Kemiskinan Ekstrem Korban dari Sistem Kapitalisme

Oleh Iis Nur

Pegiat Dakwah dan Ibu Rumah Tangga

Di lansir dari AyoBandung.com, hari kamis tanggal 28/11/2021, berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Bandung ada peningkatan sebanyak 93.000 masyarakat mengalami miskin ekstrem. Untuk menanggulangi kemiskinan tersebut Bupati Bandung Dadang Supriatna beserta jajarannya akan melakukan mapping dan penajaman database agar dapat fokus penanganannya pada titik-titik rawan kemiskinan sehingga integrasi program bisa dilaksanakan dengan baik dan dapat diselesaikan pada tahun 2024.

Meski pandemi telah hampir 2 tahun berlalu, dan angka penyebarannya pun telah berkurang namun dampaknya membuat sebagian masyarakat mengalami mengalami kemiskinan ekstrem.

Miskin ekstrem merupakan suatu kondisi yang sangat sulit akan pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti makanan, air minum bersih, fasilitas sanitasi, kesehatan, tempat tinggal dan informasi.

Adapun faktor penyebab miskin ekstrem diantaranya: Pertama, tingkat pendidikan yang rendah. Biaya pendidikan yang tinggi dalam kapitalisme tidak bisa dijangkau oleh mayoritas masyarakat, apalagi di masa pandemi. Ekonomi semakin sulit, pengangguran bertambah meningkat akibat PHK massal, usaha bangkrut sehingga banyak orang tua yang tidak bisa membiayai sekolah atau kuliah anak-anaknya. Oleh karena itu, bagi yang tidak memiliki cukup wawasan, keterampilan dan pengetahuan, akan mengalami kesulitan untuk bersaing dalam dunia usaha atau kerja. Yang akhirnya hanya cukup berperan sebagai buruh kasar dengan upah harian yang murah.

Kedua, kesehatan yang buruk. Mahalnya biaya kesehatan dalam sistem kapitalisme tidak bisa  dijangkau oleh masyarakat miskin, menyebabkan masyarakat produktif berpenyakitan tidak bisa memenuhi standar perusahaan.

Ketiga, sumber daya alam diserahkan pengelolaannya kepada swasta, baik asing maupun lokal. Negara hanya menerima pemasukan dari sumber daya alam yang tidak seberapa. Sehingga negara tidak memiliki kemampuan mengurus rakyatnya. Ditambah  korupsi yang sudah membudaya.

BACA JUGA:  Bosan Dirumah?, Indonesia Terserah!

Keempat, lapangan kerja yang terbatas. Sudah terbatas masih membuka peluang pegawai asing masuk dalam dunia kerja, menyebabkan lapangan kerja yang terbatas bertambah sempit.

Semua faktor di atas tidak bisa dilepaskan dari penerapan kapitalisme sekuler di negeri ini. Maka dari itu kemiskinan ekstrem yang terjadi di Kabupaten Bandung juga wilayah lain merupakan kemiskinan yang sistemik, yakni sejatinya kemiskinan muncul sebagai konsekuensi logis dari penerapan sistem kapitalisme sekular. Program-program yang disuguhkan tidak akan mampu menghilangkan kemiskinan ekstrem karena tidak menyentuh akar permasalahannya.

Program Bansos dan BLT desa yang diharapkan mampu mengurangi kemiskinan nyatanya jauh dari memberikan solusi. Apalagi terbukti banyak salah sasaran, karena hanya berdasarkan data yang diterima tanpa mensurvei langsung penerima.