Pandemi Terus Melaju, Butuh Solusi Jitu

Oleh: Sahiyah

Ibu Rumah Tangga

Pandemi Covid-19 tidak datang dengan sendirinya melainkan Allah lah yang menciptakan makhluk kecil yang tidak kasat mata ini. Sebagai orang yang beriman sudah seharusnya meyakininya sebagai bagian dari ketetapan (qadla)-Nya. Ketika Allah sudah menghendaki tidak ada satu orang pun yang mampu menolaknya. Sikap yang harus ditunjukkan adalah sabar dan tawakal. Sabar bukan berarti diam, tapi berikhtiar semaksimal mungkin dan hasilnya menyerahkan kepada keputusan Allah Swt. (tawakal).

Dunia tempat ujian, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan. Siapa saja yang lulus dari ujian Allah Swt. maka kebaikanlah baginya. Kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari dua kondisi, kadang dianugerahi nikmat kadang diuji dengan musibah. Keduanya adalah kebaikan, yaitu bagi yang mampu bersyukur atas segala nikmat dan mampu bersabar atas segala musibah.

Di kala sakit barulah kita teringat betapa sehat itu nikmat luar biasa. Pada saat kegiatan banyak dibatasi, barulah terbayang begitu nikmatnya bepergian dengan leluasa; bersilaturahmi, menengok orang sakit, tolabul ‘ilmi, dan yang lainnya. Maka ketika ditimpa musibah rasa syukur tetap dipanjatkan.

Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi musibah yaitu dengan melakukan istirja’ (atau mengembalikan segalanya kepada Allah Swt.) seraya berdoa. Selain itu kita pun diperintahkan untuk memperbanyak ibadah dan meningkatkan _taqarrub_ kepada  Allah Swt. dengan memperbanyak amalan sunnah Nafilah sebagai bentuk ketaatan kita kepada-Nya. Dari ketaatan ini akan lahir rasa syukur. Inilah dua sayap yang harus kita miliki sebagai salah satu kunci menghadapi wabah ini.

Sikap di atas adalah yang harus ada pada setiap individu yang beriman. Kita pun hidup di tengah-tengah masyarakat. Maka sebagai bagian dari anggota masyarakat sikap yang harus ada adalah saling membantu sesuai kemampuan dan saling mengingatkan jika ada yang lalai. Bagaimana sikap yang harus diambil oleh negara atau penguasa? Tentu berbeda dengan individu maupun masyarakat.

BACA JUGA:  Pencegahan Perceraian ala Malaysia: Kasus di Kabupaten Pemalang,Jateng

Penguasa adalah penanggung jawab bagi seluruh rakyat yang berada di bawah kekuasannya. Melalui berbagai kebijakan juga penerapan sanksi dituntut mampu menangani wabah tanpa mengorbankan rakyatnya.

Namun sayang ketika kita hidup dalam kungkungan sistem kapitalisme sekular, dimana sistem aturan yang mengedepankan keuntungan (tidak mau rugi), abai terhadap keselamatan rakyat, serta tidak bersandarkan kepada agama (Islam) ketika mencari solusi, apa yang diharapkan oleh kita semua hanya angan belaka. Berbagai kebijakan mulai PSBB, PPKM mikro, PPKM darurat sampai PPKM berlevel ternyata tidak memberikan hasil yang signifikan. Alih-alih menyelesaikan masalah yang ada justru menambah masalah, terbukti wabah makin mengganas rakyat pun kian sengsara karena kesulitan ekonomi akibat  pembatasan dan negara tidak menjamin kebutuhannya.