Mempersiapkan Kuliah Online Pada Semester Gasal 2020-2021

Oleh Drs.Priyono,MSi

(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Kegiatan pembelajaran di Perguruan Tinggi pada semester genap 2019/2020 telah usai dengan ditandai yudisium nilai yang diuwujudkan dalam beberapa komponen penilaian agar ranah kognitif hingga psikomotorik ala bloom bisa dicapai dengan tuntas.

Di Universitas Muhammadiyah Surakarta yang merupakan PTS terbesar di Jawa mungkin juga di Indonesia dengan jumlah mahasiswa 30.000, semuanya dilaksanakan dengan online mulai kuliah sampai penilaian.

Komponen penilaian pembelajaran dirinci dalam beberapa item yaitu presensi online dengan bobot 5%, Ujian Tengah Semester(UTS) online berbobot 15%, Ujian akhir semester(UAS) online yang diberi bobot 50% dan tugas atau praktikum dengan bobot 30 persen. Semua dilakukan secara transparan yang dapat aplikasi yang telah tersedia sedangkan nilai akhir dalam bentuk huruf diupload di aplikasi STAR UMS sehingga mahasiswa bisa mengakses semua setiap saat.

Setelah pengumuman nilai melalui aplikasi STAR, tentu ada yang tidak puas sehingga beberapa mahasiswa ada yang complain dan itu hak mereka dan dosen beri kesempatan sampai batas waktu tertentu dan memberikan penjelasan secukupnya sehingga ada dialog antara mereka dengan catatan setelah mereka melihat nilai per komponen.

Complain terjadi biasanya pada ranah kelemahan jaringan sehingga jawaban mahasiswa gagal terupload, ada nilai komponen yang tercecer dimasukkan,pekerjaan yang sama atau plagiat,tidak mengumpulkan tugas secara istiqamah.

Kelemahan jaringan kadang dimanfaatkan oleh mahasiswa sehingga sering upload jawabannya melampui batas waktu yang ditentukan, dengan standar 3 hari. Itulah dinamika penilaian dalam system online, yang tentunya menjadi pelajaran yang berharga untuk perbaikan di masa yang akan datang. Orang beriman harus selalu mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang dialami.

Lembaga Jaminan Mutu (LJM) Universitas Muhammadiyah SurakartaUMS) menyelenggarakan webinar berseri yang ditujukan kepada seluruh dosen UMS agar pembelajaran online semester genap dilaksanakan lebih baik dan akhirnya bisa memberikan pemahaman yang bagus serta tercapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan rencana pembelajaran semester.

Menu yang diberikan dalam webinar tersebut meliputi persiapan sampai penilaian, yang jika diperinci adalah mulai dari : pembuatan ppt bernarasi, ppt atraktif,video pembelajaran,pembuatan modul pembelajaran,pembuatan rubrik, tes/tugs/quiz dan forum diskusi,aplikasi metode Learning Managemen System(LMS) dengan aplikasi standar UMS yaitu schoology dan open learning. Agar berjalan efektif maka kegitan itu dilaksanakan dengan dibatasi per kelas sebanyak 150 dosen dan dimulai pertengahan juli dan berakhir akhir agustus 2020.

Pemilihan platform pembelajaran online dengan schoology dan open learning memang didasarkan pada kenyataan bahwa dua metode tersebut yang paling disukai mahasiswa, dengan plus minusnya. Schoology cerdik dan penuh menu dalam managemen pembelajaran sedangkan open learning kuat dalam interaksi mahasiswa-dosen. Berikut disajikan hasil survai tentang metode pembelajran yang dilakukan oleh prodi Geografi UMS beberapa waktu yang lalu.

1.Schoology memperoleh 37,9 persen
2.Google meet mendapat 17,7 persen
3.Zoom meraih 25,8 persen
4.WhatsApp Group mendapat 10,5 persen

Disamping webinar tentang pembelajaran online , UMS juga memberikan materi yang terkait dengan monitoring pembelajaran yang pada level Fakultas dilaksanakan oleh Dekanat masing masing dan pada level prodi dilakukan oleh Gugus Jaminan Mutu (GJM) tiap prodi. Monitoring dimaksudkan agar kualitas pembelajaran bisa dipantau tiap minggu dan dilaporkan pada forum rapat dosen yang dilaksanakan tiap bulan.

Monitoring adalah bagian sebuah proses managemen yang penting yang bermanfaat untuk evaluasi dan dasar penentuan kebijakan. Disamping itu monitoring diperlukan dalam akreditasi program studi.

Sebuah Perguruan Tinggi yang baik akan melakukan kontrol kualitas baik di bidang pendidikan dan pengajaran, di bidang penelitian maupu pengabdian pada masyarakat sehingga kualitasnya akan bisa dipertanggungjawabkan. Lebih lebih kini melalui badan Akreditasi Nasional, semua kegiatan akan diakreditasi dengan 9 standar penilaian.

Kedepan kegiatan di Perguruan Tinggi akan lebih menitik beratkan pada output dan outcome dibanding proses. Kegiatan yang berbasis pengembangan akan menjadi sorotan ketimbang kegiatan yang bernuansa rutinitas. Perguruan Tinggi yang semacam ini akan memiliki daya panggil mahasiswa yang tinggi.(*)