Mendesain Tipe Soal Ujian yang Tepat di Masa Pandemi Covid-19

Oleh
1.Drs.Priyono,MSi(Dosen dan Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas muhammadiyah Surakarta)
2.Siti Nur Aisah(Mahasiswa smt II F.Geografi UMS)

Tak terasa sudah hampir satu semester mahasiswa Indonesia melakukan perkuliahan secara daring (dalam jaringan). Berbagai metode daring telah diterapkan oleh dosen mulai dari WA grup, Schoology, Webex, Zoom, Google form dan lain lain, yang bertujuan untuk menyampaikan dan menjelaskan materi kuliah sehingga bisa dipahami secara mudah yang endingnya mahasiswa bisa memiliki kompetensi sesuai capaian pembelajaran.

Setiap metode memiliki berbagai fitur yang memberi kemudahan untuk menyampaikan materi sampai mengevaluasi, singkatnya setiap metode punya kelemhan dan kelebihan baik dari sisi fitur maupun sisi keuangan( penyedotan pulsa). Kuliah dengan sistim daring harus memiliki standar yaitu kuliah yang berusaha menyampaikan,menjelaskan dan mengevaluasi materi yang diberikan.Jadi kalau hanya meshare materi saja kemudian memberi tugas, sebetulnya belum masuk kategori kuliah daring.

Berdasarkan penelitian kecil yang dilakukan oleh Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta terhadap sampel 248 mhs dari 1.100 populasi atau 22,5% , yang terdiri dari berbagai semester dan berbagai pengambil mata kuliah maka aplikasi schoology masih terfavorit (37,9 %) disusul dengan zoom (25 %). Urutan ketiga dan keempat yang disukai mahasiswa adalah google meet(17,7%) dan whatsApp Group(10,5%).

Tingkat kepuasan rata rata mahasiswa terhadap pembelajaran dengan online mencapai 65 % dan tiap mata kuliah dengan kepiawian dosen memberikan kepuasan yang berbeda. Dosen dengan usia,gelar akademik,jenis mata kuliah akan berdampak pada variasi tingkat kepuasan mahasiswa. Minggu ini atau minggu depan dosen saatnya diuji untuk memberi penilaian yang obyektik terhadap kinerja mahasiswa.

Kini, saatnya mereka menghadapi Ujian Akhir Semester Genap 2019/2020. Nampaknya, banyak mahasiswa yang mulai nyaman dengan sistem daring, meskipun hingga saat ini metode perkuliahan daring masih harus dikaji ulang agar dapat memaksimalkan proses perkuliahan yang ada. Bahkan hingga saaat ini tidak da yang tahu kapan pandemi covid-19 kan segera berakhir. Namun, pemerintah sudah mulai melonggarkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), akan tetap harus mngenakan protokol kesehatan yang ada seperti mengenakan masker dan rajin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun serta cek suhu tubuh.

BACA JUGA:  Memberangus Kebebasan Seksual

Meskipun sudah dilonggarkannya PSBB, agaknya universitas belum dapat melaksanakan perkuliahan secara langsung atau tatap muka. Mengingat mahasiswanya yang berasal dari segala penjuru negeri. Dikhawatirkan, mereka atau salah satu diantaranya menjadi carrier (pembawa) dri covid-19 tersebut.

Sistem daring masih menjadi pilihan dari sivitas akademika kampus guna melaksanakan ujian akhir semester yang akan datang.

Di Fakultas Geografi UMS metode pelaksanaan ujian akhir secara daring yaitu dosen membagikan lembar soal seperti biasa dengan tenggang waktu pengumpulan kurang lebih 3 hari.

Hal tersebut bertujuan agar mahasiswa yang terkendala jaringan tetap dapat mengaksesnya hingga 3 hari ke depan.

Tipe soalnya ada yang berbentuk multiple choice dan ada yang essay dengan penekanan pada analisis dan studi kasus. Tipe soal ujian tersebut diharapkan bisa meminimalisir bentuk kecurangan dan kerjasama.

Diharapkan mahsiswa bisa mandiri dan terbentuknya pengawasan melekat. Dosen akan memberikan punishment bagi mereka yang hasil kerjanya sama, semua kena sangsi E nilainya.

Waktu 3 hari tersebut dirasa sudah cukup bagi mahasiswa untuk mengerjakan soal ujian yang telah diberikan. Seperti yang kita ketahui, semakin lama tenggang waktu yang diberikan maka mahasiswa lebih memilih untuk menunda pekerjaanya dan menyelesaikan ketika sudah mepet dengan batas waktu yang sudah diberikan.

Untuk tipe soal biasanya hal tersebut menjadi kebijakan masing-masing dari dosen maka kuliah yang bersangkutan.

Namun, apabila mahasiswa dapat memilih tentulah mereka memilih tipe soal yang mudah, seperti model pilihan ganda. Mode soal tersebut dirasa cukup efisien pasalnya untuk model soal essai terlebih menganalisis mahasiswa cenderung kesulitan. Padahal model soal seperti ini meningkatkan kepekaan mahasiswa atas permasalahan yang ada dalam kehidupan nyata yang berkaitan dengan materi yang telah diberikan.

BACA JUGA:  Berulangnya Penghinaan terhadap Islam, Sampai Kapankan Akan Berakhir?

Lain halnya dengan model soal isian singkat, model soal ini dianggap yang paling mudah diantara ketiga model soal ujian yang ada, akan tetapi dirasa kurang berbobot karena mahasiswa hanya menjawab secara singkat soal yang diberikan dosen. Oleh karena itu, nampaknya model soal pilihan ganda ataupun essai dianggap lebih tepat diterapkan untuk mahasiswa.

Terlebih disaat pandemi seperti ini, diharapkan dosen juga tidak memberikan soal yang terlampau sulit agar tidak memberatkan mahasiswanya, karena hampir selama satu semester transfer ilmu yang dilaksanakan masih tergolong belum maksimal.

Sejatinya baik tipe soal pilihan ganda ataupun essai keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Harapannya dari mahasiswa hanya satu soal tersebut tidak terlalu sulit agar dapat mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin. Selain model soal ada hal lain yang perlu dipersiapkan agar dapat mengerjakan ujian dengan maksimal :

1. Belajar dan mempersiapkan materi ujian dari jauh-jauh hari, hindari sistem belajar kebut semalam karena hasilnya akan berdampak pada kondisi fisik dan psikis seperti mengantuk dan kehilangan konsentrasi.

2. Berdoa, jangan lupa untuk berdoa agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam melaksanakan ujian yang sedang berlangsung.

3. Meminta restu orangtua agar mendapat kemudahan saat ujian karena doa orang tua sangat mustajab.

Semoga kita semua dalam menempuh ujian akhir semester genap ini dengan hasil yang maksimal, dan terus berdoa agar segera mungkin keadaan membaik sehingga dapat melaksanakan perkuliahan secara langsung. (*)