Pandangan Syariat Terhadap Islam Politis

Oleh : Zamzam Al-Hanafi
*) Mahasiswa Pendidikan Agama Islam STAI DR. Khez Muttaqien Purwakarta

Kehidupan dengan berbagai permasalahannya dari segala bidang dan ragamnya, dari hal terkecil sampai terbesar. Apalagi di peralihan tahun 2018 ke tahun 2019, dimana sedang marak-maraknya problem, khususnya di dunia politik.

Hal tersebut semakin meramai ketika dibentrokkan dengan permasalahan agama Islam. Indonesia memiliki banyak juta jiwa, dimana mayoritas masyarakatnya beragama islam. Kedua hal tersebut akhirnya memicu timbulnya persepsi dan pandangan tentang bagaimana syariat memandang Islam politis yang meliputi penggunaan istilah Islam politik itu sendiri, apa dan dimana peran politik dalam islam, peran islam dalam semua sisi kehidupan, hubungan individu dan jamaah, hak dan kewajibannya, hubungan politik dan agama itu sendiri, dan sampai pada pembahasan tentang apa dasar dasar dari politik negara Islam itu.

Islam telah membuat pemeluk-pemeluknya agar paham bagaimana menjalani kehidupan, apa-apa yang menjadi problem, Islam sebelumnya telah mengatur hal-hal tersebut sedemikian rupa. Termasuk pada permasalahan-permasalahan negara. Islam memiliki aturannya tersendiri. Meskipun begitu Islam tetap mengedepankan perdamaian, dimana seperti yang kita ketahui bahwa manusia memiliki 2 hubungan dasar, yakni hablumminallaah dan hablumminannaas. Maka dari itu, sama hal nya dalam politik, Islam memiliki pandangan terhadap hal itu.

Sesuai dengan apa yang menjadi bahasan adalah perihal islam politis, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu islam dan politis itu.

Seperti diketahui, Islam berasal dari bahasa arab, dari kata aslama yuslimu islaaman yang artinya tunduk, patuh, berserah diri, menyerahkan, mengikuti, menyampaikan, kedamaian, keselamatan, kemurnian.

Kemudian diartikan sebagai agama yang diturunkan kepada umat manusia dibawa oleh Rasulullah untuk dijadikan pedoman hidup atara arah hingga akhir zaman.

Sementara politis merupakan yang yang berkenaan dengan politik. Sedangkan politik itu sendiri adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyrakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan khususnya dalam negara.

Ketika berbicara tentang islam politis, berarti kita akan membicarakan islam dan politis itu, oleh karenanya sesuai dengan yang penulis baca bahwasanya ini terklasifikasikan ada yang mengkaji dan ada pula yang tidak. Mayoritas dari ulama salaf banyak yang lebih senang menghindari, berbeda dengan ulama khalaf mereka mengkaji ini bahkan salah satu referensi penulis adalah karya dari Dr. Yusuf Al-Qardhawy yang merupakan ulama kontemporer yang memiliki ide atau gagasan gagasar modern untuk pembaharuan Islam.

Pengunaan istilah islam politis, setelah mendengar kata islam politis, Barangkali orang awam diluar sana akan langsung berpikir bahwa begitu banyak nama nama islam sekarang ini. sebenarnya pantas mereka akan berpikiran begitu karena sebelumnya mereka juga sering mendengar istilah islam modern, islam tradisional, belum lagi islam teolog yang didalamnya sangat beragam, islam madzhab ini islam madzhab itu dan lain sebagainya. Ya mereka akan bertanya tanya lalu islam itu yg mana? Dia islamnya islam apa? Islam dia salah, islam dia radikal, islam dia ini dan itu.

Dan yang lebih seramnya lagi manusia dengan manusia akan saling menggunjing dan menyalahkan, merasa diri paling benar, sedang yang lain kafir. Hal hal semacam itulah yang dikhawatirkan pada zaman sekarang, begitu banyak orang yang merasa dirinya paling benar, hingga lupa adab dan bagaimana sebenarnya islam mengajarkan hubungan antar manusia.

Sebenarnya bagi mereka yang berpikiran terbuka, tidak akan terjebak pada hal-hal seperti itu, karena mereka tidak mudah percaya, atau tidak terlalu mengedepankan istilah, mereka sudah belajar bagaimana tidak terjebak pada simbol dan istilah istilah. Mereka akan mencari makna dan maksud daripada istilah tersebut.

Namun inilah faktanya, sebagian dari manusia mereka lebih senang menjadi manusia awam, oleh karena itu semakin hari rasanya dunia semakin sempit saja. Namun terlepas dari hal itu inilah yang menjadi keputusan, dimana penggunaan istilah islam politis terkadang tidak diterima atau bahkan ditidakbolehkan, khawatir akan menjebak kaum mayoritas pada stigma-stigma yang akan menghancurkan islam itu sendiri.

Mendengar kata politik, semua seperti terhegemoni kepada hal-hal yang negatif, politik itu salah, politik itu menyengsarakan, ya mereka yang berbicara adalah sang anti politik. Padahal jauh dari apa yang mereka pikirkan, bahwasanya politik itu sendiri memiliki tujuan suci yakni menyejahterakan rakyat dan ummat. Bahkan dalam buku fiqih daulah karya Dr. Yusuf Al-Qardhawy dikatakan begini “jika engkau melepaskan islam dari urusan politik, berarti engkau menjadikannya agama lain, bisa agama budha atau agama nasrani atau lainnya. Dari ungkapan seperti itu bahwasanya dalam islam, ilmu apapun harus dipelajari, tak terkecuali politik, karena stigma-stigma negatif semacam itu adalah karena dewasa ini dalam politik itu sendiri tak pernah dikaitkan dengan islam, entah oknumnya mayoritas bukan beragama islam, atau demi dunia, mereka melepaskan keislaman mereka, wallaahua’lam.

Berulangkali dikatakan bahwasanya Islam telah mengatur kehidupan sedemikian rupa dari segala aspek, baik dari hal kecil sampai hal besar. Adapun yang menjadi landasan mengapa islam dikatakan agama yang sempurna, agama yang telah mengarahkan semua sisi kehidupan, adalah sebagai berikut; Pertama. Islam mempunyai sikap yang jelas dan hukum yang tegas dalam berbagai masalah yang diaggap sebagai tulang punggung dunia politik. Islam bukan merupakan keyakinan para pemimpin agama atau slogan-slogan ibadah semata. Maksudnya, islam bukan hanya sekedar hubungan antara manusia dengan rabb-Nya tanpa ada hubungan dengan cara mengatur kehidupan, menuntun masyarakat dan negara. Sama sekali tidak. Islam merupakan aqidah, ibadah, akhlak dan syariat yang saling melengkapi. Dengan kata lain islam merupakan sistem yang sempurna bagi kehidupan, yang meletakkan prinsip-prinsip, memancangkan kaidah, membut ketetapan-ketetapan hukum, menjelaskan tuntutan, yang berkaitan dengan kehidupan individu, cara menata rumah tangga, mengatur masyarakat, mendirikan negara dan menjalin hubungandengan seluruh dunia atau alam semesta beserta isinya.

Bagi orang-orang yang senang mempelajari islam, mereka pasti akan sudah sampai disana, mereka kan mengetahui sejelas-jelasnya perihal ini.

Bahkan satu bagian dari ibadah yang notabenenya trmasuk fiqih, berada tidak jauh dari politik.

Kedua. Karakter orang islam yang dibentuk islam dan diwarnai syariat serta ibadahnya, tentu merupakan karakter politis, kecuali jika pemahamannya terhadap islam atau penerapannya tidak tepat.

Islam meletakkan kewajiban dileher setiap orang muslim, apa yang disebut amar ma’ruf nahi munkar yang lebih jauhnya merupakan bagian dari kepedulian terhadap umat dan bangsa, itu disadari ataupun tidak merupakan sebuah politik untuk zaman sekarang.

Ketika berbicara tentang politik, maka kita akan berbicara tentang jama’ah, selanjutnya kita perlu mengetahui hubungan antara perorangan dengan orang banyak. Berbicara tentang individu ataupun jama’ah erat kaitannya dengan hubungan yang sebelumnya telah dibahas yaitu hubungan manusia dengan manusia. Pada ranah itu manusia diajarkan bagaimana akhirnya agar kehidupan di dunia bisa terasa damai, tentu saja khususnya indonesia dengan berbagai kemajemukannya yang memiliki tingkatan perselisihan tinggi, namun disinilah letak islam berperan, dimana mayoritas masyarakat indonesia adalah beragama islam. Mereka harus tahu tentang hak dan kewajibannya. Dimana hak merupakan sesuatu yang mesti didapatkan namun kewajiban adalah sesuatu yang mesti dilaksanakan, wajib berarti harus, jika tidak, maka sesungguhnya dia sendiri telah membuat kecelakaan bagi dirinya.

Jika seorang muslim telah mengerti hubungan daripada hak dan kewajiban itu sendiri, bahwa hak akan didapatkan setelah menunaikan kewajiban, maka barang tentu hubungan antar individu atau jama’ah akan terbentuk dengan sendirinya, maka lebih jauhnya, hidup akan tenteram karena antar manusia akan saling menghormati.

Adanya politik sebenarnya sangat diperlukan bagi sebuah negara, adapaun yang harus diketahui mengenai Dasar-dasar politik negara dalam perspektif islam.

Pada pembahasan terakhir ini adalah tentang bagaimana akhirnya negara dapat berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah islam. Karena hakikatnya islam adalah rahmatan lil’alamiin, dimana seluruhnya adalah perihal cinta dan kasih sayang tuhan untuk seluruh makhluknya. Tetapi dengan tetap menjaga keyakinan orang lain termasuk mereka yang bukan muslim.(*)