New Normal Life Antara Tren Global dan Kesiapan Internal

Oleh: Rohati,

Pemerhati Sosial

Pemerintah sudah merilis beberapa skenario New Normal life untuk pekerja (PNS, BUMN dn perusahaan). Semua upaya menormalkan kondisi ekonomi tidak diiringi dengan peningkatan penanganan wabah dari aspek kesehatan.

New Normal Life menurut Para Pakar
Pemerintah belum memiliki peta jalan, New Normal Life hanya mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat memadai agar tidak terjadi masalah baru. Yakni bertujuan membangkitkan ekonomi namun membahayakan manusia. Alih-alih ekonomi bangkit justru wabah gelombang ke dua mengintai di depan mata.

Menurut Dewan Pakar Iakatan Ahli Kesehatan Indonesia (DAKMI) Dr. Hermawan Saputra, banyak pra syarat untuk menuju ke sana. Diantaranya adalah yang pertama, harus sudah terjadi perlambatan kasus, kedua sudah dilakukan optimalisasi PSBB. Ketiga, masyarakat sudah lebih mawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk New Normal.

Menurutnya, puncak pandemi belum diewati, bahkan kasus cenderung naik. Akibatnya prediksi-prediksi yang mengatakan puncak pandemi pada awal Juni akan mundur hingga akhir Juni maupun awal Juli. Dampak dari perbincangan New Normal belakangan ini, membuat masyarakat mengalami pandangan bebas tanpa melihat potensi penyebaran virus corona. (merdeka.com, 25/05/2020)

Penambahan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia bisa dilihat di situs covid19.go.id dan disampaikan langsung oleh juru bicara pemerintah terkait penanganan COVID-19 Achmad Yurianto. Hingga Jumat (29/05/2020), ada 25.216 kasus positif. Pada hari sebelumnya, tercatat ada 24.538 kasus positif Corona di Indonesia, 6.240 orang sembuh dan 1.496 meninggal dunia.(detiknews.com, 29/05/2020).

Dari data di atas, belum terjadi perlambatan kasus. Syarat pertama belum terpenuhi. Syarat kedua dan ketiga pun belum terpenuhi terlebih menjelang lebaran kemarin sangat bebas sekali. Banyak kerumunan di pasar. Jelang Hari Raya Idul Fitri, warga memenuhi pusat-pusat perbelanjaan di Kabupaten Subang. Meski melanggar PSBB, warga rela berdesak-desakan membeli keperluan lebaran. Seperti busana, sembako walaupun harga sudah melonjak naik. (pasundanekspres.co, 18/05/2020)

Meski masih menjadi polemik, nampaknya Indonesia akan melakukan uji coba The New Normal atau fase kehidupan baru di tiga kota yaitu di Yogyakarta, Bali dan Kepulauan Riau sebagai wilayah uji coba. Beberapa pihak dan pengamat masih meragukan kesia[an ini, sebab hingga kini panduan terkait protokol kesehatan di era fase kehidupan baru belum ada. Alasan yang banyak mengemuka terkait pilihan ketiga wilayah tersebut lebih banyak karena aspek ekonomi. (ugm.ac.id, 27/05/2020).

Mengutip dari kolega sosiolog dari Nanyang Tech University, Prof. Sulfikar Amir, Ph. D, yang juga ahli soal Social Networks and Risk Society , ia sependapat bila infrastruktur kesehatan dan semacamnya menjadi prasyarat utama untuk melakukan new normal. Ini penting, sebab infrastruktur yang ada selama ini belum sepenuhnya menjangkau lapisan masyarakat, misalnya seperti mass testing untuk Yogyakarta. (ugm.ac.id, 27/05/2020)

Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Iwan Ariawan menilai masih perlu waktu lagi untuk mulai menerapkan relaksasi. Sebab ia menjelaskan, saat ini tingkat kecepatan penuaran belum sepenuhnya turun. Efak dari PSBB sudah terlihat hampir berhasil sedikit lagi. Belum sampai mengontrol epidemi. Jadi harus bersabar sedikit lagi agar bisa mulai relaksasi. (cnnindonesia,com, 29/05/2020)

New Normal Life Menurut Islam
Kehidupan baru menurut Islam tentulah kehidupan yang lebih teratur yang sesuai dengan aturan Allah Swt. Karena kehidupan sebelumnya sangatlah jauh dari Islam. Dimana-mana terjadi perzinahan, pelaku riba semakin banyak. Kasus kriminnal yang semakin parah. Membuat kita sadar bahwa selama ini aturan yang kita pakai saat ini bukan dari Sang Pencipta.

New Normal Life bukan berarti kita harus ikut-ikutan seperti negara lain yang mungkin kasus positif Coronanya sudah berkurang. Lockdownnya sukses, masyarakatnya disiplin dalam melakukan protokol kesehatan. Sehingga mereka memang sudah siap untuk melakukan kehidupan normal yang baru. Siap dengan segala sesuatunya. Masyarakatnya dan infrastrukturnya.

Pengambilan keputusan untuk New Normal Life juga pertimbangannya bukan karena ekonomi saja. Karena pengaturan kehidupan bukan hanya sebatas ekonomi. Namun sosial,budaya, bahkan politik. Pendidikan juga termasuk di dalamnya.
Sebagai Umat Islam, untuk pengambilan keputusan harus sesuai standar Islam yaitu halal dan haram. Ketika keputusan New Normal Life diambil namun ternyata masih banyak syarat yang belum dipenuhi dan menyebabkan kesangsaraan bagi rakyat. Berarti di sini rakyat terdzalimi. Dan itu tidak dianjurkan oleh Islam. Bahkan ada dalam hadistnya. Rasululah SAW mengatakan, setiap orang adalah pemimpin dan mereka akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dalam hadist lain, disebutkan, “Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum muslim, lalu ia menutupi dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka, dan kemiskinan mereka. Allah akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya.” (Diriwayatkan dari bu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Maryam)
Wallahu’alam Bisshawab