Menggaungkan Gerakan Guru Menulis

Oleh: Mardi Panjaitan, S.pd, M.Si

Anggota Komunitas YUK NULIS

Menulis harusnya menjadi sesuatu hal yang melekat erat dengan seorang guru, karena berbagai informasi dan ilmu pengetahuan selalu disajikan melalui tulisan. Itulah sebabnya anak sekolah dasar sudah dikenalkan dengan alfabet atau abjad. Pada dasarnya, kita sudah sering menulis dari kecil dan mungkin sudah jutaan kata yang kita tulis sampai saat ini. Akan tetapi, fakta kontradiktifnya adalah banyak masyarakat yang tidak aktif menulis. Hal ini menjadi penyebab rendahnya literasi menulis Indonesia, tak terkecuali kaum guru.

Sebenarnya, menulis merupakan aktivitas yang menyenangkan kalau sudah dibiasakan. Banyak orang tidak menyadari betapa penting dan berharganya sebuah tulisan. Sulit untuk membayangkan betapa butanya kita terhadap ilmu jika para pendahulu kita tidak meninggalkan karya tulis berupa jurnal, buku, dan hasil penelitian lainnya. Bagaimanapun, ilmu pengetahuan dan pengalaman sesorang akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi generasi masa depan. Untuk mewujudkannya, tentu kita harus aktif memproduksi tulisan.

Guru merupakan salah satu profesi yang dituntut memiliki keterampilan menulis alias tidak sekedar menyampaikan materi pelajaran. Guru sangat diharapkan mampu menciptakan karya tulis ilmiah sebagai salah satu instrumen penilaian dalam kenaikan pangkat. Karya tulis ilmiah ini bisa berupa laporan tertulis dan publikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Karya tulis ini tentu bertujuan menyampaikan gagasan, mendiskusikan gagasan dalam suatu pertemuan, menyebarluaskan ilmu pengetahuan atau hasil penelitian.

Hal ini merupakan sesuatu yang sangat erat dengan kegiatan dan fungsi guru sebagai pendidik. Karya tulis yang dihasilkan para guru juga diharapkan bisa menjadi rujukan, untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan, mengintegrasikan berbagai gagasan dan menyajikannya secara sistematis, memperluas wawasan, serta memberi kepuasan intelektual, menyumbang terhadap perluasan cakrawala ilmu pengetahuan. Artinya karena ilmu pengetahuan terus berkembang seiring dengan zaman, maka guru juga harus terus-menerus melalukan penelitian dan menuangkannya dalam tulisan.

Namun faktanya, membuat tulisan ilmiah dianggap sesuatu momok yang menakutkan bagi para guru. Alasan yang sering muncul adalah karena terlalu banyak tugas maupun urusan yang dikerjakan seorang guru. Hal inilah yang membuat sulitnya seorang guru naik pangkat dan selalu mentok di pangkat IV/A.

Sedikitnya ada 344 ribu dari 2,7 juta guru di Indonesia berada pada golongan IV/A, namun dari jumlah tersebut baru sekitar 2.200 guru yang bisa naik golongan IV/B ke atas. Selebihnya berada di golongan IV/A akibat belum memproduksi karya tulis ilmiah. Bagaimanapun, untuk bisa menembus golongan IV/B, guru harus mampu mengumpulkan angka kredit dari unsur pengembangan profesi yang diperoleh dari penulisan karya tulis ilmiah berupa penelitian, karangan ilmiah, tulisan ilmiah populer, buku, diktat.

Menulis terkesan sulit dilakukan kaum guru sebenarnya bukan karena tidak bisa melainkan karena tidak mau bekerja keras, tidak mau membiasakan dan melatih diri, dan hanya berharap ada cara instan untuk melakukannya. Bahkan parahnya, jika ada jasa penjual karya tulis ilmiah, bakal ada guru-guru yang ingin menggunakannya.

Bagaimanapun, gerakan menulis di kalangan guru harus terus digaungkan. Guru justru harus jadi garda terdepan mengampanyekan dan menerapkan gerakan literasi yakni sebuah gerakan dalam upaya menumbuhkan budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat. Program satu tulisan satu hari bagi semua guru perlu diterapkan agar mereka semakin produktif.

Lantas, bagaimana memulai gerakan tersebut? Sering sekali guru mengeluh dan berkata “Saya tidak bisa menulis” atau “ menulis itu sulit sekali”. Dalam berbagai pengamatan, sesungguhnya jawaban tersebut hanyalah alasan atas kemalasan para guru. Bagaimana mungkin kita tidak bisa menulis padahal kita sudah belajar banyak teori bahkan mengajarkannya pada peserta didik? Kaum guru mesti keluar dari zona nyamannya dan mampu membuat gebrakan menulis. Sebagai guru, kita harus merubah pola pikir bahwa kita punya tugas bukan hanya sekedar mengajar dan mendidik saja, tetapi kita juga punya tanggung jawab meninggalkan karya tulis yang bisa terus digunakan oleh generasi masa depan.

Oleh karena itu, sudah saatnya guru mulai aktif menulis. Tentunya, hal ini bisa dimulai dengan tulisan berkonten ringan, contohnya pengalaman mengajar di kelas dan tentang kejadian-kejadian di sekolah, di rumah, dan dimana pun. Dengan begitu, cepat atau lambat kebiasaan kita menuliskan cerita hidup akan membuat kita semakin kompeten dalam menulis. Seperti kata bijak berkata “Satu peluru hanya dapat menembus satu kepala, tetapi satu tulisan mampu menembus jutaaan kepala manusia yang membacanya” Tidak ada kata terlambat selagi kita memiliki niat dan tekad serta memulainya dari sekarang. (*)