Peran Strategis Dharma Wanita Persatuan

 

Oleh: Siti Farida Rostiawaty

Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Subang

 

Tanggal 7 Desember sebuah momen peringatan lahirnya  organisasi perempuan terbesar di  Indonesia.

Berawal pada 5 Agustus 1974 saat organisasi para Isteri Pegawai Republik Indonesia pada masa Pemrintahan Orde Baru itu dibentuk dengan nama Dharma Wanita. Organisasi ini didirikan oleh Ketua Dewan Pembina KORPRI saat itu, Amir Machmud, atas prakarsa Ibu Tien Soeharto sebagai Ibu Negara, pada waktu itu Dharma Wanita beranggotakan para Istri Pegawai Republik Indonesia, Anggota ABRI yang dikaryakan dan Pegawai BUMN.

Pada era Reformasi tahun 1998, organisasi wanita ini melakukan perubahan mendasar, tidak ada lagi muatan politik dari Pemerintah. Dharma Wanita menjadi organisasi sosial kemasyarakatan yang netral dari politik, Independen dan Demokrasi.

Nama Dharma Wanita kemudian berubah menjadi Dharma Wanita Persatuan,  penambahan kata “Persatuan” disesuaikan dengan nama Kabinet Persatuan Nasional dibawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid. Perubahan organisasi ini tidak terbatas pada penambahan kata Persatuan namun juga berubah menjadi organisasi yang mandiri dan Demokratis Penetapan tanggal 7 Desember senidiri sebagai hari lahir Dharma Wanita Persatuan merujuk pada kegiatan Musyawarah Nasional Luar biasa ( Munaslub) yang diselenggarakan pada  tanggal 6 – 7 Desember 1999.

Dharma Wanita Persatuan (DWP) adalah organisasi yang anggotanya yaitu istri Aparatur Sipil Negara (ASN) beserta istri pensiunan dan jandanya.Selain istri pejabat negara di bidang pemerintahan, istri pegawai BUMN atau BUMD, istri perwakilan Indonesia di luar negeri, istri perangkat pemerintah desa, istri TNI, dan istri POLRI. Keanggotaan ini juga berlaku untuk istri pensiunan dan janda ASN BUMN/BUMD, serta pensiunan ASN  wanita.

Dharma Wanita Persatuan  sebagai organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Sudah selayaknya  punya peran strategis dalam pembangunan nasional. Keberadaannya bahkan dijamin oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.yang menyebutkan bahwa pembentukan ormas bertujuan :

– Meningkatkan partisipasi dan keberdayaan masyarakat;

– Memberikan pelayanan kepada masyarakat;

– Menjaga nilai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;

– Melestarikan dan memelihara norma, nilai, moral, etika dan budaya yang hidup dalam masyarakat;

– Melestarikan sumber daya alam dan lingkungan hidup;

– Mengembangkan kesetiakawanan  sosial,  gotong  royong dan bertoleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagaimana bunyi undang-undang tersebut Dharma Wanita Persatuan wajib untuk melaksanakan kegiatan sesuai tujuannya sendiri, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta NKRI, memelihara nilai agama, budaya, moral, etika, dan norma kesusilaan, dan memberikan manfaat untuk masyarakat.

Ibarat usia seorang anak pemuda, DWP mencoba terus bergeliat, bergerak, melaksanakan perannya. Peran yang strategis dalam bidang pembangunan.

Dibalik kesuksesan seorang pria terdapat wanita yang hebat. Ungkapan tersebut menyiratkan betapa pentingnya kehadiran seorang istri dalam menunjang karir suami dalam bekerja. Karir seorang suami akan berjalan sesuai harapan jika didukung oleh keluarga terutama istri dan anak-anak.

Kontribusi para istri ASN yang tergabung dalam DWP sangat banyak manfaatnya dalam mendukung tugas dan tanggungjawab suami dalam pekerjaannya.

Selain itu, DWP juga  berperan melaksanakan tugas-tugas sosial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tugas ASN,  DWP juga berperan untuk melaksanakan berbagai kegiatan sosial yang tidak hanya ditujukan bagi pegawai dan masyarakat, di tangan DWP, citra positif ASN dapat  ditingkatkan. ,untuk itu DWP terus meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya untuk menjadi ‘bekal’ dalam  melayani masyarakat. DWP pun  mulai melakukan adaptasi dengan perkembangan zaman. Seorang istri memiliki peran sentral di keluarga, paling tidak dia bisa membina keluarganya untuk bisa mengenal dunia digital.

Masa pandemi  dan masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) tidak menyurutkan langkah DWP di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di kabupaten Subang. kegiatan pertemuan yang sebelum masa pandemi  dilaksanakan tatap muka langsung  (luring) dikerjakan secara tatap mata (daring). Kalau pun melaksanakan daring, maka dilaksanakan dengan mematuhi  protokol kesehatan. Webinar, seminar secara daring dilikuti oleh para anggota dan pengurus DWP dalam upaya meningkatkan kualitas dan potensi para istri ASN ini.

Berkaitan dengan masa pandemi pun dilaksanakan dan diikuti kegiatan Webinar tentang  Peranan Wanita menghadapi Covid-19. Tak hanya bergerak meningkatkan potensi  serta beraktualisasi individu di era AKB, DWP pun turut empatii dan berbagi untuk  yang terdampak pandemi.

Sebagai organisasi yang mewadahi istri ASN, DWP sudah selayaknya berkomitmen untuk terus melakukan terobosan guna membantu upaya pemerintah memberantas Covid-19. juga terus  melakukan sejumlah penyesuaian kegiatan untuk mendukung kesuksesan penerapan tatanan normal baru, tentu saja tanpa melupakan kodrat sebagai seorang ibu yang tidak hanya berperan dalam menentukan suasana di rumahnya saja, tetapi juga di lingkungannya berada,  menjaga keluarga dekat.

juga orang-orang sekeliling,  maupun masyarakat umum, yaitu memberikan ketenangan, kedamaian, dan solusi dalam menghadapi pandemi .

Seiring dengan semakin menguatnya atmosfer dukungan untuk peran perempuan di ruang publik, dunia akan terus bergerak maju dan perempuan Indonesia ingin tetap bisa merealisasikan minat dan cita-citanya lewat beragam cara dan  dalam masa pandemi yang entah kapan akan sirna, semoga  Dharma Wanita Persatuan semakin kokoh , bersatu dan semakin maju menuju Indonesia sehat.(*)