Kematian George Flyod dan Beberapa Kulit Hitam lain Memicu Gelombang Demontrasi di Amerika Serikat

Oleh: Kartika Putri Nandani

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Rasisme merupakan pandangan atau paham yang kuat yang dianut oleh masyarakat untuk menolak atau tidak suka terhadap paham berdasarkan ras, derajat dan lainya dengan memandang nilai sosial dimasyarakat tersebut tidak dapat diterima bahkan disalahkan, sehingga mengakibatkan terjadinya deskiminasi bahkan kekerasan sosial.

Dalam sejarah dunia barat, terdapat masa sulit terhadap konflik warna kulit. Memperjuangakan dan menyetarakan hak kulit hitam dengan kulit putih pada saat itu, kulit hitam dijadikan budak dan diperlakukan tidak adil, sedangkan kulit putih dianggap memiliki status sosial diatas kulit hitam.
Konflik kulit hitam dan kulit putih dianggap sebagai tindakan diskriminasi.

Diskriminasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok secara kurang adil terhadap individu atau kelompok lain. Banyak kasus menyebutkan terjadinya diskriminasi yang menjadi momok terbesar dan sangat sulit untuk benar-benar dimusnahkan terdapat di dunia, terutama Amerika.

Tewasnya seorang pria berkulit hitam di Minneapolis, Amerika Serikat. Pada hari Senin, 25 Mei 2020 menjadi pemberitaan dan buah bibir masyarakat di media sosial. Berawal dari sebuah toko yang melaporkan bahwa terdapat kecurigaan mengenai transaksi uang palsu, si pemilik toko tersebut menelpon pihak kepolisian karena dia curiga adanya orang yang membeli barang di tokonya menggunakan uang palsu, orang tersebut adalah George Flyod.

Kedatangan 4 polisi sesuai dengan panggilan si pemilik toko, memaksa George untuk di bawa, tetapi lelaki berusia 40 tahun ini melakukan perlawanan sebelum polisi memborgol kedua tanganya. Polisi juga sempat menelpon ambulan hingga sampai salah satu diantara mereka yang bernama Derek Chauvin menikam George ke tanah kemudian menjepit lehernya menggunakan lutut menyebabkan George kesakitan hingga tidak dapat bernafas dan akhirnya tewas. Aksi tersebut telah direkam oleh saksi dan sekerumunan orang disekeliling tempat perkara untuk meminta polisi menghentikan tindakanya yang tidak manusiawi, tetapi polisi mengabaikanya.

George Floyd yang sudah tidak berdaya dibawa oleh ambulan ke rumah sakit hingga pada akhirnya dia dinyatakan benar-benar tewas. Tindakan tidak manusiawi tersebut menjadi viral di media sosial akibat tersebarnya video rekaman oleh seorang saksi, menyebabkan 4 polisi yang terlibat dikejadian tersebut dipecat dari jabatanya, kabar ini diumumkan oleh Walikota Minneapolis yang mendapat kecaman dan protes dari masyarakat untuk mengadili/menuntut ke 4 polisi yang bersangkutan dalam pasal pembunuhan. Keluarnya berita terbaru dari hasil video cctv yang berada di kejadian memperlihatkan George Floyd tidak melakukan perlawanan seperti apa yang laporan atau yag ditulis oleh polisi.

Amuk masa dan demonstran semua ras (berkulit hitam dan berkulit putih) turun ke jalan untuk menyatakan protesnya. Dilakukanya pembakaran kantor polisi di daerah setempat hingga terjadi penjarahan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab menyebabkan keadaan kota itu terpotret rusak parah, kacau, bahkan pandemi yang sedang terjadi terhiraukan.

Sebelum kejadian George Floyd terdapat kasus serupa mengenai pembunuhan orang African-American secara tiba-tiba dengan tuduhan yang tidak dibenarkan. Kasus yang terjadi pada kulit hitam bulan februari yang menimpa seorang laki-laki dan pada bulan maret menimpa seorang perempuan, dimana kasus tersebut lagi-lagi dilakukan penembakan oleh polisi berkulit putih . Adanya rasisme dan deskriminasi yang terjadi tiada habisnya, disusul dengan berita pembunuhan pada bulan Mei oleh seorang polisi berkulit putih terhadap George Floyd merupakan puncak dari kemarahan dan kemurkaan masyarakat.

Penggalangan dana hingga bermunculan banyak tagar sebagai upaya bentuk dukungan “Ras Kulit Hitam” seperti #BlackLiveMetter #SayHisName #JusticeForGeorgeFloyd menghiasasi media sosial. Pendukung anti rasis dan deskriminasi dilakukan oleh berbagai macam elemen masyarakat hingga artis Hollywood. Akibat cuitan presiden Amerika yaitu Donald Trump di twitter sangat menyulut api masyarakat, karena Trump menganggap para unjuk rasa tersebut merupakan penjahat yang tidak menghormati mendiang George Floyd, cuitan berikutnya Trump mengancam akan menindak tegas bahkan membunuh para unjuk rasa di Minnesota. Berbagai reaksi muncul akibat tanggapan Trump yang brutal akibat insiden ini.

Rasisme dan deskriminasi mengakar kuat berabad-abad di Amerika, di dunia bahkan dimana saja. Harapan agar kejadian ini menjadi kejadian terakhir, tidak menganggap perbedaan sebagai objek atau pandangan bahwasanya manusia dari segala etnis memilki martabat yang setara, tidak melihat secara picik etnis tertentu lebih tinggi martabatnya daripada etnis lain. Stigma yang mengakar kuat dan terpupuk subur di masyarakat menganggap definisi rasisme tumpang tindih dengan kebencian terhadap orang asing dan sulit dipisahkan secara tegas.Oleh karena itu setiap individu harus menampakan diri menjunjung tinggi perbedaan yang ada. (*)