Spirit Berkurban Kita

oleh
1.Agus Anggoro Sigit,S.Si,M.Sc ( Dosen Fakultas Geografi UMS )
2.Drs.Priyono,M.Si ( Dosen Fakultas Geografi UMS dan Takmir Masjid )

IKHLAS BERQURBAN BUKTI KECINTAAN

Wahai putraku tercinta….!
Betapa berat cobaan ini kurasa
Segenap kasih dan cinta ayah padamu sungguh tiada tara
Sanggupkah tangan ini mengakhiri hidup darah dagingku sendiri..?

Wahai Ayahku tercinta…
Cintaku padamu tak bisa terlukis kata
Bila demikian adanya mampukah kutolak apa yang kau minta..?
Ayah lakukan semua bila ini menjadi jalan kita..
Bersama menjemput Jannah-NYA

Ya Allah …pujiku kepadaMU semata
Telah kau anugerahi aku dan istriku seorang putra
Yang rela mengorbankan nyawanya
Semata memenuhi perintah-MU yang Mulia

Ya Allah…!
Cobaanmu begitu berat hamba terima
Namun demi cintaku kepada-MU dan kepada-nya
Kupersembahkan pengorbananku dengan hati ikhlas untuk-MU semata

Ya Allah….!
Ismail putraku satu-satunya
Yang kunanti kelahirannya bertahun lamanya
Sungguh aku mencintaimu lebih dari segalanya Ya Allah

Surgakan putraku atas semua cobaan untukku
Meskipun hari raya Idul Adha masih dua minggu lagi, akan tetapi ghiroh untuk menyambutnya sudah terasa meskipun covid-19 semakin membabi buta. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM ) untuk memutus mata rantai penyebaran virus mematikan telah diumumkan oleh Presiden dan berlaku 3-20 juli 2021. Berbagai upaya sebelumnya yang serupa dengan PPKM yang sudah dilakukan ternyata belum efektif sehingga perlu strategi lain. Bagi ASN atau pegawai swasta yang memiliki gaji tetap, pembatasan ini mungkin tidak terasa untuk kehidupan sehari hari, akan tetapi bagi mereka yang tidak memiliki penghasilan tetap, akan terasa dampaknya sehingga di berbagai daerah pelaksanaan PPKM sangat bervariasi implementasinya mulai yang longgar sampai ketat. Ambil contoh seorang buruh srabutan atau seorang sopir , sangat kesulitan ekonomi di masa pandemi, apalagi diadakan pembatasan , maka akan merasa terpukul kehidupan ekonominya.

Masih sekitar covid-19, rasanya dunia ini sudah semakin tua, banyak kejadian di sekitar kita yang kadang menakutkan tapi bisa juga menjanjikan. Hampir setiap hari melalui speaker masjid selalu terdengar kalimat thoyibah : Innalillahi wainnaa ilaihi rooji’un . Banyak orang meninggal karena covid-19 terutama pada usia senja yang memiliki penyakit penyerta, katanya. Rumah sakit penuh pasien sehingga menolak pasien yang datang karena kehabisan fasilitas ruangan dan suara mobil ambulance meraung raung terutama di malam hari menjadikan suasana jadi mencekam, lepas apakah ambulance tersebut mengangkut pasien atau tidak ? Di lain pihak dengan banyaknya pasien covid-19 tentu rumah sakit menerima bonus karena pasien covid ditanggung negara dengan bea yang tidak sedikit. Ada berita lain, jelang Idul Adha, tukang pande besi bisa kewalahan memenuhi permintaan pisau untuk menyembelih maupun mengecilkan daging, satu pisau bisa nyampai harga rp 70.000-100.000. Hikmah yang bisa dipetik dari kejadian itu adalah bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk sebuah kematian dan peluang itu selalu ada di saat krisis kematian. Ada trade off di setiap fenomena sosial ekonomi dan kesehatan.

Di saat covid melanda, nanti umat islam akan merayakan hari raya haji yang jatuh pada tgl 20 mei 2021. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan sejumlah imbauan bagi umat islam terkait dengan peringatan hari raya idul adha yang diperingati saat pandemi. Imbauan itu tertuang dalam Edaran PP Muhammadiyah nomor : 05/EDR/I.0/E/2021 tentang Imbauan Perhatian,Kewaspadaan dan Penanganan Covid-19 serta Persiapan menghadapi idul adha 1442 H. Misalnya sholat Id dilakukan di rumah masing masing mengingat kasus covi-19 terus mengalami peningkatan dan PP Muhammadiyah mengutamakan keselamatan jiwa umat. Termasuk mengalihkan qurban dengan bersedekah uang tunai untuk membantu masyarakat yang kena dampak covid-19. Tapi bagi yang mampu , dipersilahkan untuk melaksanakan keduanya, ya qurban ya sedekah.

Semangat berqurban meskipun saat pandemi , tidak pernah surut karena sudah dipersiapkan dan menjadi komitmen setiap muslim seperti halnya komitmen Ibrahim untuk mengorbankan Ismail, putra semata wayang yang shaleh karena perintah Allah. Dan peristiwa kepatuhan hamba Allah dengan berkurban telah diabadikan dalam Al Qur’an As Saffat ayat 102-111. Ibrahim dinyatakan sebagai hamba pilihan dan di ayat 112 difirmankan bahwa Ibrahim, sungguh dia termasuk hamba Kami yang beriman.

Idul Qurban sudah di depan mata, maka akan menjadi pelajaran berharga bagi kita bahwa semangat atau spirit berkurban harus menyala di dada kita , meniru semangat Ibrahim yang sangat heroik mengorbankan puteranya walaupun perintah Allah itu hanya memalui mimpi yang berulang. Semangat berkurban itu sangat dubutuhakan baik untuk masyarakat sekitar, untuk bangsa dan negara, lebih lebih di saat pandemi ini dimana warga sangat membutuhkan uluran kita semua karena kesulitan ekonomi akibat Covid-19. Idul Qurban tidak saja menyimpan seribu makna dan spirit berkurban. Peringatan ini harus diresapi sebagai peristiwa yang sarat dengan pengorbanan. Ia tidak sebatas merayakan hari raya haji tapi hari bersejarah yang mengandung pengorbanan. Nilai rela berkurban menjadi semakin relevan dalam kondisi saat ini yang melanda tanag air dengan pegebluk covid-19, sebagaimana pesan Al Qur’an dalam surat ke 108 yang terpendek itu yaitu Surah Al Kausar : “ Sungguh kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak, Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan Berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri pada Allah. Sungguh, orang orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah) “. Pesan moral dari surah tersebut adalah bersyukur dengan sholat dan berkurban.(*)