Puasa dengan Berhasil untuk Mencapai Ridho Allah

Surakarta
0 Komentar

Oleh:

1.Drs. H. Priyono, M.Si. ( Dosen senior pada Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

2.Drs.H.Jajang Susatyo,MSi ( Dosen dan Ketua program studi pendidikan Geografi Unwida, Klaten)

Hari ini adalah hari ke 16 puasa ramadhan kita, dengan segala kelebihan dan kekurangan tentu kita harus bermuhasabah agar ibadah di hari berikut akan lebih baik kualitasnya. Inilah saatnya kita mengukur apakah Ramadhan kita berhasilguna atau tidak, sebelum kita semakin jauh meninggalkan Ramadhan. Setiap orang yang beriman tentu telah memiliki agenda ibadah yang akan dilaksanakan selama bulan ramadhan, setelah diinventaris, hal tersebut sering dikenal perencanaan ibadah yang akan dilaksanakan selama bulan ramadhan baik yang terkait dengan hubungan kita dengan Allah maupun muamalah agar derajat tertinggi manusia yaitu taqwa bisa tercapai.

Baca Juga:Jelang Lebaran, Ridwan Kamil Perintahkan Linmas Kawal Rumah PemudikIni Suara Warga untuk Kemajuan Subang!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata berhasilguna adalah dapat membawa hasil. Arti lainnya dari berhasilguna adalah efektif. Efektivitas merupakan tingkat pencapaian output (hasil) yang ditetapkan. Cara mengukur efektifitas yaitu dengan membandingkan antara hasil yang seharusnya dicapai dengan kenyataan yang ada. Jika hasil yang diharapkan sama dengan kenyataan maka akan dinilai efektif/berhasilguna. Demikian pula dalam mengukur efektifitas Ramadhan, kita dapat membandingkan antara hasil yang diharapkan (taqwa) dengan kondisi kita saat ini.

Hasil yang diharapkan dari puasa Ramadhan kita adalah agar kita bisa mencapai derajat taqwa yaitu sebuah kondisi dimana manusia menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya dengan cara menjalankan perintah puasa, mengekang hawa nafsu . Proses tersebut harus disertai dengan ibadah penyertanya seperti sholat, baca kitab suci Al Quran, zikir, shadaqah, berbuat baik dll , yang dilakukan secara ikhlas dan dengan ilmu. Jadi antara iman, ilmu, amal dan ikhlas merupakan benang merah yang tidak bisa dipisahkan sebagaimana yang di firmankan Allah dalam beberapa surat.

Umar bin Khattab RA pernah bertanya kepada sahabat Ubay bin Ka’ab, “Wahai Ubay, apa makna takwa?” Ubay justru balik bertanya. “Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?” Umar menjawab, “Tentu saja pernah.” Ubay lanjut bertanya, “Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?” Umar pun menjawab,”Tentu saja aku akan sangat berhati-hati dalam berjalan,” Ubay pun kemudian berkata, “Itulah hakikat takwa.” Banyak kisah yang terjadi dalam masyarakat karena ketidak hati hatiannya misalnya mengambil satu helai daun sirih milik tetangga tanpa izin si pemilik, maka itu termasuk perbuatan dosa atau mereka tidak berhati hati. Kisah lain misalnya kita sedang melakukan perjalanan jauh dan tiba saatnya waktu makan kemudian kita asal masuk sebarang warung tanpa memperhatikan makanan halal atau haram, maka kasus ini juga kita kurang berhati hati.

0 Komentar