Semangat Berkurban Dalam Dimensi Sosial Religi

Semangat Berkurban Dalam Dimensi Sosial Religi
0 Komentar

Semangat untuk berkurban dengan menyembelih hewan kurban, sudah diawali sejak kini. Bagi  yang kurban 1 ekor sapi untuk 7 keluarga, kini sudah mulai diperbincangkan di medsos bahkan hanya dalam waktu 6 hari, malah sudah ada yang mendapatkan pasangan 6 kelompok atau 42 keluarga dengan 6 ekor sapi, tapi tidak jarang sampai memakan waktu satu bulan , belum lengkap pasangannya. Ini artinya bahwa kesiapan menghadapi kurban untuk tiap orang sangat bervariasi tinggal tingkat keimanan seseorang. Bagi orang berimannya bagus maka sudah mempersiapkan jauh sebelumnya dan sebaliknya.

Kurban adalah sebagai pengejawantahan bahwa di dalam ibadah tersebut terkandung makna betapa islam selalu mengajarkan kepeduliaan terhadap sesama. Sehingga setiap perintah ibadah dalam agama maka dimensi sosial  selalu mendapat perhatian . Itulah makna keseimbangan dunia akherat. Spirit beribadah yang selalu memperhatikan keseimbangan ini harus selalu terjaga sehingga jangan  sampai terjadi orang di sekitar orang orang beriman yang memiliki komitmen tinggi terhadap agamanya tetapi tidak tersentuh indahnya islam yang suka berbagi sesama dan suka peduli terhadap manusia di sekitarnya. Fenomena ini sebagai tanda bahwa keseluruhan ibadah ritual memiliki dimensi sosial baik langsung maupun  tidak langsung. Bahkan lebih transparan dan berpihak pada kaum miskin. Ini terbukti dengan diturunkannya QS Al ma’un dengan 7 ayat , yang isinya sarat dengan perhatiannya pada kaum miskin yang memerlukan uluran tangan. Ibadah ritual yang berefek pada ibadah sosial akan memiliki dampak terhadap pengurangan kemiskinan yang masih membelenggu di tanah air.

Berkaca dari spirit dua tokoh pendiri organisasi keagamaan besar di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan NU dengan simbol yang mendunia dan memberi spirit kemanfaatan , tidak disangsikan lagi bahwa kedua tokoh yaitu Muhammad Darwis yang kemudian dikenal dengan nama K.H. Ahmad dahlan dan  Hasyim Asyari , yang keduanya memiliki guru yang sama. Saat Muhammad Darwis berusia 16 tahun dan Hasyim asyhari dua tahun lebih muda. Darwis memanggil Hasyim dengan sebutan Adi Hasyim, sementara Hasyim memanggil Muhammad Darwis dengan panggilan Mas Darwis. Begitu mesranya hubungan kedua tokoh pembaharu tingkat Nasional tersebut, konon semasa mondok, keduanya sangat akrab dan tidur sekamar.

0 Komentar