Superhero

Kang Marbawi
0 Komentar

Dalam level ideologi, film-film yang diproduksi oleh Hollywood membawa ideologi feminisme, kapitalisme, liberalisme, demokrasi, kemerdekaan, kesetaraan, kerusakan lingkungan, hak asasi manusia, nasionalisme dan patriotisme serta ideologi lainnya.  Dan dunia terbius dengan sosok pahlawan dengan ukuran-ukurannya yang dibuat Marvel.

Walau ukuran superhero glamour Marvel, menyempitkan karakter kepahlawanan universale. Ukuran kepahlawanan dalam kaidah kearifan lokal kita adalah melindungi yang lemah, menjaga persaudaraan antar manusia, kebermanfaatan dan kebaikan laku lampah bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Konsisten dan komitmen memerjuangkan kemanusiaan dan keadilan serta taat konstitusi. Karakter sederhana, tegar jiwa dalam memerjuangkan kemanusiaan. Karakter yang mampu mampu mengatasi jurang pemisah dan mendobrak tembok penyekat antar sesama manusia. Karakter yang natural. Ukuran itu, tak dianggap sifat kepahlawanan ala Marvel yang serba hebat dan super.

Marvel Studios, dan sebangsanya mampu mewujudkan ideologi sebagai sesuatu yang nyata dan dipahami dengan bahasa masyarakat awam. Dalam konteks kreatifitas, industri film menjadi alat yang efektif untuk menginterpretasikan gagasan ideologi yang utopi menjadi sesuatu yang nyata. Sebab ideologi itu praksis, bukan utopi. Ideologi itu atman -jiwa, dari laku lampah untuk membangun politik -baca kebijakan, yang memerjuangkan keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat. Karena ideologi adalah praksis, maka ia menjadi moral publik dalam politik dan kebijakan.

Baca Juga:Kalau Hari Ini Pilpres yang Menang Ridwan KamilWabup Bahas Perbaikan Akses Jalan Cidomba – Suryacipta

Ideologi itu jalan hidup, seperti petunjuk arah, agar tak salah arah dan tetapnya tujuan. Ideologi adalah jalan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Ideologi adalah fighting spirit menghadapi onak duri yang merintangi jalan. Menuju cita-cita mewujudkan masyarakat yang adil dan Makmur. Pancasila membutuhkan interpretasi kreatif dan praksis agar tak menjadi utopi. Interpretasi Pancasila juga butuh daya imaginative seperti Marvel Studios dan segolongannya. (*)

OLEH: Kang Marbawi

 

Laman:

1 2
0 Komentar