Kemampuan Berkreasi dan Inovasi Masyarakat pada Masa Pandemi Covid-19 Berupa Produk Konsumsi Berbahan Dasar Kulit Nanas

Oleh : Riezfa Aldhia Rachmi

Mahasiswi Pendidikan Biologi di Universitas Pendidikan Indonesia

Pada awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan merebaknya virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan penyakitnya disebut Coronavirus disease 2019, atau lebih familiar disebut Covid-19. Asal mula virus ini berasal dari Wuhan, Tiongkok. Ditemukan pada akhir Desember 2019, dan pada saat ini telah lebih dari 188 negara yang terjangkit virus ini, sehingga kejadian ini sudah dikatakan sebagai pandemi. Hal ini tentu mengharuskan pemerintah Indonesia dan semua pihak yang terkait untuk ikut berperan serta dalam mengatasi dampak Covid-19. Para dokter umum, spesialis, dan tenaga kesehatan angkat bicara untuk memberi himbauan kepada masyarakat agar menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sekaligus meminimalisir aktivitas diluar. Oleh karena itu, pemerintah akhirnya memutuskan kebijakan agar masyarakat beraktivitas dari rumah agar menghindari diri dan meminimalisir terjadinya kerumunan ditempat umum. Dengan cara ini diharapkan dapat menghindari penyebarluasan virus dan memutus rantai penularan virus tersebut.

Dengan keterbatasan akses yang disebabkan oleh keputusan pemerintah, akhirnya aktivitas masyarakat menjadi terbatas dan ruang lingkup berkegiatan yang lebih sempit. Namun tentu saja hal itu tidak dapat membatasi kreativitas masyarakat dalam membuat produk inovatif, terutama dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitar tempat tinggalnya. Contohnya di Desa Wangunsari, Lembang, sebagai wilayah yang dekat dengan banyak penjual buah nanas, tentu banyak ditemukan limbah kulit nanas yang tidak terpakai dan terbuang. Hal itu ternyata dapat dimanfaatkan dengan memproduksi sebuah produk yang lebih bermanfaat bagi masyarakat serta dapat dikonsumsi. Berdasarkan kandungan nutriennya, ternyata kulit buah nanas mengandung karbohidrat dan gula yang cukup tinggi. Kulit nanas mengandung 81% air, 20,87% serat kasar, 17,53% karbohidrat, 4,41% protein dan 13,65% gula reduksi. Karena kandungan kulit nanas masih bisa dimanfaatkan, akhirnya terbentuklah sebuah inovasi pembuatan nata dengan bahan dasar kulit nanas.

Nata merupakan makanan yang sudah tidak asing, dan sering dikonsumsi oleh masyarakat sebagai camilan atau pelengkap minuman. Namun biasanya nata dibuat dengan air kelapa, sehingga produknya dinamakan nata de coco. Kali ini, inovasi yang dilakukan yaitu membuat nata dengan bahan dasar kulit nanas, yang bernama nata de pina.

Pembuatan produk ini sangatlah sederhana, dengan memilah kulit nanas yang layak digunakan, lalu dipisahkan dengan sisik yang menempel, dan diambil sari-sari kulit nanas untuk selanjutnya diolah menjadi nata de pina dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum. Setelah itu ditunggu beberapa hari untuk melangsungkan proses fermentasi, hingga terbentuk lapisan nata, yang selanjutnya bisa dipotong-potong dan direbus, hingga nata de pina siap untuk dikonsumsi. Selain kandungannya yang bermanfaat, nata ini tentu berperan dalam mengurangi limbah kulit nanas yang dianggap tidak bermanfaat lagi.