OPINI  

Urgensi Assesmen Diagnostik dalam Pembelajaran

Urgensi Assesmen Diagnostik dalam Pembelajaran

Oleh :
Desi Suprihatiningsih (Guru di Lampung Timur)

Kurikulum merdeka yang sedang diimplementasikan memasukkan kegiatan assesemen dalam proses pembelajaran. Assesmen adalah suatu metode pengambilan data atau informasi yang merupakan hasil kinerja atau kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dengan berdasarkan kriteria atau tujuan pembelajaran. Kegiatan Assesmen yg diterapkan dalam kurikulum merdeka adalah Assesmen Formatif dan Assesmen Sumatif, Namun di dalam PMM (platform merdeka mengajar) kita juga menemukan istilah Assesmen Diagnostik. Lalu apakah

Assesmen Diagnostik itu? seberapa pentingkah Assesmen Diagnostik dalam pembelajaran? mari kita bahas untuk mengetahui lebih lanjut.

Assemen Diagnostik merupakan Assesmen yang dilakukan sebelum pembelajaran dmulai untuk mengetahui tingkat kemampuan atau karakteristik siswa, seperti kompentesi awal serta kekuatan dan kelemahan siswa dalam belajar, yang kemudian hasil diagnosis ini digunakan untuk membuat rancangan pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi siswa.

Karakteristik siswa yang beragam membuat guru harus bisa menentukan bagaimana rancangan pembelajaran yang cocok untuk masing-masing siswa. Maka sangat perlu dilakukan Assesmen Diagnostik untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam.

Assesmen Diagnostik akan memetakan siswa berdasarkan kriteria tertentu yang selanjutnya dikelompokkan berdasarkan kemampuan awal siswa misalnya kelompok siswa yang sudah paham, sedikit paham, atau belum paham sama sekali. Guru akan membuat rancangan kelompok siswa berdasarkan diagnosis tersebut sehingga kebutuhan siswa dalam belajar bisa terpenuhi.

Assesmen Diagnostik dibagi menjadi dua jenis, yaitu Assesmen Diagnostik Kognitif dan Assesmen Diagnostik Non-kognitif.

Assesmen Diagnostik Kognitif dilakukan untuk mengetahui capaian kompetensi awal siswa pada suatu mata pelajaran sebelum memulai topik yang baru. Hasil diagnosis tersebut digunakan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan rata-rata siswa dan memberikan pelajaran tambahan atau remidial untuk siswa yang memiliki kompetensi di bawah rata-rata. Tahapan dalam melaksanakan Assesmen Diagnostik Kognitif yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap penilaian, dan tahap tindak lanjut. Tahap persiapan, guru menyiapkan soal assesmen 2 soal dari materi sesuai kelasnya, 6 soal dari satu kelas di bawah kelasnya (semester 1 dan 2), dan 2 soal dari dua kelas di bawah kelasnya (semester 2), lalu guru menentukan waktu pelaksanaan assemen. Tahap pelaksanaan, siswa berikan soal dan dikerjakan di kelas. Tahap penilaian, guru memetakan siswa berdasarkan kriteria kompetensi. Pada tahapan tindak lanjut, guru merancang pembelajaran sesuai dengan pemetaan kompetensi siswa. Siswa dengan rata-rata kelas, akan mengikuti pelajaran dengan materi sesuai dengan kelasnya. Siswa dengan kemampuan di atas rata-rata akan diberikan pengayaan. Jika terdapat kriteria siswa di bawah rata-rata, siswa diberikan remidial atau tambahan pelajaran atau dengan mengikuti pelajaran pada guru di kelas di bawah kelasnya.

Assesmen Diagnostik Non-kognitif dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi siswa meliputi psikologis maupun emosional siswa, aktivitas belajar siswa, dan kondisi lingkungan siswa yang akan menunjang keefektifan belajar siswa. Guru harus mengetahui apa saja kesulitan yang dihadapi siswa baik secara fisik dan mental terutama jika itu mempengaruhi kualitas belajar siswa. Guru harus memikirkan langkah-langkah baik yang harus ditempuh untuk mengatasi kesulitan-kesulitan siswa yang beragam.

Adapun langkah-langkah dalam melaksanakan Assesmen Diagnostik Non-kognitif yaitu sebagai berikut : 1.Menyiapkan gambar beberapa ekspresi emosi, 2.membuat pertanyaan kunci yang dapat mengungkapkan perasaan, aktivitas, dan harapan siswa.

3.memberikan gambar beberapa ekspresi emosi kepada siswa, 4. meminta siswa menjawab pertanyaan kunci dengan bercerita secara lisan, menulis, atau menggambar serta mengekpresikan perasaannya dengan gambar ekspresi emosi, 5. mengidentifikasi siswa dengan emosi negatif dan mengajak siswa tersebut untuk berdiskusi dan 6.menentukan tindak lanjut untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitannya serta melibatkan orangtua jika diperlukan.

Assesmen diagnostik sangat penting dilakukan karena berfungsi : 1.dapat mengetahui kebutuhan belajar siswa, 2.mengidentifikasi kesulitan siswa dalam menciptakan belajar yg efektif, 3.membantu menciptakan rancangan belajar siswa yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa dan 4.menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Apabila Assesmen Diagnostik dilakukan dengan baik dan maksimal, penerapan kurikulum merdeka juga akan terlaksana dengan baik. pembelajaran di kelas akan menjadi lebih berkualitas dan bermakna.

Pembelajaran dalam kontek kurikulum merdeka memang sangat terstruktur sehingga guru mendapatkan beban yang cukup berat, akan tetapi memiliki makna yang berarti dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa untuk mencapai output pembelajaran yang bagus.