Syarat Kambing Kurban untuk Dipenuhi Serta Umur Minimal untuk Disembelih

Syarat Kambing Kurban untuk Dipenuhi Serta Umur Minimal untuk Disembelih
Syarat Kambing Kurban untuk Dipenuhi Serta Umur Minimal untuk Disembelih

Apa Syarat Kambing Kurban dan Berapa Minimal Umurnya?

Kambing Kurban untuk idul adha tentu saja memiliki kriteria dan syarat tertentu sebelum dipilih dan disembelih pada hari raya idul adha.

Syarat kambing untuk kurban tentu ada beberapa hal yang haru diperhatikan agar hewan kurban seperti kambing kurban tersebut sah untuk disembelih pada sat hari raya idul adha tiba.

Berkurban adalah ibadah Sunnah Muakkad yang sangat dianjurkan untuk orang Islam yang sudah mampu untuk berkurban adalah merujuk pada Hadit’s Rasulullah S.A.W:

 “Aku diperintahkan untuk berkurban, dan berkurban bagi kalian adalah sunah,” (H.R. Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan, sedangkan ia tidak berkurban, janganlah dekat-dekat musholla kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim, namun hadits ini mauquf).

Apa Syarat Kambing Kurban yang Harus Dipenuhi?

Syarat Kambing Kurban untuk Dipenuhi Serta Umur Minimal untuk Disembelih
Syarat Kambing Kurban untuk Dipenuhi Serta Umur Minimal untuk Disembelih

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi ketika kita ingin memilih hewan kurban seperti kambing kurban, syarat tersebut dilakukan agar kurban kita diterima di sisi Allah SWT, yaitu :

  • 1. Haruslah binatang ternak,
  • Sudah mencukupi usia minimal, dan
  • tidak dalam keadaan cacat.

Hewan kurban seperti Kambing adalah salah satu jenis binatang ternak yang disyariatkan untuk dikurbankan pada hari raya idul adha. Tetapi tidak seperti sapi, kerbau, atau unta, kurban dengan hewan kambing hanya untuk 1 (satu) orang.

Kita simak penjelasan syarat-syarat hewwan kambing kurban seperti dilansir dari laman resmi NU:

  1. Haruslah Binatang Ternak

Hal ini berdasar firman Allah Ta’ala,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34)

Bahimatul An’am: unta, kambing dan sapi, Ini yang dikenal oleh orang Arab sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan, Qatadah, dan selainnya. Atau sejenis hewan sapi seperti kerbau karena hakikatnya sama dengan sapi juga diperbolehkan untuk berkurban, dengan demikian maka tidak sah berkurban dengan 100 ekor ayam, atau 500 ekor bebek dikarenakan tidak termasuk kategori Bahimatul An’am.

2. Usianya sudah mencapai umur minimal yang ditentukan syari’at.

Umur hewan kurban adalah:

  • Unta minimal berumur 5 tahun dan telah masuk tahun ke 6.
  • Sapi minimal berumur 2 tahun dan telah masuk tahun ke 3.
  • Kambing jenis domba atau biri-biri berumur 1 tahun, atau minimal berumur 6 bulan bagi yang sulit mendapatkan domba yang berumur 1 tahun.
  • Sedangkan bagi kambing biasa (bukan jenis domba atau biri-biri, semisal kambing jawa), maka minimal berumur 1 tahun dan telah masuk tahun ke 2.

Seperti yang terdapat dalam kitab Kifayatul Akhyar,

ويجزئ فيها الجذع من الضأن والثني من المعز والثني من الإبل والثني من البقر

Umur hewan kurban adalah Al-Jadza’u (Domba yang berumur 6 bulan-1 tahun), dan Al-Ma’iz (Kambing jawa yang berumur 1-2 tahun), dan Al-Ibil (Unta yang berumur 5-6 tahun), dan Al-Baqar (Sapi yang berumur 2-3 tahun).

Bagaimana Kalau Kambing Tidak Sempurna atau Cacat?

(Perihal ini sebaiknya ditanyakan pada ustadz atau ulamat terdekat)

Syekh Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni menyampaikan:

مَسْأَلَةٌ؛ قَالَ: وَلَوْ أَوْجَبَهَا سَلِيمَةً، فَعَابَتْ عِنْدَهُ، ذَبَحَهَا، وَكَانَتْ أُضْحِيَّةً وَجُمْلَتُهُ أَنَّهُ إذَا أَوْجَبَ أُضْحِيَّةً صَحِيحَةً سَلِيمَةً مِنْ الْعُيُوبِ، ثُمَّ حَدَثَ بِهَا عَيْبٌ يَمْنَعُ الْإِجْزَاءَ، ذَبَحَهَا، وَأَجْزَأَتْهُ. رُوِيَ هَذَا عَنْ عَطَاءٍ، وَالْحَسَنِ، وَالنَّخَعِيِّ، وَالزُّهْرِيِّ، وَالثَّوْرِيِّ، وَمَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ، وَإِسْحَاقَ. وَقَالَ أَصْحَابُ الرَّأْيِ: لَا تُجْزِئْهُ؛ لِأَنَّ الْأُضْحِيَّةَ عِنْدَهُمْ وَاجِبَةٌ، فَلَا يَبْرَأُ مِنْهَا إلَّا بِإِرَاقَةِ دَمِهَا سَلِيمَةً، كَمَا لَوْ أَوْجَبَهَا فِي ذِمَّتِهِ، ثُمَّ عَيَّنَهَا، فَعَابَتْ   “

Syekh Ibnu Qudamah berkata:

“Jika seseorang telah menentukan hewan yang sehat dan bebas dari cacat untuk kurban, kemudian mengalami cacat yang seharusnya tidak boleh untuk dikurbankan, maka dia boleh menyembelihnya dan hukumnya sah sebagai kurban. Keterangan ini merupakan pendapat Atha’, Imam Hasan Al-Bashri, Imam An-Nakha’i, Imam Az-Zuhri, Imam At-Tsauri, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ishaq bin Rahuyah. Adapun menurut para ulama dari kalanga Ashabu al-Ra’yi berpendapat, bahwa: Tidak mencukupi, karena kurban bagi mereka hukumnya adalah wajib, sehingga tidak boleh serta merta lepas dari mengalirkan darah yang berasal dari hewan yang selamat dari cacat, sebagaimana kasus hewan kurban yang ada dalam tanggungan wajibnya, kemudian sudah ditentukan, akan tetapi di penghujung tiba-tiba mengalami cacat.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 9, halaman 143). Wallahu a’lam