Bulan Muharram: Bulan Bermuhasabah dan Berhijrah

Bulan Muharram: Bulan Bermuhasabah dan Berhijrah
0 Komentar

Oleh
1.Drs.H.Priyono,MSi (Dosen pada Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
2. Suparto, S.Pd. MM. ( Guru Geografi SMA Negeri 1 Way Lima Kabupaten Pesawaran,Lampung )

BEKAL

Hanya ada hari ini dan hari esok

Hari ini adalah kehidupan di alam fana

Heri esok kelak kita hidup di alam akherat yang kekal abadi

Bersiaplah dengan bekal yang cukup tuk hari esok

Dengan taqwa karena taqwa adalah sebaik baiknya bekal

Bermuhasabah dan berhijrahlah

Hari telah berganti , bulan berganti bulan, tak terasa umat Islam telah memasuki bulan yang istimewa, bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah/Islam, yaitu bulan Muharom, yang dalam penanggalan Jawa disebut sebagai Sasi Sura, tepatnya hari Rabu tgl 19 juli 2023 pada penanggalan masehi.

Baca Juga:Purwakarta Surplus Pangan, Diprediksi Capai 197.720 Ton GKGPolres Karawang Tangkap Tiga Pelaku Pembacokan, Tersangka Dijerat Ancaman 15 Tahun Penjara

Bulan yang penuh dengan peristiwa bersejarah dan heroik dalam perspektif Islam untuk menegakkan kebenaran. Setiap peristiwa memiliki makna yang tersirat, demikian juga tahun hijriyah dan masehi yang berbeda dalam menentukannya, yang penanggalan hijriyah berdasarkan perputaran bulan mengelilingi bumi dan satunya berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari. Tgl 1 kalender masehi berdasarkan lahirnya Nabi Isa dan tgl 1 kalender hijriyah mengacu pada hijrahnya Nabi Muhammad dari dua kota besar yaitu Mekah Al Mukaromah menuju Madinah Al Munawwarah yang dirahmati Allah setelah mendapat mandat dari Allah swt. Sejarah penetapan tahun 1 Maharam atau Tahun 1 hijriyah oleh Umar Bin Khatab berdasarkan peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekah ke Medinah. Tak lama lagi umat islam akan menyambut tahun baru hijriyah 1445 yang tinggal menghitung jam dan sudah diblok merah dalam kalender tahun masehi.

Merayakan pergantian tahun menjadi hal yang biasa dalam kehidupan di masyarakat Ritual khusus tahunan ini tidak hanya dilakukan umat Islam,dalam era dengan doktrinal tunggal modernisme dan gempuran kemajuan digital, perayaan semacam ini masih bergelut dengan ritual umat-umat di masyarkat. Terdapat hal renungan eksploratif, baik dalam rajutan historis, nilai sosiologis, dan dasar teologis yang hanya bisa diekspresikan lewat kegembiraan dan kebersamaan. Secara sosiologis dan peribadatan, perayaan tahun Hijriyah manjadi ritual peribadatan kemanusiaan.

0 Komentar