Pemberantasan Stunting Demi Generasi Masa Depan

Oleh : Siti Aisah, S.Pd
Guru dan Member Akademi Menulis Kreatif

Stunting menjadi momok yang menakutkan saat ini bagi para orang tua, pasalnya bukan hanya pertumbuhan anak saja yang dialami, tapi perkembangan otaknya juga akan mengalami penurunan dibawah rata-rata usia anak. Sehingga upaya pemberantasan stunting terus digelar pemerintah.

Perlu diketahui pencegahan dan penanggulangan stunting merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan mulai dari janin yaitu pada ibu hamil dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah periode sensitif yang menentukan kualitas hidup di masa yang akan datang. Hal ini dapat mengakibatkan sesuatu yang bersifat permanen terhadap bayi pada masa depannya dan hal ini belum ada solusi tepat untuk mengobatinya. Tanda anak mengalami stunting, Ia sering mengeluh sakit, akibat dari imunitas yang turun.

Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, melalui Ahmad Nasuhi yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) menyatakan, dengan angka penderita kekerdilan sebanyak 8 ribu lebih itu, menempatkan Subang di peringkat ke 5 terbanyak penderita kekerdilan di Jawa Barat, dan yang tertinggi pertama yakni Kabupaten Bandung Barat. (rri.co.id, 30/01/2019). Dilansir dari laman situs yang berbeda data dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang Nurdin Hidayat mengatakan, sebanyak 13 persen dari 116.000 balita di Karawang mengalami stunting. Jadi, artinya dari sekitar 10 balita, ada satu yang mengalami stunting di Karawang. (kompas.com, 5/12/2019)

Dilansir dari laman berita yang berbeda rmco.id, (19/12/2019) upaya pemerintah mencegah stunting atau masalah gizi kronis belum menunjukkan hasil signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan kasus tertinggi di Asia. Anggota Fraksi PKB DPR, Nur Nadlifah, yang sekaligus sebagai Anggota Komisi IX DPR dan Ketua I PP Fatayat NU ini menyebutkan, ada beberapa penyebab mengapa kasus stunting di Indonesia sangat tinggi. Beberapa di antaranya adalah pola hidup dan pola asuh orang tua yang salah mengenai asupan gizi serta kondisi perekonomian orang tua yang masuk dalam kategori pra-sejahtera.

BACA JUGA:  Pernikahan Dini di Indonesia

Masa tumbuh kembang buah hati adalah prioritas utama bagi seorang ibu. Laju perkembangan fisik baik itu yang bersifat motorik kasar atau halus merupakan dasar dari peningkatan pertumbuhan sang anak. Namun apa daya ketika HPK seorang bayi harus berakhir dalam asupan Susu Formula (Sufor). Padahal pemberian susu sangatlah penting bagi bayi. Susu yang paling utama adalah ASI. Begitu pentingnya ASI dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk imunitas alami anak. Proses pemberian ASI lengkap selama 6 bulan yang selalu digaungkan pemerintah, lewat pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang selama ini menjadi andalan masyarakat untuk konsultasi kesehatan. Namun sangat disayangkan, hal ini tidak membuat kesadaran masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan stunting meningkat. Upaya masyarakat yang membawa ibu hamil dan anak balita (bayi di bawah lima tahun) sebulan sekali untuk memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan, nyatanya belum mampu menghasilkan perubahan yang signifikan.

Dalam Islam, ASI yang dianjurkan diberikan kepada bayi sekurang-kurangnya tidak hanya sampai 6 bulan saja. Namun, dilanjutkan sampai umur anak memasuki usia 2 tahun. Pendampingan ASI melalui pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) kepada anak akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan, tinggi badan, bahkan perkembangan kognitif anak. Gagal tumbuh kembang anak adalah awal dari itu sendiri. Vonis ini tidak bisa diberikan kepada anak yang gagal tumbuh saja, tetapi harus disertai gagal kembang. Perlu dipahami kondisi tubuh anak yang pendek acapkali di masyarakat sering dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya. Namun, persoalan ini tidak mempengaruhi masyarakat pada umumnya, mereka sekedar menerima tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti yang dapat dipahami pula bahwa faktor genetika merupakan faktor determinan (turunan) yang resikonya paling kecil pada kesehatan. Adapun selain faktor genetika adalah faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, permasalahan stunting sebenarnya bisa dicegah dan ditanggulangi oleh negara.

BACA JUGA:  Menyoal Isu Radikalisme di Kota Pangkal Perjuangan