah Kaum Boro. Boro sebenarnya berasal dari bahasa jawa yang artinya perantau. Kaum Boro merupakan sebutan untuk penduduk yang melakukan perpindahan dari wonogiri menuju berbagai daerah di Indonesia untuk bekerja.

Berdasarakan data Disnakertrans Kabupaten Wonogiri pada tahun 2019 terdapat 260 ribu jiwa merantau ke luar Wonogiri. Angka tersebut menandakan bahwa seperempat penduduk Wonogiri merantau keluar daerah untuk mengadu nasib dan mencari nafkah di luar daerah.

Kegiatan merantau yang dilakukan oleh masyarakat Wonogiri telah berlangsung lama sehingga di kota-kota besar banyak warung yang memakai nama Wonogiri terutama untuk warung bakso dan mi ayam. Seiring dengan perkembangannya kini kegiatan migrasi yang dilakukan oleh Kaum Boro semakin intensif. Beberapa pendukung yang membuat arus migrasi perantau Wonogiri menjadi lebih intensif diantaranya;

Pertama, Tersambungnya tol transjawa yang menghubungkan ujung barat pulau jawa hingga ujung timur pulau jawa membuat waktu tempu semakin cepat. Sebagai contoh perjalanan antara Wonogiri-Jakarta yang sebelum ada tol ditempuh dengan waktu selama 18 jam kini dapat ditempuh hanya dalam waktu 10-12 jam saja.

Kedua, Semakin meningkatkan kualitas sarana transportasi. Kini para operator bus menyediakan armada yang semakin baik dengan harga yang terjangkau bagi para perantau. Harga tiket bus untuk kelas eksekutif dibandrol dengan harga 180 ribu-200 ribu. Sedangkan untuk kelas VIP dibandrol dengan harga 160 ribu-175 ribu.

Ketiga, lapangan pekerjaan di Wonogiri yang belum sesuai dengan harapan warga Wonogiri. Kini beberapa pabrik besar sudah berdiri di Wonogiri namun para pekerja di sektor industri masih memilih luar daerah untuk bekerja karena UMK Wonogiri yang masih deretan bawah di Provinsi Jawa Tengah.

BACA JUGA:  DOSEN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Perpindahan penduduk ini seperti pisau bermata dua ketika tidak dikendalikan dengan baik maka akan merugikan Wonogiri dimasa yang akan datang. Tetapi jika dapat dikelola dengan baik maka akan memberikan dampak yang positif untuk masa depan Wonogiri.

Sisi negatif terjadinya migrasi penduduk adalah kurang optimalnya pengelolaan potensi desa. Para generasi muda lebih memilih untuk pergi keluar daerah daripada mengembangkan potensi yang ada di daerah asalnya. Hal itu bukan tanpa alasan karena daerah perantauan lebih menjanjikan dibanding dengan bekerja di daerah asalnya.

Dengan adanya kurang optimalnya pengelolaan potensi desa ini membuat desa-desa menjadi kurang maju dan potensi kurang optimal dalam pengelolaannya. Sebagi contoh di sektor pertanian, kini sudah sangat sulit mencari tenaga yang mau bekerja di sektor pertanian. Kenyataan yang ada sektor pertanian dikelola oleh orang-orang yang sudah berusia tua. Jika ini berlanjut maka sektor pertanian di desa akan terbengkelai karena tidak ada penerusnya.

Fenomena Kaum Boro ini merupakan fenomena yang telah terjadi secara turun temurun sehingga diperlukan upaya untuk merangsang para Kaum Boro ini untuk turut serta mengembangkan dan memajukan Wonogiri. Bagi para perantau yang telah sukses dirangkul dan diajak untuk turut memajukan Wonogiri melalui alih modal dan investasi dari perantauan ke Wonogiri sehingga akan membuka lapangan kerja di Wonogiri.

Bagi para perantau yang masih muda harus dibekali keterampilan sehingga ketika mereka terjun ke perantauan dapat bekerja dan berwiraswasta dengan baik. Jika bekal yang mereka miliki sudah memadai mereka akan dapat bekerja pada sektor-sektor yang dapat meningkatkan pendapatannya. Sebaliknya Jika merantau tanpa berbekal keterampilan dan pengalaman hanya akan menimbulkan masalah baru di daerah tujuan. Peran aktif dan bermakna dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam manajemen migrasi ini sehingga para perantau akan memberikan dampak positif bagi pembangunan Kabupaten Wonogiri dimasa yang akan datang. (*)