No Hijab Day, Upaya Desakralisasi Syariat

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si

Belum hilang sesak di dada, saat seorang tokoh negeri ini mengatakan hijab tidak wajib bagi kaum muslimin. Dilansir dari muslim okezone.com, Sinta Nuriyah (Istri Gusdur) dan Inayah Wulandari (anak bungsu Gusdur) mengatakan, perempuan tidak wajib berjilbab. Alasannya, karena dalil wajibnya berhijab dalam Alquran, harus dipahami dari segi kontekstual. Inilah tafsir Liberal yang menganggap Al-quran tak sesuai zaman.

Kini, umat muslim di Indonesia harus melihat kembali aksi dejilbabisasi yang dilakukan oleh sekelompok manusia yang menamakan dirinya “Hijrah Indonesia”. Dilansir dari mysharing.co, Komunitas Hijrah Indonesia yang dipelopori oleh Yasmine Mohammad, mengkampanyekan No Hijab Day. Kampanye yang digelar melalui media sosial ini menyeru agar setiap tanggal 1 Februari, perempuan Indonesia memperingati hari tanpa hijab.

Tak tanggung-tanggung, dalam kampanyenya mereka mengadakan sayembara. Bagi siapa saja yang berani memasang foto dengan pakaian bernuansa Indonesia. Dengan memperlihatkan kepala tanpa hijab, disertai dengan caption alasanya, “mengapa anda membuka hijab anda dan suka-duka saat melepas Jilbab”. Tersedia pula hadiah yang menarik bagi para pemenangnya.

Aksi No Hijab Day pertama kali dilakukan di Iran pada bulan Februari 2018. Adapun alasan diadakannya kampanye No Hijab Day tersebut adalah, karena selain perempuan membutuhkan vitamin D, alias paparan matahari langsung. Mereka pun menyebutkan bahwa tidak semua ulama setuju terhadap hijabisasi. Pandangan para ulama berbeda dalam batasan aurat menurut mereka.
Benarkah Ulama berbeda pendapat terhadap permasalahan demikian?

Dalil Wajibnya Hijab
Tak ada satu pun ulama mu’tabar yang berbeda pendapat terhadap wajibnya muslimah menggunakan kerudung. Kecuali ulama Su’ dan para cendikiawan muslim yang berkiblat pada barat. Rambut perempuan yang menempel pada kepala adalah aurat yang harus muslimah tutupi. Hijab adalah salah satu syariat yang diwajibkan kepada para wanita. Karena sesungguhnya, seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajah.
“Wahai Asma! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan)”.[HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218

Adapun tatacara muslimah menutup auratnya termaktub dalam Surat An-nur ayat 31 dan Al-ahzab ayat 59. Adapun surat An-nur ayat 31 menjelaskan kewajiban muslimah menggunakan khimar (kerudung) hingga menutupi dadanya.

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al ahzab: 59)

Di jelaskan dalam Kamus Al-Muhith bahwa jilbab itu seperti sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), Yaitu baju atau pakaian longgar bagi perempuan selain baju kurung atau kain apa saja yang menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung. Sedangkan Kamus Ash-Shahhah, al-Jauhari menjelaskan bahwa, “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut mula’ah (baju kurung/gamis).”

Sedangkan surat Al-ahzab ayat 59 menjelaskan kewajiban muslimah mengenakan jilbab (gamis longgar) hingga menutupi tubuhnya.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (aurat-nya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya),… (An-nur : 31)

Dijelaskan oleh Imam Ali ash-Shabuni, khimar (kerudung) adalah ghitha’ ar-ra’si ‘ala sudur (penutup kepala hingga mencapai dada) agar leher dan dada tidak tampak.

Desakralisasi Syariat Allah SWT

Sebenarnya, 1 Februari telah didaulat menjadi hari hijab sedunia sejak tahun 2013. Gerakan menggunakan hijab dalam sehari ini, dipelopori oleh seorang warga New York kelahiran Bangladesh, Nazma Khan.

Gerakan ini lahir atas respon kemusliman mereka yang minoritas di New York, Amerika Serikat. Nazma mengajak kepada nonmuslim dan muslim yang tak berhijab, untuk satu hari saja merasakan memakai hijab. Walau ini pun bukan solusi atas jilbabisasi yang hakiki, namun upaya Nazma sebagai seorang muslimah yang ingin mengenalkan hijab pada dunia, patut diancungi jempol.

Berbanding terbalik dengan yang dilakukan Yasmine Mohammad. Aktivis HAM dan Feminis itu membuat Kampanye tandingan dengan seruan melepaskan Jilbab. Mereka menganggap hijab adalah bentuk pengekangan terhadap perempuan. Padahal tertulis jelas dalam Al-quran, hijab bagi perempuan adalah cara Allah Swt untuk menjaga kehormatan perempuan, bukan bentuk pengekangan.

Menarik apa yang dikatakan oleh Ustadz Willyuddin A. R. Dhani dari komunitas Cinta Tauhid dan Cinta Al-quran. Dilansir dari mysharing.co, Ustadz Willyudin menyebut komunitas Hijrah Indonesia dengan sebutan Golbi alias golongan bingung, alias pengikut hawa nafsu dunia, yang bisa jadi mereka kelompok antiagama, atau setidaknya kelompok munafikuun.

Para Golbi ini tak akan pernah berhenti menyerang agama Allah Swt. Seperti Abu Lahab yang tak pernah berhenti berusaha dalam menghancurkan agama Islam. Sampai Allah Swt. abadikan namanya dalam Al-quran. Agar menjadi pelajaran bagi kaum muslimin, bahwa semisal Abu Jahal sudah ada dari zaman Rasulullah Saw.

Telah jelas pula nasib Abu Lahab dalam surat Al-Lahab, usahanya tak akan berguna dan dia akan memasuki api neraka yang bergejolak. Begitulah balasan bagi orang-orang yang terus melecehkan agama ini dengan memporak-porandakan syariat Allah Swt. Maka dari itu, adanya No Hijab Day adalah upaya dejilbabisasi dalam rangka pendesakralisasian syariat Allah Swt. Yang berujung pada penghancuran agama Allah Swt.

Fungsi Negara dalam Melindungi Syariat Allah Swt

Mengapa seolah tak berkesudahan syariat diporak-porandakan. Pendesakralisasian syariat Allah Swt. terus terjadi di negeri 1000 masjid ini. Dimanakah para pemimpin yang seharusnya berada di garda terdepan dalam melindungi syariat?

Sungguh, kemalangan menimpa kaum muslim Indonesia. Alih-alih melindungi aqidah dan syariat Allah Swt. Justru Rezim hari ini telah nyata menghinakan agama ini. Mengkriminalisasi para ulamanya. Menyuntikan Islamophobia pada warganya. Bahkan membuat kebijakan-kebijakan yang begitu menyakitkan umat muslim Indonesia.

Mengapa negara gagal melindungi syariat Allah Swt.? Karena negara kita tak menempatkan agama dalam pijakan tata kelolanya. Wajar saja jika syariat dihinakan, negara tak mempunyai kepentingan untuk membela. Bahkan atas nama Freedom of religion dan freedom of behavior, negara seolah melindungi penista agama.

Apalagi jika sudah menyangkut kepentingan kekuasaan. Apapun termasuk agama, jika itu menjadi penghalang, akan mereka singkirkan. Seperti halnya ajaran Islam politik yang mengancam kepentingan mereka. Tentu harus mereka singkirkan dari benak umat muslim.
Oleh karena itu, jika kita menginginkan sebuah negara yang tak diam dalam upaya dejilbabisasi yang bermuara pada penghancuran syariat Allah Swt. Maka kita harus mengubah landasan negara ini dengan Islam. Sehingga, dengan kekuatannya akan melindungi syariat dan juga aqidah umat muslim. (*)

BACA JUGA:  Perusahaan Tekstil Indonesia Kelimpungan Hadapi Produk China