Reynhard S, Kaum Nabi Luth dan Jiwa yang Sehat

Oleh: Drs. H. Priyono, M.Si
Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Kaum yang melampui batas dengan melampiaskan nafsu seksualnya sesama jenis atau dikenal dengan homoseksual atau lesbian telah diabadikan dalam Al Quran dan menjadi pelajaran bagi manusia sesudahnya bahwa perbuatan tersebut dikategorikan sebagai perbuatan yang dilaknat oleh Allah swt atau perbuatan terkutuk dan disebut sebagai perbuatan manusia yang melampui batas.

Al Quran telah memberitakan peristiwa masa lalu mengenai kejahatan manusia sehingga Alloh turunkan Nabi luth untuk menasehati kepada kaumnya untuk menghentikan perbuatan terkutuk atau keji dan melampui batas tersebut tapi kaum Luth tidak bergeming bahkan malah mengusir Luth dan menganggap Luth sok suci dan azab Alloh pun datang dalam bentuk hujan batu yang bahannya diambilkan dari neraka dan binasalah kaum Luth termasuk isterinya kecuali nabi Luth dan pengikutnya yang diselamatkan oleh Alloh.

Demikian kesudahan orang orang yang berbuat dosa. Kisah tersebut diabadikan dalam Al Quran Surat ke 7 Surah Al Araf ayat 80-84.
Peristiwa memalukan sekaligus mengenaskan itu terulang dan pelakunya tidak lain WNI yang sedang belajar menyelesaikan S3 di Inggris.

Bangsa Indonesia berduka mendalam karena seorang warganya membuat gempar karena menjadi pelaku kasus perkosaan berantai terbesar dalam sejarah yudisial Inggris, di saat dia mendalami studinya di kota Manchester Inggris. Warga Negara Indonesia yang berdomisili di Depok, kecamatan Pancoran Mas, kota Depok dan merupakan keluarga berada, alumnus Fakultas Tehnik jurusan Teknik Arsitek Universitas Indonesia yang juga SMP2 Depok dan SMU1 Depok bernama Reynhard Sinaga dinyatakan bersalah dan dihukum seumur hidup atas kasus perkosaan terhadap 48 pria dengan 159 dakwaan pada medio januari 2016 sampai juni 2017. Dia termasuk keluarga berada karena sebelumnya tinggal di rumah mewah di depok di lahan seluas 3,2 ha.

Kepolisian Manchester Raya menyatakan dari 48 korban yang kasusnya telah disidangkan, 45 korban di antaranya adalah heteroseksual dan 3 homoseksual. Di dalam ruang sidang, Reynhard berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa hubungan seksual tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka.

Sebaliknya, para korban mengaku menjadi korban perkosaan setelah dibawa ke apartemen dan meminum minuman alkohol yang telah diberi obat bius. Dalam sidang vonis, Jaksa Penuntut mengatakan korban perkosaan mengalami trauma dan sebagian mencoba bunuh diri. Meskipun suatu perbuatan dilakukan atas dasar ikhlas tetapi jika perbuatan tersebut mengandung unsur dosa maka tetap kena hukum agama atau Negara. Kasus ini oleh kepolisian Manchester masih dikembangkan terus meskipun vonis hukuman telah dijatuhkan. Masih banyak pengaduan tapi masih dirahasiakan karena polisi punya banyak media pengaduan termasuk yang mereka sebut sebagai Portal Insiden Besar Publik saat ini. Dan kini polisi Indonesia melalui markas besarnya berusaha menelusuri rekam jejak criminal Reynhard di tanah air, untuk mengetahui apakah predator seks tersebut juga beroperasi di Indonesia.

Kasus ini tak hanya di Inggris dan Indonesia, namun juga seluruh dunia, lewat berbagai media bahkan di media cetak atau Koran di inggris ditempatkan sbg berita utama di halaman depan, dan ada unggahan di media social yang menunjukkan identitas korban perilaku penyimpangan seks tersebut. Ini benar-benar menjadi tamparan keras bagi bangsa Indonesia dan akan berimbas bagi pelajar Indonesia yang melanjutkan studi di inggris. Kasus ini menunjukkan bahwa mereka yang termasuk dalam jenis (LGBT) memang nyata ada di sekitar kita, dan jumlahnya semakin meningkat.

Seperti gunung es, yang muncul di permukaan hanya sedikit sedangkan yang tersembunyi di bawahnya lebih besar/banyak namun sulit terdeteksi. Sejak zaman Nabi Luth, perilaku seks menyimpang ini memang sudah ada. Namun yang mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa semakin hari jumlahnya semakin meningkat dan memprihatinkan. Mereka tampil secara vulgar tidak hanya di tempat tertutup misal di salon kecantikan atau ruang tetapi sudah berani di jalan umum di beberapa kota di Indonesia. Ketika Kapolres Aceh utara , dua tahun yang lalu tepatnya februari 2018 menggelandang belasan pria transgender yang di lima salon kecantikan kemudian melakukan penggundulan terhadap mereka , maka terjadilah pro dan kontra karena cara pandang yang berbeda. Ketika kita menggunakan kaca mata agama tentu tindakan itu dapat dibenarkan tetapi bila yang digunakan kacamata hak azasi manusia, tentu akan terjadi perbedaan, itulah kenyataan yang menunjukkan bahwa memerangi perbuatan yang melampui batas ternyata sangat sulit dan rumit. Bukankah hal tersebut sudah diingatkan saat Alloh swt hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi.

Saat Allah memberitakn hal tersebut pada malaikat dan reaksi malaikat cukup keras tapi santun. Apakah engkau ya Alloh hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di bumi? ( QS Al Baqarah ayat 30).

Sementara itu dalam khasanah kedokteran Islam, konsep kesehatan jiwa pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter Abu Zayd Ahmed ibnu Sahl al-Balkhi yang hidup tahun 850-934. Al-Balkhi menulis kitab berjudul Masalih al-Abdan wal Anfus (Makanan untuk Tubuh dan Jiwa) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kesehatan tubuh (fisik) dengan kesehatan jiwa. Al-Balkhi menggunakan istilah al-Tibb al-Ruhani untuk menjelaskan kesehatan psikologi.

Menurutnya, jika jiwa sakit, maka tubuh pun tak akan bisa menikmati hidup dan itu bisa menimbulkan penyakit kejiwaan.
Selanjutnya, kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi batin yang berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram serta upaya untuk menemukan ketenangan batin melalui penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Dalam Islam, perilaku LGBT dikategorikan sebagai perilaku keji yang melanggar aturan Allah SWT (sunnatullah). Perbuatan kaum LGBT bertentangan dan merusak fitrah yang ditetapkan Allah kepada manusia. Allah SWT menyebutkan hal tersebut termasuk perbuatan yang melampaui batas.

Rosulullah paling takut bila umatnya melakukan perbuatan menyimpang seperti kaum Luth, yang disampaikan dalam hadits berikut :
Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth [HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad].

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali) [HR Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337].

Perilaku seks menyimpang yang dilakukan oleh LGBT merupakan penyakit jiwa yang merusak baik hubungan para pelaku dengan sesama manusia maupun hubungannya dengan Tuhannya. Dengan demikian, LGBT disamping bertentangan dengan agama juga membahayakan kesehatan karena berbagai penyakit menular, seperti HIV/AIDS dapat tersebar melalui praktik menyimpang.

Penyakit jiwa (seperti LGBT) yang merupakan perbuatan keji dan melampaui batas itu. Mari kita bentuk kepribadian muslim yang hidup bersih, suci dan dapat menyesuaikan diri dalam setiap kondisi. Kondisi seperti itu merupakan syarat mutlak bagi terciptanya kesehatan mental. Bukankah sejarah telah memperlihatkan bukti dan telah diabadikan dalam Al Quran bahwa Luth yang telah diutus oleh Alloh untuk menasehati kaumnya agar menuju jalan yang benar, akan tetapi nasehat Luth tidak digubris dan akhirnya berkesudahan dengan laknat Alloh yang berupa hujan batu yang bahannya diambilkan dari neraka dan hanya Luth dan pengikutnya tersisa sedangkan kaum Luth binasa termasuk isterinya. Dalam bahasa Al Quran, isterinya termasuk orang yang tertinggal. (*)