Trend Anak Gugat Orang Tua, Potret Buram Keluarga Muslim

Oleh: Aisyah Ummu Naya

Gugatan anak terhadap ayah kandung sebesar Rp 3 miliar di Bandung menyedot perhatian. Pihak penggugat pun angkat bicara terkait gugatan tersebut. Apa katanya? “Pada intinya begini, bahwa adanya gugatan itu adalah dalam rangka, ada tiga hal yang saya tangkap. Pertama membela dirinya, dalam rangka pembelaan diri,” ujar Musa Darwin Pane kuasa hukum penggugat saat dikonfirmasi, Kamis (21/1/2021). Gugatan itu dilayangkan oleh Deden terhadap Koswara ayah kandungnya. Gugatan itu berkaitan dengan persoalan sebagian bangunan di Jalan AH Nasution, Kota Bandung.

Kembali ke soal pembelaan diri. Musa mengatakan pembelaan diri yang dimaksud ialah Deden dalam hal ini sebagai penggugat diusir dari tempatnya yang kini menjadi objek sengketa. Padahal, kata dia, Deden selalu rutin membayar biaya sewa dari tahun 2012 silam. Di tempat lain juga ada seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Kasus ini berawal dari cekcok masalah pakaian yang dibuang ibunya. Kini sang ibu yang berinisial S (36) mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota. Sebelumnya sempat viral di medsos kasus anak yang melaporkan ibu kandungnya warga asal Lombok Tengah, Nusa Tengara Barat (NTB) datang ke Mapolres Lombok Tengah hendak melaporkan ibu kandungnya K (60), ke polisi. Kepada polisi, M hendak melaporkan ibu kandungnya karena masalah motor. Inilah salah satu potret buram keluarga muslim dalam sistem kapitalis.

Bila dicermati berbagai persoalan yang menimpa keluarga muslim saat ini tidak lepas dari persoalan jauhnya keluarga dari Islam sebagai tuntunan hidup. Secara internal, keluarga telah banyak kehilangan nilai-nilai Islam. Kelemahan yang dialami individu anggota keluarga pun dilengkapi oleh sistem dan masyarakat yang tidak kondusif pelaksanaan hukum-hukum agama.

Sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama (Islam) dengan kurikulum dan metode pembelajaran di sekolah menghasilkan peserta didik yang mandul dari pelaksanaan ajaran agama. Mereka mungkin cerdas dalam hal sains, tapi bodoh dalam beribadah dan berakidah yang lurus. Kerusakan moral yang banyak dialami pelajar saat ini tentu tak lepas dari rusaknya sistem pendidikan yang saat ini diberlakukan di negeri ini.

Secara eksternal, problem keluarga juga dipengaruhi kondisi global yang mengungkungnya. Globalisasi dengan makna kapitalisasi dan liberalisasi memberikan andil yang signifikan bagi arah perubahan dunia di era millennium ini. Globalisasi juga telah suskes menancapkan nilai sekulerisme dan materialisme yang sarat dengan budaya hedonis dan permisif ke tengah keluarga.

Istri yang berani pada suami, anak yang membangkang pada orang tua dianggap sebagai kemajuan yang layak mendapatkan perlindungan hukum. Ditambah lagi serangan budaya pergaulan bebas di luar rumah, memberi peluang bagi pasutri untuk mencari kenyamanan di luar rumah setiap kali mengalami konflik keluarga. Senyatanya, keluarga kini tengah berlomba-lomba mengejar kehidupan duniawi sementara mereka melupakan rambu-rambu Allah SWT atas kehidupan ukhrawi yang bakal mereka lalui kelak.

Senyatanya, sistem sekuler yang menjauhkan Islam dari kehidupan telah menjadikan keluarga terombang-ambing oleh gelombang penghancuran. Rapuhnya penerapan syariat Islam di internal ditambah serangan yang kuat dari luar menjadikan keluarga rapuh.

Kondisi ini tentu tak akan terjadi jika ideologi Islam hadir di dunia. Islam menjadi tolok ukur kebenaran, arah kebahagiaan dan standar berbagai kebijakan negara.

Oleh karena itu, sesungguhnya satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarga adalah dengan menegakkan Islam sebagai ideologi umat. Artinya, secara internal keluarga mengikatkan diri dengan Islam dalam seluruh aspeknya. Di sisi lain, umat harus mengupayakan berperannya Islam sebagai sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara sehingga mampu menopang tegaknya keluarga muslim sejati yang akan mengantarkan kepada peradaban yang sejahtera dan bermartabat.

Upaya untuk mewujudkan keluarga muslim sejati. Pertama, membangun ketakwaan keluarga. Mendidik anak-anak dengan menumbuhkan ketaqwaan dan akhlak yang mulya Ketakwaan yang dimilki setiap anggota keluarga akan melahirkan sikap tunduk patuh pada ketentuan Allah SWT (syariat Islam).

Rasulullah. Saw bersabda “tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih baik dari pada akhlak yang baik( HR. At Tirmidzi) Kedua, membangun tanggung jawab masyarakat dengan kepedulian dan amar makruf nahi munkar baik di tingkat masyarakat maupun terhadap penguasa sehingga tidak ada pembiaran terhadap kedzaliman Ketiga, membangun sistem Islam. Sistem ini adalah sistem yang memberlakukan Islam dalam semua bidang baik politik, hukum, ekonomi, sosial, pendidikan, keamanan dan lainnya. Allah SWT memerintahkan agar kaum muslim berhukum dengan hukum-hukum Islam dan mencela orang-orang yang menggunakan hukum jahiliyah.

Itu semua bisa terjadi karena sistem ini lahir dari Zat Yang MahaKuasa dan MahaTahu atas segala sesuatu. Sehingga seluruh persoalan yang dihadapi makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi apapun dapat diselesaikan dengan memuaskan, tanpa ada pihak manapun yang dirugikan. Aturan-aturan tersebut senantiasa sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal manusia yang pada akhirnya akan menenteramkan jiwa manusia.

“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “ (Q.S Ar Ruum : 30 )

Wallahu’alam Bish shawwab