Budidaya Ikan Lele untuk Ketahanan Pangan, Desa Tenjolaya Kabupaten Bandung Alokasikan 20 Persen Dana

DANA DESA: Pemdes Tenjolaya mengalokasikan 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan melalui ternak ikan lele. JABAR EKSPRES
DANA DESA: Pemdes Tenjolaya mengalokasikan 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan melalui ternak ikan lele. JABAR EKSPRES

KABUPATEN BANDUNG-Desa Tenjolaya, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung mengalokasikan 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan melalui ternak ikan lele. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Desa (Sekdes) Tenjolaya, Eman Sulaiman. Dia berujar bahwa 20 persen dana desa itu sudah dianggarkan untuk budi daya ikan lele dan realisasinya tengah berlangsung.

Diketahui sebelumnya, Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2021 mengharuskan setiap desa menggunakan 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan, binatang dan nabati. Perpres Nomor 104 Tahun 2021 itu memuat tentang rincian anggaran pendapatan dan belanja negara dengan tahun anggaran 2022.

“Sudah berjalan, alhamdulillah. Masih proses pembesaran (ikan lele) jadi belum panen,” kata Eman kepada Jabar Ekspres saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Dia menjelaskan bahwa pertimbangan mengucurkan 20 persen dana desa untuk budi daya ikan lele karena pengetahuan mengembang biakkan serta pemasarannya sudah dimiliki Desa Tenjolaya. “Kebetulan pak Kades (Tenjolaya, Mamad) memang sebelum menjabat sudah lama beternak ikan lele dan sudah banyak warga yang ikut beternak juga,” ujarnya.

Karenanya, Eman melanjutkan, perputaran uang dengan 20 persen dana desa dipercaya dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekaligus perekonomian warga.

“Ternak ikan lele dikelola melalui kelompok tani di Desa Tenjolaya, dengan terus dikasih arahan dan edukasi oleh pak Kades tentang ternak ikan lele,” ucapnya.

Dia menyampaikan, budi daya ikan lele yang dikelola Desa Tenjolaya melalui pemberdayaan masyarakat dengan 20 persen dana desa itu mulai dari pembibitan hingga penggemukan.

“Nanti dijualnya setelah dibesarkan untuk target pasar konsumsi. Jadi tempat-tempat makan yang mengelola olahan ikan lele target pasarnya,”imbuhnya.

“Sementara masih ke penampung yang sudah lama bekerjasama, mereka membeli dengan harga lumayan menguntungkan, hasilnya keuntungan bisa meningkatkan perekonomian warga dan dana kas desa untuk kepentingan lain,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, Eman mengaku, kendala sementara dalam budi daya ikan lele adalah kebutuhan pangan untuk ternak.

“Kita masih lakukan uji coba untuk membuat pakan secara mandiri. Selain meminimalisir budgeting juga berpeluang menambah penghasilan,” tuturnya.

Dia mengatakan, saat ini kolam ternak ikan lele yang sudah aktif dikelola Desa Tenjolaya baru sebanyak 34 kolam.

“Itu yang pembibitan, belum yang penggemukannya. Rencananya bisa bekerjasama juga dengan warung-warung pecel lele, minimal yang ada di area Desa (Tenjolaya),” pungkasnya.

“Harapan saya budi daya ikan lele ini bisa terus berkembang, kolamnya semakin banyak dan warga makin banyak juga ikut mengelola supaya ada pemberdayaan. Kemudian pemasaran semakin luas agar meningkatkan ekonomi,” tutupnya.(je/sep)