Sawahku Terkikis di Negeri Agraris

Oleh: 1.Drs.Priyono,MSi (Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

2.Siti Nur Aisah( Mahasiswa Peserta Kuliah Demografi Geo UMS dan Aktif di Pers Mahasiswa)

Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Jumlah pulau yang ada ± sekitar 17 ribu dengan Pulau Kalimantan sebagai pulau terbesar dan Pulau Simping sebagai pulau terkecil. Tidak disangka bahwa kedua pulau tersebut letaknya berdampingan. Secara geografis, Indonesia terletak di antara Benua Australia dan Benua Asia, serta di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Sedangkan secara astronomis, Indonesia terletak di 6o LU (Lintang Utara) 11o LS (Lintang Selatan) dan 95o BT (Bujur Timur) 141o BT (Bujur Timur). Hal tersebut mengakibatkan negara Indonesia memiliki tiga iklim utama yaitu iklim muson (musim), iklim panas (tropis), dan iklim laut.

Indonesia memang dilalui garis khatulistiwa, namun tetap memiliki curah hujan yang cukup tinggi pada saat musim hujan. Beberapa wilayah Indonesia memiliki struktur tanah yang cukup subur sehingga sangat cocok dijadikan lahan pertanian. Oleh karenanya Indonesia mendapat julukan sebagai Negara Agraris. Ringkasnya pengertian agraris sendiri yaitu kondisi suatu negara dimana sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian.

Kata agraris sendiri sudah sangat populer di telinga kita, meskipun belum mengetahui artinya. Agraris erat kaitannya dengan sektor pertanian. Negara agraris bisa dikonotasikan bahwa sebagian penduduknya menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan tenaga kerja di bidang pertanian masih mendominir dan mestinya kontribusi terbesar juga dari sektor pertanian. Tapi kini telah terjadi pergeseran dimana secara relative kontribusi sektor tradisional ini mengalami penurunan. Terkait dengan penyerapan tenaga kerja pertanian, dalam kurun waktu 2003-2013 telah terjadi penurunan, pada hal periode sebelumnya, jumlah rumah tangga sektor pertanian masih digdaya.

BACA JUGA:  MUDIK SALAH TIDAK MUDIK SUSAH

Penurunan rumah tangga petani tersebut mencapai 5,10 juta atau terdegradasi 16,32 %( BPS Jawa Tengah, 2013). Berdasarkan sub sektor maka penurunanrumah tangga tani antara th 2003-2013, terjadi di sektor holtikultura sebesar 37,40 % atau 6,34 juta, kemudian diikuti sub sektor peternakan sebesar 30,26 %, perkebunan sebesar 9,62 % serta tanaman pangan sebesar 5,24 %(BPS, 2013).Sektor pertanian dapat juga dikatakan sektor yang banyak membutuhkan tenaga kerja atau padat tenaga kerja dengan ciri tenaga kerjanya memiliki pendidikan yang relative rendah

Kemana sawahku ?
Sungguh judul artikel ini, kalimat yang begitu menohok. Tulisan tersebut agaknya sudah banyak digembor-gemborkan diseluruh penjuru negeri tetapi nampaknya masyarakat masih menganggap remeh akan persolan tersebut. Apakah Indonesia masih menjadi negara agraris? Bagaimana nasib para petani? Bagaimana nasib rakyat Indonesia? Pertanyaan ini masih saja bergelayut di dalam benak yang terus membayangi diri akan bagimana keadan negeri ini selama beberapa tahun kedepan apabila lahan persawahan terus-menerus dibabat habis oleh keserakahan manusia.

Konon katanya negeri ini memiliki wilayah yang subur, hijau dan dapat menyejahterakan rakyat. Namun, pada kenyataanya rakyat mana yang sejahtera? Petani sebagai kunci penghasil bahan pangan utama terus-menerus menjerit terhimpit oleh kerasnya pasar dagang. Seluruh jerih usaha yang digunakan untuk menggarap sepetak sawah masih saja dihianati oleh orang yang tidak bisa menghargai filosofi dari sebutir nasi.