Profil Kaum Marginal Daerah Pinggiran Kota Surakarta (Kasus Di Sukoharjo) Bag 2 Habis

Profil Kaum Marginal Daerah Pinggiran Kota Surakarta (Kasus Di Sukoharjo) Bag 2 Habis
0 Komentar

Oleh

1.Drs.Priyono,MSi (Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

2.Arbian Sukma Birawa, Juli Trima Siti Priana, Lana Aristya,Muhammad Azuwar Annas, Ratih Kusumaningrum ,Salsabila Pitrasari ,Sunarsih ( Mahasiswa peserta KKL 2 F.Geografi UMS)

Kelompok marginal secara teoritis adalah warga di desa yang selama ini terpinggirkan. Kelompok marginal dikenal dengan kehidupan yang sulit, terpinggirkan, dan terlebih mengalami kondisi hidup yang pra sejahtera. Kaum marginal adalah perkumpulan orang-orang yang kumuh, tidak tertib, dan bahkan tidak berpendidikan.. Hal ini disebabkan karena kesulitan ekonomi, tidak tercukupinya kebutuhan hidup, tinggal di tempat kumuh, putus sekolah juga termasuk ke dalam kaum yang digolongkan marginal atau pinggiran. Mereka yang merantau ke Kota besar umumnya tinggal di bantaran sungai, di pinggir rel kereta api atau di daerah pinggiran dn bekerja di sektor non formal yang kadang sangat riskan.Tekanan ekonomi di perkotaan jadi penyebab utamanya. Mereka ingin keluar dari daerah asalnya dengan migrasi ke kota untuk mendapatkan nilai lebih dan kotalah yang diharapkan karena kota dipersepsikan daerah yang banyak penduduk, banyak kesempatan kerja dan gampang mendapatkan uang dibanding di pedesaan yang mereka tinggalkan. Menurut Ibu Mother Terresa, kaum miskin, kaum marginal, dan orang-orang yang tidak diperhitungkan di masyarakat ada karena akibat dari keberadaan lingkungan sekitar.

Beberapa lokasi lampu merah di periferi Soloraya banyak digunakan untuk mencari pendapatan dengan menjadi pekerja lampu merah seperti pengemis, manusia silver,badut boneka dan lainnya. Pengemis adalah seseorang yang berpenghasilan dari aktivitas meminta-minta di tempat umum dan mempunyai tempat tinggal yang jelas (Saptono, 2005). Mengemis biasanya dilakukan di tempat umum seperti di lampu merah, di tempat makan, didalam angkutan umum, bahkan berkeliling ke setiap rumah. Tindakan mengemis tersebut sangatlah mengganggu orang lain terutama masyarakat sekitar karena tidak semua pengemis berperilaku baik. Penyebab banyaknya pengemis di kota besar, bukan hanya karena sebagai korban dari tidak adanya lapangan pekerjaan, tetapi juga dari faktor tidak adanya keinginan untuk berusaha dan tidak memiliki keterampilan (Anggriana & Dewi, 2016). Namun tidak hanya pengemis, pada saat ini di periferi di Soloraya sudah banyak  atau menjamurnya manusia silver.

0 Komentar