MANUSIA DAN PARADIGMA BUDAYA

Oleh: Pandu Suryanegara

Mahasiswa UMS, Fakultas Geografi

~ Tinggalkan Logika Pertentangan
Ada sekurang-kurangnya tiga hal sederhana tetapi dasar.

Pertama, saya ingin mengajak masyarakat untuk tidak berada dalam posisi memandang agama dengan memversuskannya kepada budaya. Apalagi buru-buru melihat budaya sebagai bertentangan dengan agama.

Saya mengantarkan pemikiran ke arah basic dulu. Tanpa ini, pembahasan mengenai problematika yang dilontarkan penggagas. pergeseran persepsi masyarakat akan budaya dan agama serta meningkatnya suasana hedonisme, tak akan bisa mencapai tahap pengkajian secara mendasar.

Apa pemahaman dasar yang dimaksud dengan budaya? Itulah poin kedua.
Yaitu, budaya adalah Iguh-nya manusia atau respon manusia terhadap kehidupan. Iguh adalah usaha, ikhtiar, dan kreativitas manusia. Segala yang termasuk ke dalam lingkup kehidupan sangat banyak dan berjenjang jenisnya. Ada yang berwujud perintah agama, ada pula alam semesta, dan ada juga tantangan sosial-budaya. Respon manusia terhadap semua hal itu nanti akan ada hubungannya dengan budaya.

Sebagai misal, di dalam menjalankan perintah agama sekalipun, ada keperluan kita kepada budaya. Allah memerintahkan kita shalat, dan untuk memenuhi syarat rukunnya, manusia perlu menutup aurat, lalu dibikinlah baju atau rukuh yang sesuai dengan syarat itu.

Upaya manusia membuat busana, sarung, sajadah, dan lain-lain itu adalah wilayah budaya manusia.

Jadi, bukan agama versus budaya, melainkan diterapkannya agama itu membutuhkan kemampuan budaya manusia. Jangan dulu bicara budaya dalam arti kesenian, tetapi pahami terlebih dahulu yang paling inti dan esensial awal dari posisi agama dan budaya di dalam diri manusia. Keduanya, rasa-rasanya saling mengandaikan, justru karena yang menerima pesan-pesan agama itu adalah manusia.

Selanjutnya poin ketiga. Bagaimana manusia merumuskan dan menjalankan iguh-nya terhadap kehidupan.
ada tiga komponen yang memandu manusia dalam membangun iguh-nya itu. Pertama yaitu bimbingan Allah Swt. Artinya, di dalam merespons kehidupan ini, di mana respons-respons itu nanti berwujud budaya, manusia mendapatkan inspirasi dan panduan dari Allah yang menyodorkan kepada mereka nilai-nilai, informasi, dan ilmu. Allah membekali manusia untuk berbudaya.

BACA JUGA:  Kampusku yang Hijau

Pola dan relasi dasar inilah yang kita harus menggenggamnya terlebih dahulu.
bahkan urip sederhana saja butuh budaya. Urip sederhana yang dimaksud bukan hidup pas-pasan, melainkan hidup dengan cara-cara yang sederhana yang belum bergantung pada teknologi dan teknokrasi. contohnya adalah bagaimana cara kita mengolah beras menjadi nasi atau dari nasi menjadi berjenis-jenis menu nasi itulah budaya. Atau bagaimana kita mengubah kayu menjadi perkakas itulah budaya. Allah menciptakan pohon kayu, manusia mengubahnya menjadi apa saja buat kebutuhan hidupnya.

Dalam sudut ini, Tuhan (yang memberi agama) dan manusia justru tampak “bekerja sama” atau berbagi peran. Sebab manusia tak mungkin langsung makan beras. Dibutuhkan iguh, kerja, dan keterlibatan manusia agar beras itu menjadi nasi.

Jembatan Bernama Pemahaman
Paparan di atas sekaligus menggambarkan bahwa antara agama dan budaya manusia itu sendiri terdapat sebuah jarak yang dihuni oleh cara manusia memahami segala sesuatu. Pemahaman dan pemikiran. Jika seseorang memandang syirik berhubungan dengan benda misalnya keris atau syirik memakai barang barang yang dipercaya mempunyai energi,
yang perlu dilihat atau ditinjau adalah bagaimana cara berpikir mereka kok bisa sampai kepada kesimpulan itu. Itulah sebabnya, syirik atau tidak itu tidak terletak pada bendanya, melainkan pada bagaimana cara kita memandang keris itu. Maka dari kita semua harus lebih akurat dan presisi dalam memahami persoalan cara pandang budaya, itu sebenarnya tidak sulit dan sudah cetho.

Ada sesuatu yang terberi. Ada sesuatu yang dari yang terberi itu lalu dibuat (secara teknologis) sedemikian rupa menjadi peranti di mana peranti dibikin seperti itu karena ada maksud dan keperluannya, umpamanya alat musik untuk mencipta keindahan. Ada alat yang dicipta untuk dinikmati keindahan yang dihasilkannya. Tetapi, juga peranti itu dapat dipakai untuk tujuan di luar keindahan sendiri, seperti kekhusyukan dan pepujian kepada Allah dan Kanjeng Nabi. gamelan dan alat musik lainnya sudah pasti berfungsi untuk keindahan, sudah pasti pula untuk membangun kekhusyukan hubungan batin dengan Allah dan Rasulullah, sudah pasti pula untuk memperindah kebersamaan di antara sesama.

BACA JUGA:  Stop Membebek Ide Rusak Barat

Allah sendiri telah menegaskan “Bertasbih segala apa yang ada di langit dan di bumi…”. Gamelan dan alat-alat musik yang hakikatnya adalah benda dari alam karenanya mustahil barang itu tidak bertasbih. Maka bahasa kulturalnya, ketika dibunyikan sebagai alat musik pun proses musikal ini diniatkan atau dibayangkan sebagai salah satu bentuk tasbihnya.

Alih-alih melepaskan sifat dan relasi budaya yang melekat pada benda-benda itu (termasuk praktik-praktik budaya lain yang hidup di dalam masyarakat) dengan misal mensyirikkan atau mengharamkan, apalagi kita hidup di lingkungan dengan berjuta-juta agama, suku, ras dan budaya, yaitu nusantara.

Untuk itu, jadilah islam, islam yang tersenyum, jadilah budha, budha yang tersenyum, jadilah hindu, hindu yang tersenyum, jadilah konghucu, konghucu yang tersenyum, jadilah kristen, kristen yang tersenyum. Apapun itu agamamu, agamamu yang tersenyum. (*)