Naik Turunnya Harga Cabai yang Pedas

Oleh Rita

Ibu Rumah Tangga

Dunia kuliner tak bisa dipisahkan dari cabai yang rasanya begitu pedas, di Indonesia hampir semua ragam jenis masakan selalu menggunakan cabai, makanya cabai adalah komoditas pangan yang bisa dinikmati masyarakat dari berbagai taraf ekonomi.
Sehingga ketika terjadinya kenaikan harga cabai sebagaimana akhir 2020 hingga awal 2021 lalu, cukup mengguncang dapur kaum ibu, mulai dari yang sosialita hingga yang rakyat biasa.

Realitas ini menunjukkan bahwa cabai adalah sumber daya pangan, cabai bukan hanya soal masakan pedas dan tidak pedas, apalagi hanya riasan wisata kuliner.
Jauh lebih dari itu, keberadaan cabai justru bisa dikatakan sebagai komoditas kuliner dari masyarakat atas hingga masyarakat tingkat bawah, makan nasi hanya dengan sambal pun bagi mereka sudah menjadi nikmat tiada duanya.

Dikutip dari berita daerah.co.id (27/2/2021), cabai khususnya cabai merah termasuk salah satu komoditi sayuran yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi di Indonesia. Salah satu arah kebijakan komoditas strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dibidang hortikultura, adalah pengembangan komoditas cabai.

Hal ini dikarenakan konsumsi cabai di Indonesia sangat besar dan meningkat setiap tahunnya untuk industri maupun rumah tangga. Oleh karena itu peranan pemerintah dalam menjaga ketersediaan stok cabai sangatlah diperlukan, termasuk menjaga naik turunnya harga cabai yang tinggi.

Pedasnya cabe tak sepedas harganya, ditingkat petani dalam memasuki paruh kedua 2021, yang terpikir dampak pedasnya harga cabai, ya harga cabai di sejumlah daerah anjlok, terkhusus di daerah-daerab sentra pertanian cabai.

Terkait hal ini, dilihat dari harga cabai merah keriting di tingkat petani di kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini berkisar Rp2.500-3.000 perkg. Nominal ini jauh di bawah Break Even Point'(BEP) atau titik impas biaya produksi yang idealnya di atas RP 10.000 perkg. Rendahnya harga tersebut membuat para petani di sana lebih memilih membakar atau membagikan cabai secara cuma-cuma kepada warga yang membutuhkan. (detik.com,24/8/2021).

BACA JUGA:  Akankah Ramadan di Depan Mata Indah?

Sementara itu, anjloknya harga cabai di tingkat petani juga terjadi di Kediri, Jawa Timur, bahkan bukan hanya harga cabai yang terjun bebas, tetapi juga jenis sayuran lainnya.
Padahal berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Food and Agriculture organization(FAO) pada 2018, Indonesia adalah negara penghasil cabai terbesar keempat di dunia.
Dari data terlihat bahwa Jawa Timur adalah salah satu provinsi penghasil cabai merah terbesar di Indonesia. Produksi cabai merah di Jawa timur pada 2019 mencapai 104.677 ton dengan luas area panen sebesar 12.190 hektare (ha).

Sejauh ini anjloknya harga cabai disebakan pada stok yang berlebihan karena panen sayuran saat ini (Juli- Agustus) sedang bagus – bagus nya, dengan begitu stok cabai surplus.