Problem dan Tantangan dalam Pendidikan Kebencanaan di Sekolah

Problem dan Tantangan dalam Pendidikan Kebencanaan di Sekolah
0 Komentar

Pendidikan kebencanaan belum diintegrasikan secara menyeluruh dalam kegiatan pembelajaran Materi kebencanaan sebaiknya menjadi materi muatan lokal sendiri yang tidak menambahi jumlah jam belajar peserta didik. Materi kebencanaan masuk muatan lokal karena setiap daerah memiliki karakteristik kebencanaan sendiri sendiri sesuai dengan spesifikasi wilayahnya.

Misalnya daerah yang rawan longsor, maka pendidikan kebencanaan yang diperdalam adalah bagaimana mitigasi dalam menghadapi bencana tanah longsor.

Pendidikan kebencanaan yang ada saat ini juga hanya sedikit mengandung sikap, ketrampilan, dan aspek psikologi dan upaya kemanusaiaan, Pendidikan kebencanaan lebih banyak bersifat teoritis saja, tidak dibarengi dengan pembekalan dan pelatihan untuk bisa survive dalam kejadian bencana.

Baca Juga:Ajukan Pengunduran Diri, Sejumlah Kades Coba Peruntungan Jadi Wakil RakyatDiduga Akibat Proyek Japek II, Sumber Mata air Warga Citaman Surut

Pendidikan kesiapsiagaan bencana tanpa dibarengi praktek tentunya akan menimbulkan ketimpangan tersendiri. Ketika terjadi bencana yang diperlukan adalah keterampilan untuk menghadapinya, bukan hanya sekedar teori. Jika peserta didik sudah terbiasa berlatih, maka ketika terjadi bencana, mereka akan lebih siap dan dapat meminimalisir efek buruk bencana.
Pembekalan materi kebencanaan bagi guru juga masih sangat kurang, pada kenyataan di lapangan, pendidikan kebencanaan hanya disampaikan oleh guru pada mata pelajaran tertentu saja, misalnya guru geografi.

Padahal sejatinya setiap guru harus mampu mengedukasi peserta didik akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Kaborasi pihak sekolah dengan unsur terkait dalam pendidikan kebencanaan seperti BPBD juga sangat diperlukan untuk memberikan pembekalan kepada guru. Sehingga dalam kegiatan pembelajaran guru dapat menerapkan pendidikan kebencanaan kepada peserta didik.

Masalah-masalah yang telah dikemukan terjadi disebabkan oleh kurangnya peran dan integrasi pihak-pihak terkait (stakeholder) dalam memanajemen pendidikan kebencanaan secara berkelanjutan di sekolah. Pendidikana kebencanaan hanya sebatas digaungkan tanpa ada realisasi yang nyata secara serempak di sekolah-sekolah. Kesiapsiagaan bencana bukan hanya tercermin dalam slogan ataupun spanduk yang terpajang di sekolah, tetapi harus ada aksi nyata dalam kegiatan pembelajarannya.

Laman:

1 2
0 Komentar